Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Blasting Tambang Emas Tumpang Pitu Dikeluhkan Warga Pesanggaran Banyuwangi, Ledakan Keras hingga Diduga Rusak Laut

Salis Ali Muhyidin • Sabtu, 17 Januari 2026 | 03:30 WIB

Info Selengkapnya Klik di sini!
Info Selengkapnya Klik di sini!

RADARBANYUWANGI.ID – Aktivitas blasting atau peledakan dalam penambangan emas di Gunung Tumpang Pitu yang dilakukan PT Bumi Suksesindo (BSI) menuai keluhan serius dari masyarakat Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Warga mengaku tidak hanya terganggu oleh suara ledakan yang keras, tetapi juga khawatir terhadap dampak lingkungan, mulai dari kerusakan gunung hingga ancaman terhadap laut dan mata pencaharian nelayan.

Menurut penuturan warga, blasting tersebut dilakukan secara rutin hampir setiap hari.

Suara ledakan yang ditimbulkan kerap membuat warga terkejut dan merasa tidak nyaman, terutama karena intensitasnya yang kuat dan terjadi berulang kali.

Salah satu warga Dusun Ringinagung, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Sutris, 60, mengungkapkan bahwa suara ledakan dari aktivitas tambang itu kerap disangka sebagai petir.

RUSAK: Tampilan Gunung Tumpang Pitu di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran rusak akibat penambangan.
RUSAK: Tampilan Gunung Tumpang Pitu di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran rusak akibat penambangan.

“Sering saya kira itu geluduk (petir). Pas keluar rumah ternyata tidak hujan, berarti karena tambang,” ujar Sutris.

Rumah Sutris diketahui berjarak kurang dari satu kilometer dari Petak 56, area yang saat ini disebut-sebut berpotensi dieksplorasi oleh PT BSI.

Ia mengatakan, setiap kali terjadi blasting, suara ledakan kerap disertai kepulan asap gelap yang muncul dari arah pegunungan.

“Di belakang Umpak Lego itu Gunung Tumpang Pitu, asapnya keluar dari sana. Kelihatan jelas,” katanya.

Meski demikian, Sutris mengaku tidak selalu bisa memastikan sumber pasti ledakan tersebut.

Pasalnya, menurut dia, terdapat lebih dari satu titik aktivitas eksplorasi yang sama-sama aktif di kawasan tersebut.

“Kalau suaranya jelas dan keras sekali, kemungkinan di sini (Petak 56). Tapi kalau agak samar, bisa dari Tumpang Pitu. Tapi dua-duanya sama-sama keras,” ucap pria asli Dusun Ringinagung itu.

Gangguan tidak hanya terjadi saat blasting. Setiap menjelang malam, terutama selepas magrib, warga mengaku bisa mendengar suara mesin-mesin berat yang bekerja mengikis gunung.

Dalam kondisi lingkungan yang relatif sepi, suara tersebut terdengar semakin jelas dan mengganggu.

“Mesinnya meraung. Kalau malam kan sepi, jadi suaranya terdengar jelas sekali,” imbuh Sutris.

Keluhan serupa juga disampaikan Tego, 45, warga Dusun Pancer, Desa Sumberagung, yang dikenal vokal menolak aktivitas penambangan emas di kawasan Tumpang Pitu.

Ia menyebut dampak tambang tidak hanya dirasakan warga darat, tetapi juga nelayan pesisir.

“Rumah saya dekat pantai. Hampir semua nelayan mengeluh sekarang susah cari ikan,” ungkapnya.

Menurut Tego, dampak kerusakan Gunung Tumpang Pitu kini bisa dilihat secara kasat mata dari kawasan Pantai Mustika hingga Pelabuhan Perikanan Pancer.

Dari lokasi tersebut, tampak jelas kondisi gunung yang sudah mengalami perubahan signifikan akibat aktivitas penambangan.

“Dulu pecahan blasting sering jatuh ke laut. Itu jelas terlihat dari pantai,” katanya.

Selain dampak fisik dan kebisingan, warga juga meyakini adanya perubahan pola alam sejak aktivitas tambang berjalan masif.

Salah satunya adalah berkurangnya curah hujan di wilayah Kecamatan Pesanggaran, khususnya di Dusun Pancer.

“Dulu, kalau di atas Gunung Tumpang Pitu sudah gelap, pasti hujan turun. Sekarang gunungnya sudah gundul karena ditambang, hujan sangat jarang. Cadangan air juga tidak ada,” keluh Tego.

Keyakinan tersebut menambah kekhawatiran warga terhadap keberlanjutan lingkungan dan sumber kehidupan mereka di masa mendatang, terutama bagi masyarakat pesisir yang sangat bergantung pada laut dan ketersediaan air bersih.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Bumi Suksesindo (BSI) belum memberikan konfirmasi atau tanggapan resmi terkait keluhan warga mengenai dampak blasting dan aktivitas penambangan emas di Gunung Tumpang Pitu.

Warga berharap pemerintah daerah dan pihak berwenang segera turun tangan untuk mengevaluasi aktivitas tambang tersebut, demi memastikan keselamatan, kenyamanan, serta kelestarian lingkungan di wilayah Pesanggaran. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#pesanggaran #tambang emas #Tumpang Pitu #Ledakan keras #Blasting #banyuwangi