RADARBANYUWANGI.ID – Antrean kendaraan yang hampir selalu terjadi di kawasan Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk setiap musim mudik Lebaran maupun saat libur panjang kembali menjadi sorotan.
Kondisi tersebut dinilai tidak bisa lagi hanya diatasi dengan penambahan kapal, melainkan membutuhkan solusi jangka panjang berupa penambahan dermaga.
Hal itu disampaikan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) yang menilai kebutuhan tambahan dermaga di kedua pelabuhan tersebut sudah sangat mendesak.
Ketua Bidang Usaha dan Pentarifan DPP Gapasdap Rakhmatika Ardianto mengatakan potensi kemacetan sebenarnya sudah bisa diprediksi sejak awal, terutama di sisi Pelabuhan Gilimanuk saat arus mudik Lebaran.
“Memang sudah kami perkirakan akan terjadi kemacetan di Gilimanuk saat arus mudik,” ujarnya saat meninjau pelaksanaan Angkutan Lebaran (Angleb) 2026 di lintasan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk.
Kapasitas Dermaga Masih Terbatas
Rakhmatika menjelaskan, saat ini lintasan penyeberangan penghubung Pulau Jawa dan Bali tersebut memiliki tujuh pasang dermaga yang beroperasi.
Dermaga tersebut terdiri dari:
- Empat dermaga jenis Moveable Bridge (MB)
- Tiga dermaga jenis Landing Craft Mechanized (LCM)
Setiap dermaga memiliki kapasitas maksimal untuk melayani empat kapal secara bergantian.
Dengan kondisi tersebut, dalam satu waktu hanya sekitar 28 kapal yang bisa dioperasikan secara bersamaan.
Padahal jumlah kapal yang tersedia di lintasan Ketapang–Gilimanuk mencapai sekitar 55 unit.
“Artinya, kapal yang bisa beroperasi hanya sekitar 50 persen dari total kapal yang ada. Sisanya harus menunggu giliran atau off,” jelasnya.
Kapal Banyak, Tapi Dermaga Terbatas
Menurut Rakhmatika, kondisi tersebut menunjukkan bahwa jumlah armada kapal sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk melayani kebutuhan penyeberangan.
Namun keterbatasan jumlah dermaga membuat operasional kapal tidak dapat dimaksimalkan.
Akibatnya, meskipun armada tersedia cukup banyak, kapasitas angkut penyeberangan tetap terbatas karena kapal harus bergantian sandar.
“Jadi sebenarnya kapal sudah mencukupi, tetapi dermaganya yang kurang,” ujarnya.
Usulkan Penambahan Tiga Dermaga
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Gapasdap meminta pemerintah bersama DPR RI mempertimbangkan penambahan dermaga di kedua pelabuhan tersebut.
Idealnya, masing-masing pelabuhan mendapatkan tambahan minimal tiga dermaga.
Dengan tambahan tersebut, jumlah dermaga yang ada di lintasan Ketapang–Gilimanuk akan meningkat menjadi 10 pasang dermaga.
Jika rencana itu terealisasi, kapasitas kapal yang beroperasi diperkirakan bisa bertambah sekitar 12 unit kapal.
Kapal tambahan tersebut dapat dioptimalkan dari armada yang selama ini tidak beroperasi karena keterbatasan fasilitas sandar.
“Penambahan 12 kapal itu bisa meningkatkan daya angkut sekitar 40 persen dari kapasitas yang ada saat ini,” kata Rakhmatika.
Penambahan Kapal Saat Mudik Dinilai Kurang Efektif
Selama masa Angkutan Lebaran 2026, jumlah kapal yang dioperasikan di lintasan Ketapang–Gilimanuk sebenarnya sempat ditambah.
Jumlah kapal meningkat dari kondisi normal sekitar 28 kapal menjadi 35 kapal.
Namun penambahan tujuh kapal tersebut dinilai belum efektif dalam mengatasi kepadatan kendaraan.
Rakhmatika menjelaskan bahwa setiap dermaga memiliki batas maksimal jumlah kapal yang dapat dilayani dalam satu waktu.
Jika dipaksakan melebihi kapasitas, justru dapat mengganggu kelancaran pelayanan penyeberangan.
“Setiap dermaga punya kapasitas maksimal. Kalau dipaksakan semua beroperasi di situ, akhirnya jadwalnya rusak,” jelasnya.
Selain mengganggu jadwal pelayaran, kondisi tersebut juga berpotensi memperlambat proses bongkar muat kendaraan.
Akses Tol Diprediksi Picu Lonjakan Kendaraan
Gapasdap juga mengingatkan bahwa kebutuhan penambahan dermaga harus mulai direncanakan sejak sekarang.
Hal ini berkaitan dengan rencana pembangunan jalan tol Surabaya–Banyuwangi yang ke depan akan mempermudah akses kendaraan menuju wilayah ujung timur Pulau Jawa tersebut.
Jika jalan tol tersebut sudah tersambung sepenuhnya, jumlah kendaraan yang menuju Bali melalui jalur darat dipastikan akan meningkat secara signifikan.
Selain untuk kebutuhan mudik, jalur ini juga banyak digunakan wisatawan yang ingin berlibur ke Pulau Bali.
Karena itu, kesiapan infrastruktur penyeberangan harus dipikirkan sejak dini agar tidak terjadi penumpukan kendaraan yang lebih parah di masa depan.
“Kalau tidak direncanakan dari sekarang bisa terlambat. Apalagi banyak masyarakat yang menggunakan jalur ini untuk wisata ke Bali. Jangan sampai kita tidak mampu menampung,” tandasnya.
Dengan perencanaan yang matang dan penambahan fasilitas pelabuhan, diharapkan lintasan penyeberangan Ketapang–Gilimanuk dapat melayani mobilitas masyarakat secara lebih optimal, terutama saat musim mudik Lebaran maupun periode libur panjang. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin