RADARBANYUWANGI.ID – Nasib tragis menimpa Syamsuri (70), warga Dusun Wadungdolah, Desa Kaligondo, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh angkut gabah (manol) itu ditemukan meninggal dunia setelah tercebur ke sungai di area persawahan, Minggu (29/3).
Peristiwa nahas tersebut diduga terjadi akibat kondisi jalan persawahan yang licin dan berkontur curam.
Saat itu, korban tengah mengangkut gabah hasil panen menggunakan sepeda motor menuju lokasi pengumpulan.
Kanit Reskrim Polsek Genteng, Ipda Sujarwadi, menjelaskan bahwa korban sudah mulai bekerja sejak pagi hari.
“Korban datang sekitar pukul 06.00 WIB dan langsung mengangkut gabah dari sawah milik tetangganya untuk dibawa ke truk,” ujarnya.
Tergelincir di Jalan Licin
Insiden terjadi ketika Syamsuri melintasi jalan pematang sawah yang berlumpur. Diduga, korban kehilangan kendali saat melaju dengan sepeda motor yang membawa muatan gabah.
Akibatnya, korban tergelincir dan terjatuh ke sungai di dekat lokasi persawahan bersama kendaraan dan muatan yang dibawanya.
“Menurut keterangan saksi, korban gagal mengendalikan sepeda motor dan langsung jatuh ke sungai. Rekan korban yang mengetahui kejadian itu langsung memanggil pekerja lain untuk membantu,” jelas Sujarwadi.
Ditemukan Setelah Tiga Jam Pencarian
Upaya pencarian segera dilakukan oleh rekan-rekan korban dan warga sekitar. Namun, saat pertama kali dilakukan penyisiran, mereka hanya menemukan sepeda motor milik korban.
Tubuh Syamsuri baru berhasil ditemukan sekitar pukul 09.00 WIB. Proses evakuasi berlangsung sekitar 20 menit sebelum akhirnya korban berhasil diangkat ke permukaan.
“Karena cukup lama tenggelam, korban ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dunia,” terang Sujarwadi.
Ditemukan Luka Benturan di Dahi
Jenazah korban kemudian dibawa ke rumah duka untuk dilakukan pemeriksaan oleh tenaga medis. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan luka benjol di bagian dahi korban.
“Luka tersebut kemungkinan akibat benturan saat korban terjatuh ke sungai,” tambahnya.
Keluarga Terima sebagai Musibah
Pihak keluarga korban menyatakan menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan tidak menghendaki dilakukan autopsi.
“Keluarga sudah menandatangani surat pernyataan penolakan autopsi. Korban juga telah dimakamkan pada siang harinya,” pungkas Sujarwadi.
Peristiwa ini menjadi pengingat akan tingginya risiko kerja di sektor pertanian, terutama bagi para buruh angkut yang harus melintasi medan berat dengan kondisi jalan yang licin dan berbahaya. (sas/sgt)
Editor : Ali Sodiqin