RADARBANYUWANGI.ID - Arus mudik Lebaran 2026 yang meninggalkan Pulau Bali menuju Jawa mengalami lonjakan signifikan pada Minggu (15/3/2026).
Antrean kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, bahkan mencapai sekitar 32 kilometer hingga memasuki wilayah Kota Negara.
Kemacetan panjang tersebut terjadi akibat tingginya volume kendaraan yang datang secara bersamaan di jalur menuju pelabuhan.
Kondisi ini diperkirakan sebagai puncak arus mudik Lebaran 1447 Hijriah bagi pemudik yang menyeberang dari Bali menuju Jawa.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean kendaraan sudah memanjang sejak pagi hari dan didominasi mobil pribadi, bus, serta truk pengangkut barang.
Antrean Kendaraan Mengular hingga Kota Negara
Berdasarkan pantauan di wilayah Kecamatan Negara sekitar pukul 10.00 WITA, antrean kendaraan sudah mencapai depan Polsek Negara dan terus memanjang ke arah timur.
Bahkan, kemacetan terpantau hingga Jalan Udayana di Kota Negara.
Situasi tersebut membuat banyak kendaraan nyaris tidak bergerak selama berjam-jam. Kemacetan juga dipicu oleh kendaraan yang datang secara bersamaan menuju pelabuhan.
Selain itu, masih terlihat beberapa truk sumbu tiga yang melintas meskipun sudah ada pembatasan sesuai Surat Keputusan Bersama (SKB) terkait pengaturan kendaraan selama arus mudik.
Kehadiran kendaraan besar tersebut diduga turut memperparah kondisi lalu lintas di jalur menuju pelabuhan.
Pemudik Mengeluh Terjebak Macet Berjam-Jam
Sejumlah pemudik yang terjebak dalam antrean panjang mengaku frustrasi karena kendaraan hampir tidak bergerak.
Heru (36), pemudik asal Surabaya yang hendak pulang kampung ke Jawa Timur, mengaku sudah terjebak kemacetan sejak memasuki wilayah Jembrana.
Ia berangkat dari Tabanan sekitar pukul 07.00 WITA menggunakan bus, namun sejak pukul 09.00 WITA sudah tertahan di wilayah Kecamatan Negara.
“Saya naik bus dan terjebak di Jembrana. Hingga sekarang belum ada pergerakan sama sekali. Maunya cari ojek saja ke arah Gilimanuk, kalau ada berapa saja saya bayar yang penting cepat sampai kampung,” keluhnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Agus, pemudik asal Sidoarjo yang menggunakan angkutan umum.
Menurutnya, kemacetan tahun ini jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Paling parah tahun ini. Masak macetnya sampai ke Negara? Benar-benar tidak masuk akal sekali macetnya tahun ini,” ujarnya.
Sopir Travel Terancam Terlambat Sampai Tujuan
Tidak hanya penumpang bus, para sopir kendaraan travel juga merasakan dampak dari kemacetan panjang tersebut.
Sunadi, sopir travel yang mengangkut penumpang menuju Jawa Timur, mengaku sudah terjebak antrean sejak pagi hari.
Ia berangkat dari Denpasar sekitar pukul 07.00 WITA, namun kendaraan mulai terjebak macet sekitar pukul 10.00 WITA.
“Saya sudah terjebak sejak masuk Jembrana dan sampai sekarang belum ada pergerakan. Padahal nanti malam harus sudah sampai Situbondo dan besok harus ke Madura,” keluhnya.
Kondisi tersebut membuat banyak sopir khawatir tidak bisa sampai ke tujuan sesuai jadwal.
Pemudik Turun dari Kendaraan Cari Udara Segar
Kemacetan panjang yang berlangsung selama berjam-jam membuat sebagian pemudik memilih turun dari kendaraan.
Beberapa penumpang terlihat berjalan di sekitar jalan raya untuk mencari udara segar setelah terlalu lama berada di dalam kendaraan.
Agus, pemudik asal Kudus, Jawa Tengah, mengaku turun dari bus untuk menghilangkan rasa penat.
“Berangkat dari Denpasar menuju Kudus dari pukul 09.00 WITA. Saya turun dari bus untuk cari udara segar dan melihat kondisi kemacetan,” ujarnya.
Sebagian pemudik juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk membeli makanan dan minuman di sekitar lokasi.
TNI Bagikan Minuman Gratis untuk Pemudik
Di tengah kemacetan panjang tersebut, anggota Koramil Yonif Mekanis 741 Negara menggelar aksi sosial dengan membagikan minuman gratis kepada para pemudik.
Minuman tersebut diberikan kepada sopir dan penumpang yang tidak sedang menjalankan puasa.
Selain itu, pihak TNI juga menyediakan fasilitas toilet dan musala bagi para pemudik yang membutuhkan.
Kapten Infanteri I Made Sumerta mengatakan kemacetan tahun ini termasuk yang paling parah dibandingkan musim mudik sebelumnya.
“Kami melakukan aksi sosial dengan memberikan minuman kepada sopir maupun penumpang yang terjebak kemacetan hingga 32 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk,” ujarnya.
Menurutnya, kemacetan bahkan sudah terlihat sejak subuh dan semakin parah sejak pukul 09.00 WITA.
“Kemungkinan kondisi ini bisa berlangsung sampai malam nanti,” tambahnya.
ASDP Operasikan 35 Kapal
Manajer Usaha PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Gilimanuk, Didi Juliansyah, membenarkan bahwa hari ini merupakan puncak arus mudik dari Bali menuju Jawa.
Menurutnya, lonjakan kendaraan terjadi karena banyak pemudik datang secara bersamaan.
“Data produksi masih direkap, namun situasi hari ini memang terlihat sebagai puncak arus mudik. Kondisi pelabuhan sangat padat,” katanya.
Untuk mengantisipasi kepadatan, pihak ASDP telah mengoperasikan 35 unit kapal.
Rinciannya:
- 25 kapal beroperasi pada jadwal reguler
- 10 kapal tambahan menggunakan sistem TBB (tiba bongkar berangkat)
Meski demikian, lonjakan kendaraan tetap menyebabkan antrean panjang di jalur menuju pelabuhan.
“Ini murni karena kedatangan kendaraan yang sangat padat secara bersamaan,” jelasnya.
Pemudik Berusaha Keluar Bali Sebelum Nyepi
Lonjakan kendaraan yang meninggalkan Bali juga dipengaruhi oleh jadwal penutupan Pelabuhan Gilimanuk menjelang Hari Raya Nyepi.
Pelabuhan tersebut dijadwalkan ditutup pada Rabu (17/3/2026) pukul 17.00 WITA dan akan kembali dibuka pada Jumat (20/3/2026) pukul 06.00 WITA.
Banyak pemudik yang memilih meninggalkan Bali lebih awal agar tidak terjebak penutupan pelabuhan.
Selain petugas dari ASDP, personel Polres Jembrana juga dikerahkan untuk membantu mengatur lalu lintas dan mengurai kemacetan di jalur menuju pelabuhan.
Pihak berwenang mengimbau para pemudik untuk tetap bersabar serta mengikuti arahan petugas di lapangan demi kelancaran arus mudik Lebaran tahun ini. (*)
Editor : Ali Sodiqin