Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

PT Lidjen Tegaskan Lahan Cabai di Kawasan Gantasan Merupakan Area Plasma Kelompok Tani

Fredy Rizki Manunggal • Selasa, 9 Desember 2025 | 11:00 WIB
Wakil Direktur PT Perkebunan Lidjen Suprayogi Tanoerahardjo menunjukkan area plasma di HGU PT Lidjen yang dikelola masyarakat, Senin (8/12).
Wakil Direktur PT Perkebunan Lidjen Suprayogi Tanoerahardjo menunjukkan area plasma di HGU PT Lidjen yang dikelola masyarakat, Senin (8/12).

RADARBANYUWANGI.ID - Area perkebunan di wilayah HGU PT Lidjen yang ditanami cabai rupanya dikelola oleh kelompok tani.

PT Perkebunan Lidjen menegaskan bahwa area yang saat ini ditanami cabai dan jagung di sekitar Gantasan adalah area plasma yang dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar perkebunan.

Sebelumnya, Kalaksa BPBD Banyuwangi Danang Hartanto mengatakan, ada pembukaan lahan seluas 20 hektare untuk tanaman jagung dan 20 hektare untuk tanaman cabai di perkebunan PT Lidjen, Desa Tamansari, kecamatan Licin.

Kondisi ini membuat Pemkab Banyuwangi khawatir dengan kondisi hilir saat terjadi hujan lebat.

Wakil Direktur PT Perkebunan Lidjen Suprayogi Tanoerahardjo mengatakan, kawasan di sekitar Gantasan yang kini ditanami jagung dan cabai adalah area plasma yang sejak awal memang diperuntukkan bagi masyarakat dan dikelola oleh kelompok tani setempat.

Hal ini dilakuakn sesuai dengan UU nomor 39 tahun 2014 tentang perkebunan.

Di mana perkebunan harus menyediakan lahan plasma seluas 20 persen dari wilayah usaha kepada masyarakat.

Suprayogi menambahakan, PT Lidjen telah mengalokasikan sebagian wilayah dari total luas HGU sebagai area plasma.

Di kawasan Lidjen sendiri terdapat 300 hektare lahan plasma yang digunakan masyarakat, mulai dari Ijen Skylight hingga batas area kopi robusta.

“Pengelolaan cabai dan jagung dilakukan oleh kelompok tani di area plasma. Itu memang lahan yang kami berikan untuk masyarakat,” tegasnya.

Suprayogi menjelaskan, area tersebut bukan lahan kosong. Secara komoditas dasar sudah terdapat tanaman kopi Arabika dan Excelsa di kawasan tersebut.

Sekitar 50 petani dari masyarakat sekitar yang tergabung dalam kelompok mengatur  penanaman hortikultura di atasnya.

“Jenis tanaman hortikultura itu pilihan mereka (petani). Kita tidak bisa ikut mengatur. Tidak tepat kalau dikatakan itu alih fungsi dari perusahaan,” ujarnya.

Selain area plasma, PT Perkebunan Lidjen juga membuka lahan kerja di beberapa titik yang letaknya dekat permukiman. Seperti di Kebun Dadap, Tanah Los, Ampel Gading, dan Pal Pakis. Ada tiga titik lahan kerja dengan luas masing-masing 15 hektare dan diisi tanaman cabai.

"Lokasi ini ada di dekat permukiman warga, bukan area resapan air. Setiap titik mempekerjakan sekitar 200 orang. Ini juga sesuai permintaan masyarakat agar bisa bekerja di titik terdekat,” tambahnya.

Secara total kawasan Lidjen memiliki luas HGU 1.545 hektare. Selain sebagai kebun produktif, PT Lidjen juga berfungsi sebagai buffer zone agar masyarakat tidak memasuki kawasan hutan.

"Kebun tidak mungkin mengganti komoditas utamanya, yaitu cengkih dan kopi dengan tanaman musiman. Kalau kebun mengandalkan jagung atau cabai pasti bangkrut. Yang sustainable itu ya cengkih dan kopi,” tandasnya. (fre/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#kelompok tani #banyuwangi #area plasma #PT Lidjen