RADARBANYUWANGI.ID - Warga di sekitar aliran Sungai Judeg, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, Banyuwangi, digegerkan dengan penemuan jenazah bayi yang mengapung di aliran sungai pada beberapa waktu lalu.
Penemuan tersebut memicu keprihatinan sekaligus kemarahan warga setempat atas dugaan aksi pembuangan bayi yang tidak manusiawi.
Berdasarkan keterangan dari perangkat desa, jenazah bayi tersebut diduga tidak dibuang jauh dari lokasi penemuan.
Perkiraan sementara, jasad bayi malang itu dibuang sekitar 100 meter dari titik ditemukan, tepatnya di aliran Sungai Judeg wilayah Desa Rejoagung, Kecamatan Srono.
Kepala Dusun Sumbergroto, Desa Rejoagung, Imam Hadi Nurkholis, menjelaskan bahwa di sekitar lokasi terdapat dua grojogan pintu air.
Jenazah bayi ditemukan berada di grojogan kedua, yang menjadi salah satu titik arus air berputar.
“Kalau melihat lokasinya, kemungkinan jenazah bayi itu dibuang tidak jauh dari lokasi ditemukan, sekitar 100 meter,” ujar Imam saat dikonfirmasi.
Kondisi Sungai Perkuat Dugaan Lokasi Pembuangan
Imam mengungkapkan, saat pertama kali ditemukan warga, kondisi jenazah bayi dalam posisi terapung di bawah grojogan dan berputar mengikuti arus air. Hal ini menjadi indikasi kuat bahwa jasad tersebut tidak terbawa arus dari lokasi yang jauh.
“Kondisi aliran sungai normal dalam dua hingga tiga hari sebelumnya. Tidak ada banjir atau arus deras, jadi kecil kemungkinan terbawa jauh,” jelasnya.
Dengan kondisi tersebut, dugaan sementara mengarah pada lokasi pembuangan yang relatif dekat dari titik penemuan. Hal ini juga diperkuat oleh karakteristik aliran sungai yang stabil dan tidak mengalami peningkatan debit air.
Diduga Pelaku Bukan Warga Sekitar
Lebih lanjut, Imam menyebutkan bahwa kemungkinan besar pelaku pembuangan bayi bukan berasal dari warga sekitar Desa Rejoagung. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa tidak ada laporan warga setempat yang baru saja melahirkan dalam waktu dekat.
“Di sini tidak ada warga yang baru melahirkan. Kemungkinan pelaku dari luar daerah,” ungkapnya.
Selain itu, jenazah bayi ditemukan dalam kondisi sudah meninggal dan terbungkus plastik kresek. Dugaan kuat, pembuangan dilakukan pada malam hari untuk menghindari perhatian warga.
Lokasi sungai yang berada di dekat jalan raya juga menjadi faktor yang mempersulit identifikasi pelaku. Aktivitas kendaraan yang lalu lalang membuat aksi tersebut bisa saja luput dari perhatian.
“Kalau malam hari, orang lewat mungkin dikira buang sampah. Karena dibungkus kresek juga,” tambahnya.
Warga Geram dan Kecewa
Peristiwa ini memicu kemarahan warga sekitar. Selain merasa prihatin terhadap nasib bayi tersebut, warga juga menyayangkan tindakan pelaku yang dianggap tidak memiliki hati nurani.
Menurut Imam, banyak warga di Desa Rejoagung yang justru mendambakan kehadiran anak, namun belum dikaruniai keturunan. Hal ini semakin menambah kekecewaan atas tindakan pembuangan bayi tersebut.
“Warga sangat geram. Di sisi lain, banyak yang ingin punya anak tapi belum diberi. Ini malah dibuang begitu saja,” pungkasnya.
Penyelidikan Masih Berlanjut
Hingga kini, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku pembuangan bayi tersebut. Aparat diharapkan dapat segera menemukan titik terang guna memberikan keadilan bagi korban sekaligus efek jera bagi pelaku.
Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya edukasi serta perhatian terhadap isu sosial, terutama terkait perlindungan anak dan tanggung jawab orang tua. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin