RADARBANYUWANGI.ID – Perayaan Hari Raya Idul Fitri di Desa Bunder memiliki warna tersendiri. Pada hari kedua Lebaran atau 2 Syawal, warga setempat menggelar tradisi unik yang dikenal sebagai “Lebaran Makam”.
Tradisi ini dilakukan dengan berkumpul di area tempat pemakaman umum (TPU) desa untuk berziarah, memanjatkan doa, hingga menggelar selamatan bersama keluarga di dekat pusara leluhur.
Kegiatan tersebut telah berlangsung secara turun-temurun dan hingga kini tetap dijaga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Ziarah dan Doa Bersama
Sejak pagi hari, warga Desa Bunder tampak berbondong-bondong mendatangi makam keluarga, orang tua, hingga sesepuh desa. Mereka membawa bunga, air, serta perlengkapan doa untuk mendoakan arwah leluhur.
Suasana khidmat menyelimuti area pemakaman saat doa-doa dipanjatkan secara bersama-sama. Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur setelah menjalani ibadah puasa selama Ramadan sekaligus merayakan kemenangan di Hari Raya Idul Fitri.
Selain itu, Lebaran Makam juga dimaknai sebagai wujud penghormatan kepada para pendahulu yang telah berjasa bagi keluarga maupun desa.
Ditutup Selamatan di Area Makam
Keunikan lain dari tradisi ini adalah adanya kegiatan selamatan yang dilakukan setelah ziarah. Warga membawa berbagai hidangan dari rumah, seperti tumpeng lengkap dengan ketupat dan lauk-pauk.
Makanan tersebut kemudian disantap bersama keluarga di sekitar makam, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat di tengah area pemakaman.
Tradisi makan bersama ini tidak hanya menjadi simbol syukur, tetapi juga mempererat hubungan kekeluargaan antarwarga.
Jadi Momen Penting bagi Perantau
Bagi warga Desa Bunder yang merantau ke berbagai daerah seperti Papua, Bali, Kalimantan, Surabaya, Lombok hingga Jakarta, mengikuti tradisi Lebaran Makam menjadi agenda wajib setiap tahun.
Momen mudik terasa belum lengkap tanpa hadir dan ikut serta dalam tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial mereka.
Tidak heran jika setiap tahun, jumlah warga yang hadir di area makam meningkat signifikan, terutama saat musim Lebaran.
Pererat Silaturahmi Warga
Kepala Desa Bunder, Samirin, mengatakan bahwa tradisi Lebaran Makam bukan sekadar ziarah, tetapi juga menjadi sarana mempererat kebersamaan.
“Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang terus dilestarikan. Di sini, warga tidak hanya berdoa, tetapi juga bersilaturahmi, saling berjabat tangan dan bermaaf-maafan,” ujarnya.
Menurutnya, suasana kebersamaan sangat terasa saat warga berkumpul di area makam. Mereka datang bersama keluarga, bercengkerama, hingga saling bertukar cerita setelah lama tidak bertemu.
Suasana Semarak dengan Nuansa Tradisional
Selain doa dan selamatan, suasana Lebaran Makam juga semakin semarak dengan aktivitas warga, termasuk anak-anak yang bermain dan menyalakan petasan di sekitar area.
“Tidak hanya doa bersama, kegiatan ini juga diwarnai dengan penyalaan petasan oleh anak-anak maupun warga. Meski sederhana, hal itu menambah semarak suasana Lebaran di desa,” tambah Samirin.
Warisan Budaya yang Terus Dijaga
Tradisi Lebaran Makam di Desa Bunder menjadi salah satu kekayaan budaya lokal Banyuwangi yang masih lestari di tengah modernisasi.
Keberadaan tradisi ini menunjukkan kuatnya nilai kebersamaan, penghormatan kepada leluhur, serta semangat gotong royong masyarakat desa.
Dengan terus dilestarikan dari generasi ke generasi, tradisi ini diharapkan tetap menjadi bagian penting dari identitas budaya Banyuwangi di masa mendatang. (rio/aif)
Editor : Ali Sodiqin