Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

3 Dapur SPPG Banyuwangi Disuspend BGN, Menu Makan Bergizi Gratis Tak Penuhi Standar Mutu

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Selasa, 3 Maret 2026 | 01:00 WIB

Sejak dihentikan sementara oleh BGN, aktivitas SPPG di Kelurahan Boyolangu terlihat lengang. Tempat tersebut ditutup sementara karena menu yang didistribusikan ke siswa tidak layak.
Sejak dihentikan sementara oleh BGN, aktivitas SPPG di Kelurahan Boyolangu terlihat lengang. Tempat tersebut ditutup sementara karena menu yang didistribusikan ke siswa tidak layak.

RADARBANYUWANGI.ID – Sebanyak tiga dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Banyuwangi dihentikan sementara operasionalnya.

Keputusan tersebut diambil setelah ditemukan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak memenuhi standar mutu dan kelayakan konsumsi dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Tiga dapur SPPG yang disuspend berada di Kelurahan Boyolangu, Desa Sumberagung, serta Desa Cluring.

Secara nasional, hingga hari ke-9 evaluasi Februari 2026, tercatat 47 dapur SPPG yang diberhentikan sementara sebagai bagian dari proses pengendalian mutu.

Photo
Photo

3 dari 17 Dapur di Jatim Disetop Sementara

Ketua Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD-GEMAS) Jawa Timur Bayu Perkasa membenarkan adanya penghentian sementara tersebut.

Ia menyebut, dari total 17 dapur di Jawa Timur yang terdampak evaluasi, tiga di antaranya berada di Banyuwangi.

“Memang ada tiga SPPG di Banyuwangi dari total 17 dapur di Jawa Timur yang operasionalnya diberhentikan sementara,” ujarnya.

Menurut Bayu, langkah ini merupakan bagian dari evaluasi menyeluruh guna memastikan kualitas makanan yang diberikan kepada para penerima manfaat benar-benar sesuai standar.

Penghentian operasional dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab dalam menjaga keamanan serta kesehatan siswa penerima program MBG.

Dapur Boyolangu Tak Beroperasi

Pantauan wartawan Radar Banyuwangi, kemarin (2/3), dapur SPPG di Kelurahan Boyolangu terlihat tidak beroperasi. Tidak tampak aktivitas pengolahan makanan seperti hari-hari sebelumnya.

Salah satu petugas SPPG Boyolangu yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan, pihaknya telah berkoordinasi dengan sekolah-sekolah penerima manfaat terkait penghentian sementara tersebut.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak sekolah penerima MBG dari dapur kami. Untuk selanjutnya akan dilakukan evaluasi menyeluruh,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihak dapur masih menunggu hasil evaluasi dan belum dapat memastikan kapan operasional kembali berjalan normal.

“Masih belum bisa dipastikan kapan akan beroperasi lagi,” katanya.

Standar Higienitas Harus Ketat

Di sisi lain, Kepala SPPG Kelurahan Kebalenan Gibran Nashif menegaskan bahwa pengelolaan MBG pada prinsipnya dilakukan secara ketat dengan standar higienitas yang tidak bisa ditawar.

Menurutnya, proses dimulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan makanan, hingga distribusi kepada siswa harus mengikuti standar operasional prosedur (SOP).

“Pembuatan MBG harus higienis sesuai SOP. Mulai dari kebersihan ompreng, tempat pengolahan, hingga pegawai yang wajib menggunakan perlengkapan sanitasi seperti sarung tangan, masker, dan penutup kepala,” tegasnya.

Ia menambahkan, evaluasi yang dilakukan saat ini diharapkan dapat memperbaiki kekurangan sekaligus memperkuat sistem pengawasan dapur MBG di Banyuwangi.

BGN Tegas: Tidak Tolerir Penyimpangan Standar

Secara nasional, BGN menghentikan sementara operasional 47 SPPG hingga hari ke-9 evaluasi Februari 2026.

Keputusan tersebut diambil menyusul temuan berulang menu MBG yang tidak memenuhi standar mutu dan kelayakan konsumsi.

Wakil Kepala BGN, Nanik S. Deyang, menegaskan bahwa penghentian sementara merupakan bagian dari mekanisme pengendalian mutu yang tidak bisa dikompromikan.

“Kami tidak mentolerir penyimpangan standar pangan dalam program ini. Setiap temuan langsung ditindak dengan penghentian operasional sementara untuk evaluasi menyeluruh,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (28/2).

Menurut Nanik, keputusan suspend diambil setelah melalui proses verifikasi lapangan serta laporan berjenjang dari tim pengawasan wilayah.

Evaluasi tidak hanya menyasar produk makanan, tetapi juga manajemen dapur, rantai distribusi, serta prosedur kontrol kualitas.

“Program MBG menyangkut kesehatan anak-anak dan kredibilitas negara dalam menjamin asupan gizi. Karena itu, pengawasan kami lakukan secara ketat dan transparan,” tegasnya.

Bisa Beroperasi Lagi Setelah Lolos Verifikasi

Dalam beberapa kasus, makanan yang terindikasi tidak layak telah lebih dahulu ditarik sebelum dikonsumsi siswa.

Meski demikian, BGN tetap menjatuhkan sanksi administratif sebagai bentuk penegakan standar sekaligus pembelajaran sistemik bagi seluruh penyelenggara.

“SPPG yang di-suspend dapat kembali beroperasi setelah seluruh rekomendasi perbaikan dipenuhi dan dinyatakan lolos verifikasi ulang. Kami ingin memastikan kualitas benar-benar terjaga sebelum layanan dibuka kembali,” tegas Nanik.

Penghentian sementara ini diharapkan menjadi momentum pembenahan sistem, bukan sekadar sanksi administratif.

Dengan pengawasan ketat dan evaluasi berkelanjutan, kualitas program Makan Bergizi Gratis di Banyuwangi maupun secara nasional diharapkan semakin terjamin dan mampu memberikan manfaat optimal bagi generasi penerus bangsa. (ray/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#badan gizi nasional #MBG Banyuwangi #standar mutu pangan #dapur MBG dihentikan #SPPG Banyuwangi disuspend