Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gelombang Selat Bali Selatan Tinggi, Nelayan Muncar Banyuwangi Banyak Pilih Libur Melaut dan Perbaiki Kapal

Zamrozi Wahyu • Sabtu, 17 Januari 2026 | 01:30 WIB

Info Selengkapnya Klik di sini!
Info Selengkapnya Klik di sini!

RADARBANYUWANGI.ID – Cuaca buruk yang melanda perairan Selat Bali Selatan berdampak langsung pada aktivitas nelayan di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur.

Dalam beberapa hari terakhir, banyak nelayan memilih untuk tidak melaut demi menghindari risiko keselamatan akibat gelombang tinggi dan angin kencang yang datang tidak menentu.

Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlanjut. Berdasarkan prakiraan cuaca, gelombang di Selat Bali Selatan—wilayah utama nelayan Muncar mencari ikan—diprediksi berada pada kategori sedang hingga tinggi selama empat hari ke depan, dengan ketinggian mencapai 1 hingga 3 meter.

Salah satu nelayan Pelabuhan Muncar, Ivan Restu, 34, mengungkapkan bahwa dalam sepekan terakhir suasana pelabuhan terlihat lebih lengang dibandingkan biasanya.

Banyak perahu nelayan yang terparkir rapi di dermaga tanpa aktivitas melaut.

BERBENAH: Nelayan di Pelabuhan Muncar sedang memperbaiki jaringnya di atas kapal, Jumat (16/1).
BERBENAH: Nelayan di Pelabuhan Muncar sedang memperbaiki jaringnya di atas kapal, Jumat (16/1).

“Sudah satu minggu ini banyak nelayan yang libur. Cuacanya kurang bersahabat, angin dan ombak sering tiba-tiba besar,” ujar Ivan, warga Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar.

Meski demikian, tidak sedikit nelayan yang tetap nekat melaut. Faktor ekonomi menjadi alasan utama mereka tetap berangkat, apalagi saat ini sejumlah komoditas ikan bernilai tinggi seperti lemuru dan layur sedang banyak ditemukan di perairan Selat Bali.

“Ada juga yang tetap berangkat. Kalau urusan perut, banyak yang nekat. Ikan lagi keluar, lemuru sama layur lumayan,” katanya.

Bagi nelayan yang memilih tidak melaut, waktu luang dimanfaatkan untuk memperbaiki alat tangkap, jaring, hingga melakukan perawatan perahu dan kapal.

Menurut Ivan, keputusan tersebut diambil untuk mengurangi risiko kecelakaan di laut yang bisa berujung fatal.

“Ombak dan angin kencang bikin kami takut ambil risiko. Lebih baik kapal diparkir dulu, sambil dibenahi,” terangnya.

Sementara itu, Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi, Agung Dwi, membenarkan adanya potensi gelombang sedang hingga tinggi di perairan Selat Bali Selatan dalam empat hari ke depan.

“Gelombang diperkirakan berkisar antara 1 sampai 3 meter. Kondisi ini cukup berisiko bagi perahu nelayan, terutama yang berukuran kecil,” jelas Agung, Jumat (16/1).

Untuk kondisi cuaca, lanjut Agung, pagi hingga siang hari diperkirakan cerah berawan.

Namun memasuki siang hingga sore, potensi hujan ringan hingga sedang cukup tinggi.

Sedangkan pada malam hari, cuaca cenderung berawan dengan peluang hujan ringan.

“Untuk empat hari ke depan, pola cuacanya relatif sama,” ujarnya.

BMKG mengimbau nelayan agar selalu memperhatikan informasi cuaca terbaru sebelum melaut serta mengutamakan keselamatan.

Nelayan juga diminta menggunakan alat keselamatan dan tidak memaksakan diri apabila kondisi perairan dinilai membahayakan.

Dengan kondisi cuaca yang masih fluktuatif, aktivitas nelayan Muncar diperkirakan belum sepenuhnya normal.

Sebagian nelayan masih akan menunggu cuaca membaik, sementara yang lain terpaksa mengambil risiko demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Libur Melaut #Gelombang Tinggi #cuaca buruk #selat bali #Nelayan Muncar