RADARBANYUWANGI.ID – Seruan Presiden Prabowo Subianto agar setiap kabupaten/kota menggelorakan Gerakan Nasional Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, Indah) langsung direspons cepat oleh Forkopimda Banyuwangi.
Rabu (18/2), ratusan warga lintas elemen turun ke Pantai Grand Watudodol (GWD) untuk membersihkan sampah yang terbawa ombak dan angin di kawasan pesisir.
Gerakan yang dikemas dalam tajuk Banyuwangi ASRI tersebut bukan sekadar seremoni.
Sejak pukul 09.00, peserta kerja bakti sudah menyisir kawasan breakwater GWD hingga memanjang sekitar 200 meter ke arah selatan.
Dalam waktu satu setengah jam, tumpukan kayu, ranting pohon, dan sampah plastik berhasil diangkut. Tepat pukul 10.30, kawasan pantai tampak bersih dan lebih tertata.
Aksi kolaboratif ini melibatkan ASN, TNI, Polri, organisasi perangkat daerah (OPD), camat, kepala desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, FKUB, pelajar, mahasiswa, pokdarwis, hingga perwakilan pondok pesantren.
Sinergi lintas sektor tersebut menjadi gambaran konkret pelaksanaan arahan Presiden agar pembangunan tidak hanya bertumpu pada pemerintah, melainkan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Yang menarik, Ipuk Fiestiandani turun langsung memungut sampah bersama jajaran kepala SKPD.
Turut berbaur di tengah masyarakat, Kapolresta Banyuwangi Kombespol Rofiq Ripto Himawan, Kajari, Danlanal, serta Kasdim.
Kehadiran pimpinan daerah dan aparat keamanan di tengah warga mempertegas komitmen bersama membangun budaya peduli lingkungan.
Usai kerja bakti, Forkopimda melanjutkan kegiatan dengan penanaman pohon di sejumlah sudut destinasi andalan Banyuwangi tersebut.
Penanaman pohon menjadi simbol keberlanjutan gerakan, tidak berhenti pada bersih-bersih, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan jangka panjang.
Ubah Perilaku dan Budaya Masyarakat
Bupati Ipuk menegaskan, peluncuran Banyuwangi ASRI adalah langkah strategis untuk mengubah perilaku dan budaya masyarakat agar semakin peduli terhadap lingkungan dan daerahnya.
“Yang pertama dari arahan Bapak Presiden adalah kita ingin mengubah perilaku masyarakat, mengubah budaya masyarakat yang tadinya tidak peduli pada lingkungan menjadi peduli. Dengan launching Banyuwangi ASRI ini, semuanya harus merasa punya kepentingan,” kata Ipuk.
Menurutnya, pembangunan tidak bisa berjalan optimal tanpa partisipasi aktif masyarakat. Gerakan ASRI dirancang sebagai gerakan kolektif dengan indikator yang jelas dan berkelanjutan, bukan kegiatan simbolis sesaat.
Empat Pilar Banyuwangi ASRI
Ipuk memaparkan, terdapat empat aspek utama dalam gerakan ASRI.
Pertama, Aman. Pilar ini difokuskan pada penguatan keamanan secara menyeluruh. Salah satu langkah konkret adalah integrasi CCTV milik Pemkab, kepolisian, dan swasta agar respons terhadap kejadian di lapangan bisa dilakukan secara cepat dan terpadu. Smart Kampung akan dioptimalkan sebagai pusat pengaduan bersama, termasuk penguatan layanan kentongan digital 112.
“Kita ingin Banyuwangi tertib dan aman. Jika ada kejadian, semua pihak bisa langsung merespons bersama,” jelasnya.
Kedua, Sehat. Pilar ini tidak hanya menitikberatkan pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan jiwa (mental health). Lingkungan yang bersih dan tertata menjadi bagian penting dalam mendukung kesehatan holistik masyarakat. Program seperti BWI Tanggap Stunting, Mall Orang Sehat, pemetaan sanitasi layak, hingga penguatan ketahanan pangan berbasis rumah tangga terus diperkuat.
Ketiga, Resik. Aspek ini menekankan optimalisasi pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir dengan konsistensi tinggi. Pemkab akan kembali menguatkan TPS3R dan mendorong pengelolaan sampah dimulai dari rumah tangga.
“Pengelolaan sampah harus diawali dari rumah. Kita juga akan mendorong instansi rutin melakukan kerja bakti. Harapannya ada perubahan budaya di masyarakat,” tegas Ipuk.
Keempat, Indah. Pilar ini menyasar penataan ruang berbasis estetika dan arsitektur lokal. Revitalisasi taman dan penambahan ruang terbuka hijau akan dioptimalkan. Konsep ecotourism juga terus diperkuat agar keindahan lingkungan berdampak langsung pada kenyamanan warga sekaligus meningkatkan daya tarik investasi dan pariwisata.
“Bangunan kita atur estetikanya berbasis arsitektur lokal. Ecotourism juga kita perkuat,” imbuhnya.
GWD, Wajah Banyuwangi
Ipuk menambahkan, dipilihnya Grand Watudodol sebagai lokasi kick off bukan tanpa alasan. Pantai tersebut merupakan salah satu ikon wisata dan wajah Banyuwangi di mata wisatawan.
“Wisatawan melihat tempat ini. Bagaimana kita mengundang wisatawan dan investor jika wisata tidak tertata? Bagaimana menata generasi sehat jika lingkungan dipenuhi sampah? Ini bukan hanya seremonial, tapi kebijakan dengan indikator jelas dan harus berkelanjutan,” tegasnya.
Sekretaris Kabupaten Banyuwangi, Guntur Priambodo, menambahkan bahwa pemkab siap membantu masyarakat yang masih kesulitan dalam pengelolaan sampah. Secara bertahap, sistem penanganan sampah dari hulu hingga hilir telah dijalankan.
“Kita siap membantu koordinasi program masyarakat untuk memastikan Banyuwangi aman dan bersih dari sampah,” pungkasnya.
Melalui Gerakan Nasional Indonesia ASRI yang diterjemahkan dalam Banyuwangi ASRI, sinergi pemerintah, aparat, dan masyarakat diharapkan mampu menciptakan daerah yang aman, sehat, bersih, dan indah secara berkelanjutan—bukan hanya untuk hari ini, tetapi untuk generasi mendatang. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin