Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Warga Ringinagung Banyuwangi Tolak Keras Eksplorasi Tambang PT BSI di Petak 56 Gunung Gede dan Gunung Kucur

Salis Ali Muhyidin • Senin, 5 Januari 2026 | 06:03 WIB
TAK UTUH LAGI: Kondisi Gunung Tumpang Pitu di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, dilihat dari kawasan Gunung Gamping.
TAK UTUH LAGI: Kondisi Gunung Tumpang Pitu di Dusun Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, dilihat dari kawasan Gunung Gamping.

RADARBANYUWANGI.ID - Eksplorasi penambangan yang dilakukan PT Bumi Suksesindo (BSI) di Petak 56 Gunung Gede dan Gunung Kucur mendapat penolakan keras dari masyarakat sekitar.

Eksplorasi itu dilakukan di kawasan yang berada di wilayah Dusun Ringinagung, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Banyuwangi.

Ekspansi di Petak 56 yang dilakukan sejak November 2025, pasca mengikis Gunung Tumpang Pitu tersebut, dihadang warga lantaran mengancam hajat hidup ribuan warga Ringinagung.

Sebagai gambaran, saat ini ada 300 kepala keluarga (KK) yang menggarap lahan di hutan tersebut.

Jauh sebelum PT Indonesia Mining Nusantara (IMN) atau kini PT BSI datang, hampir seluruh warga Dusun Ringinagung menggantungkan penghasilan mereka di pegunungan Petak 56 itu.

“Warga kami mayoritas petani. Ada yang menanam alpukat, buah naga, jagung, dan lainnya. Di sana juga ada penambangan rakyat," kata koordinator aksi penolakan, Katoyo, 54.

Katoyo menyebut, warga mengkhawatirkan nasib anak-cucu mereka apabila penambangan di dua pegunungan itu dilanjutkan.

“Sekarang ini warga khawatir. Bahkan di majelis-majelis (pengajian, Red) kami saling menguatkan, kami saling bertukar informasi terkait dampak penambangan. Ini agar kami semua satu suara (menolak),” terangnya.

Warga juga belajar dari kondisi yang saat ini terjadi di sekitar Gunung Tumpang Pitu di Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran.

Menurutnya, aktivitas penambangan pada akhirnya memberikan dampak buruk terhadap lingkungan.

"Saat ada blasting (peledakan), pasti debu akan ke mana-mana. Jelas mencemari tanaman buah kami," katanya.

Terlebih, lanjut Katoyo, titik eksplorasi tersebut hanya berjarak sekitar satu kilometer dari lahan dan permukiman warga. Area itu bisa saja bertambah seiring berjalannya proses penambangan.

“Ini yang membulatkan tekad kami menolak. Kami sebisa mungkin kondusif, tidak akan ada perusakan. Tapi kami minta solusi. Solusi dimaksud ya agar Petak 56 tidak ditambang,” sambungnya.

Katoyo yang merupakan warga asli Dusun Ringinagung mengaku, ia bersama warga saat ini masih khawatir sewaktu-waktu eksplorasi kembali dilakukan.

Menurutnya, proses penambangan di lokasi tersebut sudah berhenti sejak adanya gelombang demonstrasi pada medio November hingga Desember lalu.

“Iya sekarang ini berhenti, tapi kami masih standby karena ada upaya pecah belah di tengah warga. Kami khawatir selanjutnya ada eksplorasi lagi,” tuturnya.

Kapolsek Pesanggaran AKP Maskur mengatakan, pihaknya sudah memfasilitasi adanya mediasi antara warga Dusun Ringinagung dan PT BSI di kantornya beberapa waktu lalu. Namun, hingga kini belum ada jawaban pasti terkait tuntutan warga tersebut.

“Dua belah pihak sudah mengirim perwakilan untuk mediasi. Saat ini kondisinya kondusif,” pungkasnya. (sas/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
#pesanggaran #BSI #tambang emas #Tumpang Pitu #banyuwangi #bumi suksesindo