RADARBANYUWANGI.ID – Haul ke-36 Pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Darussalam Blokagung, KH Mukhtar Syafaat, berlangsung hidmat, Rabu (7/1).
Belasan ribu orang dari berbagai daerah hadir memadati kompleks ponpes yang berlokasi di Dusun Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari tersebut.
Bahkan, sejak H-1 kegiatan, kawasan ponpes sudah mulai ramai pengunjung.
Para kiai, masyayikh, tokoh pemerintah, tokoh masyarakat, alumni, dan warga umum meramaikan kegiatan tersebut.
Hadir juga Khatib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta KH Muhamad Faiz Syukron Makmun, Pengasuh Ponpes Darussalam Mimika Papua sekaligus Rois Syuriyah PWNU Papua Tengah, serta Ketua Komisi Lembaga Dakwah Majlis Ulama Indonesia Papua, Kiai Hasyim Asyari.
Pengasuh Ponpes Darussalam Blokagung KH Ahmad Hisyam Syafaat mengungkapkan rasa terima kasih atas terselenggaranya acara haul Masyayikh yang ke-36.
Terutama, pada partisipan yang ikut menyukseskan acara tersebut.
Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk silaturahmi dan nostalgia para alumni.
Mereka bisa mengingat kembali masa-masa mencari ilmu dan bertemu teman lamanya.
“Para alumni biasanya memanfaatkan kegiatan haul sebagai ajang silaturahmi dan bernostalgia,” katanya.
Kiai Hisyam juga memberikan selamat pada mutakharijin, alumni, santri dan ustad.
Bahwa Ponpes Darussalam saat ini telah mencetak sistem atau metode baca kitab kilat yang bernama Al Balagi.
“Salah satu contoh ada santri yang belajar kitab mulai dari nol. Namun, dengan mengikuti sistem itu, dalam jangka enam bulan ia sudah bisa baca kitab Fathulqarib,” katanya.
Khatib Syuriah PBNU & Ketua MUI DKI Jakarta KH Muhamad Faiz Syukron Makmun mengatakan, tradisi haul atau mengingat guru, kesetiaan, dan kecintaan pada guru harus dijaga.
Hal ini bisa menjadi tawasul untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. "Tradisi ini harus tetap dijaga," katanya.
Faiz Syukron Makmun bercerita, kiai Mukhtar Syafaat pernah diusir oleh gurunya tanpa ada masalah.
Namun, saat pulang malah jadi kiai. Ini salah satu bentuk kepatuhan santri terhadap gurunya.
“Kiai dan pesantren itu selalu ada berkahnya, seperti halnya saya yang dulu sering ikut pengajian dan sekarang juga jadi orang,” terangnya.
Faiz Syukron Makmun yang juga Khatib Syuriah PBNU tersebut memberi saran ketika bertemu kiai cium tangan dan tatap matanya.
Ini bukan soal tangan atau mata, tapi tangan dari kiai pernah berjabat dengan tangan sampai dengan ke Imam Syafii dan hingga ke tangannya ke Rasulullah.
Begitu juga dengan menatap mata, yang mana bisa tersambung dengan mata Rasulullah.
“Belajar kitab yang mana mata rantainya atau sanadnya bisa tersambung sampai ke Rasulullah. Berbeda dengan ilmu umum yang belum ada sanadnya," katanya. (why/sgt)
Editor : Ali Sodiqin