Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Tradisi Santunan Sejak 1974 Terus Terjaga, Pemdes Gentengkulon Banyuwangi Berbagi untuk Anak Yatim dan Duafa Saat Ramadan

Salis Ali Muhyidin • Senin, 16 Maret 2026 | 09:30 WIB

SANTUNAN: Kades Supandi bersama Camat Genteng Satrio (kiri) menyerahkan santunan kepada duafa di Kantor Desa Gentengkulon, Kecamatan Genteng, Selasa (10/3).
SANTUNAN: Kades Supandi bersama Camat Genteng Satrio (kiri) menyerahkan santunan kepada duafa di Kantor Desa Gentengkulon, Kecamatan Genteng, Selasa (10/3).

RADARBANYUWANGI.ID – Beragam cara dapat dilakukan untuk menjaga kebersamaan dan memperkuat soliditas antarwarga.

Salah satunya dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Semangat itulah yang terus dijaga oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Gentengkulon, Kecamatan Genteng, Banyuwangi melalui tradisi santunan bagi anak yatim dan kaum duafa.

Tradisi sosial tersebut bahkan telah berlangsung puluhan tahun dan tetap terjaga hingga sekarang.

Meski jabatan kepala desa telah beberapa kali berganti, kegiatan berbagi kepada warga kurang mampu tersebut tetap menjadi agenda rutin setiap tahun, khususnya saat bulan suci Ramadan.

Photo
Photo

Pada Ramadan tahun ini, Pemdes Gentengkulon kembali menggelar kegiatan santunan kepada puluhan anak yatim dan kaum duafa. Kegiatan tersebut berlangsung di kantor desa setempat pada Selasa (10/3).

Acara tersebut tidak hanya menjadi momen berbagi, tetapi juga menjadi ajang mempererat tali persaudaraan antarwarga desa.

Tradisi Berbagi Sejak 1974

Kepala Desa Gentengkulon Supandi mengatakan bahwa santunan kepada anak yatim dan duafa merupakan tradisi lama yang sudah berjalan sejak tahun 1974.

Selama lebih dari empat dekade, kegiatan sosial tersebut tetap dipertahankan oleh pemerintah desa bersama masyarakat.

Menurut Supandi, tradisi ini memiliki makna yang sangat penting bagi warga desa karena menjadi simbol kepedulian sosial dan kebersamaan.

“Tujuannya simpel, kami ingin melihat anak-anak yatim bahagia. Karena itu, tradisi ini rutin kami agendakan setiap tahun,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberlanjutan kegiatan tersebut menunjukkan kuatnya nilai gotong royong dan solidaritas sosial di tengah masyarakat Desa Gentengkulon.

Warga Kompak Iuran Setiap Bulan

Menariknya, kegiatan santunan tersebut tidak sepenuhnya bersumber dari anggaran pemerintah desa. Sebagian besar dana justru berasal dari kontribusi masyarakat yang dikumpulkan secara swadaya.

Supandi menjelaskan, warga desa secara rutin memberikan iuran setiap bulan. Dana yang terkumpul kemudian disalurkan untuk kegiatan sosial, termasuk santunan kepada anak yatim dan duafa.

“Setiap bulan warga iuran, sebulan bisa mencapai Rp 10 juta. Dana ini kemudian disalurkan setiap dua setengah bulan sekali dan juga menjelang Lebaran,” terangnya.

Iuran tersebut tidak hanya berasal dari masyarakat umum, tetapi juga dari kalangan pengusaha lokal yang turut berpartisipasi dalam kegiatan sosial tersebut.

Hal ini menjadi bukti kuatnya semangat kebersamaan masyarakat Gentengkulon dalam membantu sesama.

Santunan untuk Semua Anak Tanpa Memandang Agama

Yang menarik, santunan yang diberikan tidak hanya diperuntukkan bagi anak-anak beragama Islam.

Supandi menegaskan bahwa nilai toleransi dan kerukunan antarumat beragama juga menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut.

Karena itu, anak-anak dari berbagai latar belakang agama juga turut menerima bantuan.

“Ada juga anak-anak nonmuslim yang ikut mendapatkan santunan. Kami menjunjung tinggi kerukunan umat beragama,” paparnya.

Ia berharap bantuan tersebut dapat membantu meringankan beban keluarga sekaligus memberikan semangat bagi anak-anak untuk terus belajar dan meraih masa depan yang lebih baik.

Dikelola Yayasan Al Ikhlas

Pengelolaan dana santunan dilakukan oleh sebuah lembaga sosial di desa tersebut, yakni Yayasan Amal Al Ikhlas.

Yayasan tersebut juga telah berdiri sejak tahun 1974 dan hingga kini masih aktif menjalankan berbagai kegiatan sosial bagi masyarakat.

Supandi menilai keberadaan yayasan tersebut sangat membantu dalam memastikan program santunan berjalan secara berkelanjutan.

Di tengah berbagai keterbatasan anggaran pemerintah saat ini, kepedulian masyarakat menjadi kekuatan utama dalam menjaga tradisi berbagi tersebut.

“Selain tujuan sosial tadi, secara spiritual kami juga ingin meraih berkah dari kegiatan ini,” ujarnya.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat membawa keberkahan bagi seluruh warga Desa Gentengkulon.

“Semoga warga desa kami diberi kesehatan dan kesejahteraan. Kami ingin meniru sedikit dari kemuliaan Nabi Muhammad SAW,” tuturnya.

Sekaligus Lokasi Safari Ramadan

Selain kegiatan santunan, kantor Desa Gentengkulon juga menjadi tuan rumah kegiatan Safari Ramadan yang digelar oleh Forum Pimpinan Kecamatan (Forpimka) Genteng.

Kegiatan tersebut dimanfaatkan sebagai momentum untuk mempererat sinergi antara pemerintah desa, unsur kecamatan, serta berbagai elemen masyarakat.

Menurut Supandi, kegiatan Safari Ramadan tidak hanya bersifat seremonial semata.

Lebih dari itu, acara tersebut menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi dan koordinasi antarinstansi dalam mendukung pembangunan di wilayah Kecamatan Genteng.

“Kebetulan juga menjadi lokasi Safari Ramadan, ini kita manfaatkan sebaik-baiknya untuk berkoordinasi,” tandasnya.

Melalui berbagai kegiatan sosial dan kebersamaan tersebut, Pemdes Gentengkulon berharap nilai gotong royong dan solidaritas warga dapat terus terjaga serta menjadi contoh bagi daerah lain. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#santunan duafa #Pemdes Gentengkulon Banyuwangi #ramadan #Santunan anak yatim