Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Cerita Warga Lingkungan Wonosari, Sobo Ketika Banjir Datang: Rumahnya Hampir Roboh, Nur Yasin Menolak Dievakuasi

Tim Redaksi Radar Banyuwangi • Rabu, 19 November 2025 | 12:00 WIB
BERTEDUH DI GARDU: Nur Yasin beserta keluarganya memaksa bertahan di gardu miliknya saat banjir melanda Lingkungan Wonosari, Kelurahan Sobo, Senin malam (17/11).
BERTEDUH DI GARDU: Nur Yasin beserta keluarganya memaksa bertahan di gardu miliknya saat banjir melanda Lingkungan Wonosari, Kelurahan Sobo, Senin malam (17/11).

RADARBANYUWANGI.ID - Hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Banyuwangi pada Senin (17/11) kembali memicu banjir di beberapa titik.

Salah satu kawasan yang paling terdampak adalah Lingkungan Wonosari, Kelurahan Sobo, yang memang dikenal sebagai daerah langganan banjir setiap musim hujan tiba.

Di Lingkungan Wonosari, Kelurahan Sobo, banjir bukan sekadar bencana musiman. Banjir telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga setiap kali musim hujan tiba.

Di wilayah yang diapit dua sungai sekaligus, yaitu Sungai Bagong dan Sungai Sobo, air meluap bukan lagi kejutan, melainkan rutinitas yang harus dihadapi dengan kesabaran dan kesiapan.

Senin (17/11) sore, ketika hujan mulai turun deras, kegelisahan pelan-pelan menjalar ke rumah-rumah warga. Mereka sudah hafal tanda-tandanya.

Jika hujan berlangsung lama, ketinggian air bisa cepat naik, menerobos selokan, merayap ke halaman, lalu masuk ke ruang tamu.  

Banjir mencapai puncaknya pada malam hari, dengan ketinggian air hingga mencapai sekitar satu meter hampir setinggi pinggang orang dewasa.

Kondisi ini membuat warga panik dan waswas, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi dalam waktu lama.

Ketua RT setempat Slamet menjelaskan,  wilayah Wonosari kerap terendam banjir akibat letaknya yang berada di antara dua aliran sungai.

“Di sini memang sering banjir kalau musim hujan. Karena di wilayah ini ada dua sungai sekaligus, yaitu Sungai Bagong dan Sungai Sobo. Kalau debit keduanya naik dan meluap, otomatis rumah warga pasti terendam,” ujarnya.

Ia menambahkan, banyak warga setempat yang memilih meninggikan pondasi rumah jika memiliki rezeki lebih.

“Warga di sini sudah akrab dengan banjir. Jadi kalau warga ada rezeki, biasanya pondasi rumah ditinggikan supaya tidak terlalu parah saat banjir datang,” kata Slamet.

Kepala Pelaksana BPBD Banyuwangi Danang Hartanto membenarkan banjir kali ini diakibatkan debit air yang tinggi sehingga sungai tak mampu menampung aliran air hujan.

“Banjir terjadi karena sungai meluap hingga ke rumah warga. Titik terparah terjadi di Kelurahan Sobo, terutama di Lingkungan Wonosari, karena di sana ada genangan luas di area persawahan,” ujarnya.

Salah satu kasus yang mendapat perhatian BPBD ialah rumah milik Nur Yasin, 55, warga Lingkungan Wonosari, yang nyaris roboh akibat tergerus banjir.

Petugas sempat kesulitan mengevakuasi lantaran Nur Yasin enggan meninggalkan rumahnya.

“Kami beri pengertian tentang potensi bahaya bila ada banjir susulan. Setelah dibujuk, akhirnya beliau mau dievakuasi,” kata Danang.

Nur Yasin awalnya menolak dievakuasi karena merasa masih bisa berteduh di gardu miliknya yang berada di depan rumah.

“Air di sini deras seperti sungai, bukan hanya menggenang. Kalau menerobos bisa terseret arus,” ujarnya.

Setelah mempertimbangkan risiko, ia, istri, dan dua anaknya akhirnya bersedia dibawa ke tempat yang lebih aman.

Banjir di Lingkungan Wonosari mulai surut sekitar pukul 03.00 Selasa dini hari 18/11).

Sebelumnya, air telah masuk ke rumah warga sejak hujan mulai turun pada Senin sore (17/11). (M. Ksatria Raya/aif)

Editor : Ali Sodiqin
#banjir #banyuwangi #hujan deras