RADARBANYUWANGI.ID - Keberadaan pengamen, pengemis, dan anak jalanan (anjal) masih banyak ditemui di kawasan Kota Genteng, Kabupaten Banyuwangi.
Lampu lalu lintas (traffic light) menjadi lokasi favorit bagi mereka untuk meminta-minta kepada pengendara yang berhenti.
Salah satunya terlihat di simpang empat Dusun Maron, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng.
Di lokasi ini, pengamen yang beraksi tidak hanya orang dewasa, tapi juga anak-anak usia sekolah.
“Mereka memanfaatkan kendaraan yang berhenti saat lampu merah untuk menampilkan atraksi, ada yang menari atau hanya menunjukkan kostumnya,” kata Dwi Firmansyah (31), pengguna jalan asal Desa Karangsari, Kecamatan Sempu.
Dwi mengatakan, para pengamen itu biasa beraksi sejak siang hingga malam hari, baik secara berkelompok maupun sendiri-sendiri.
“Kadang terlihat bergantian, seperti ada jadwalnya,” ujarnya.
Menurutnya, kehadiran pengamen di jalanan sebenarnya cukup meresahkan.
Selain mengganggu arus lalu lintas, sebagian dari mereka bahkan masih menodongkan kaleng ke arah pengendara ketika lampu sudah hijau.
“Kalau cuma di pinggir jalan tidak masalah, tapi kalau sampai masuk ke antrean motor bisa bikin macet,” keluhnya.
Pemandangan serupa juga terlihat di simpang tiga traffic light Jalan Gajah Mada, Desa Genteng Kulon, tak jauh dari kawasan Sun East Mall (SEM).
Di sana, tampak pengamen perempuan berpenampilan seperti penari karnaval yang diduga masih berusia sekolah.
“Sepertinya anak itu masih muda, menari-nari di jalan sambil meminta uang,” tutur seorang pengendara lain.
Menanggapi hal itu, Koordinator Satpol PP Genteng, Masruri, mengaku telah memonitor aktivitas pengamen perempuan tersebut.
“Anaknya kurang cakap (istimewa). Sepengetahuan kami, dia sudah menikah meski usianya masih kecil,” ungkapnya.
Masruri menjelaskan, pihaknya rutin melakukan penertiban terhadap para pengamen dan anak jalanan di wilayah Genteng.
“Kami sudah sering melakukan razia dan upaya penertiban agar tidak mengganggu ketertiban umum,” ujarnya.
Menurutnya, sebagian besar pengamen tersebut bukan warga Genteng.
“Banyak yang berasal dari luar daerah, seperti Jember atau kecamatan lain di Banyuwangi. Itu yang membuat kami agak kesulitan menanganinya,” pungkasnya.
Editor : Agung Sedana