RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah keterbatasan jumlah juru bahasa isyarat di Banyuwangi, sosok Alfian (32) hadir sebagai jembatan komunikasi bagi teman-teman tuli agar tetap dapat berinteraksi di ruang publik.
Dedikasinya sebagai relawan sekaligus pendidik menjadi bagian penting dalam mendorong inklusivitas di Bumi Blambangan.
Warga Kelurahan Singonegaran itu dikenal aktif mendampingi penyandang disabilitas rungu dalam berbagai kegiatan.
Mulai dari forum edukasi hingga kegiatan keagamaan, Alfian konsisten menghadirkan akses komunikasi bagi komunitas tuli yang selama ini kerap terpinggirkan.
Minimnya jumlah juru bahasa isyarat di Banyuwangi menjadi salah satu tantangan besar. Dalam berbagai kegiatan, kehadiran penerjemah sering kali terbatas, bahkan bisa dihitung dengan jari.
Kondisi tersebut yang kemudian menggerakkan hati Alfian untuk terlibat lebih jauh. Berbekal pengalaman sebagai relawan sejak masa kuliah, ia kini aktif menjadi penerjemah bahasa isyarat sekaligus guru bagi siswa tunarungu.
Alfian saat ini mengajar di SDLB C Negeri Banyuwangi. Ketertarikannya pada bahasa isyarat bermula pada 2015, saat ia menempuh pendidikan di Universitas Negeri Malang dengan jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB).
“Dari perkuliahan ada pelajaran tentang juru bahasa isyarat. Dari situ saya mulai tertarik dan menekuni,” ujarnya.
Sepulang dari Malang, Alfian tak hanya mengajar, tetapi juga aktif berinteraksi dengan komunitas tuli di Banyuwangi.
Ia terlibat dalam berbagai inisiatif sosial yang bertujuan memperkuat komunikasi dan solidaritas antaranggota komunitas.
Beberapa wadah yang turut ia gagas antara lain Gergatin Banyuwangi, Rumah Al-Qur’an Sahabat Tuli Banyuwangi, serta Komunitas Tuli Banyuwangi (Taliwangi).
Melalui komunitas tersebut, para penyandang disabilitas rungu memiliki ruang untuk belajar, berinteraksi, dan berkembang.
Tak hanya itu, Alfian juga rutin menjadi relawan juru bahasa isyarat dalam berbagai kegiatan publik.
Salah satunya saat mendampingi pengajian di Masjid Al-Fauz Banyuwangi yang digelar setiap Kamis selama bulan Ramadan.
“Kegiatan mengaji berjalan saat Ramadan setiap hari Kamis yang ada translator bahasa isyarat dan dihadiri teman-teman tuli,” jelasnya.
Menurut Alfian, jumlah juru bahasa isyarat di Banyuwangi masih sangat terbatas. Dalam satu kegiatan besar, biasanya hanya tersedia sekitar empat hingga enam penerjemah.
“Di Banyuwangi, juru bahasa isyarat masih sangat sedikit. Kalau ada kegiatan untuk teman-teman tuli, biasanya hanya sekitar 4 sampai 6 orang penerjemah yang hadir,” ungkapnya.
Ia juga menyebut, hingga saat ini belum ada komunitas khusus yang mewadahi para juru bahasa isyarat di Banyuwangi.
Meski sempat ada upaya untuk membentuk forum tersebut, namun belum terealisasi secara optimal.
Kendati demikian, Alfian melihat adanya perkembangan positif dalam upaya mewujudkan inklusivitas di Banyuwangi.
Pemerintah daerah melalui Dinas Sosial mulai menyediakan ruang bagi penyandang disabilitas, salah satunya melalui fasilitas shelter yang digunakan sebagai tempat berkumpul dan belajar secara rutin setiap minggu.
“Sekarang sudah mulai inklusi. Teman-teman tuli sudah difasilitasi untuk berkumpul dan belajar,” katanya.
Ke depan, Alfian berharap Banyuwangi dapat menjadi daerah yang semakin ramah bagi penyandang disabilitas, khususnya tunarungu.
Ia ingin akses komunikasi di ruang publik semakin terbuka, sehingga tidak ada lagi batasan bagi mereka untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial.
“Harapannya Banyuwangi bisa menjadi tempat yang benar-benar inklusif, sehingga teman-teman tuli bisa lebih mudah berbaur dan berkomunikasi dengan masyarakat,” pungkasnya. (ray/aif)
Editor : Ali Sodiqin