RADARBANYUWANGI.ID - Hari apes tidak ada di kalender. Ungkapan itu sepertinya paling pas untuk Abdul Malik (27), kurir paket asal Dusun Kunci, Desa Negororejo, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo.
Minggu pagi (14/9), rutinitasnya mengantar paket berubah jadi mimpi buruk.
Sejak pukul 08.00, Malik sudah menempuh puluhan kilometer dengan motor Honda Beat kesayangannya.
Seperti biasa, puluhan paket titipan pelanggan online shop dibawanya untuk diantar ke pemiliknya.
Baca Juga: 7 Kecelakaan Terjadi di Jalur Gumitir Pasca Dibuka, Bukan Lagi di Tikungan Mbah Singo
Tak ada firasat buruk. Tidak ada tanda-tanda bahaya. Hanya perjalanan biasa di bawah langit cerah.
Namun, tepat waktu duhur, sekitar pukul 11.30, hidup Malik seolah diacak-acak takdir.
Di sekitar Dusun Lorokan, Desa Boto, Kecamatan Lumbang, saat hendak menyeberang menuju rumah seorang pelanggan, suara ledakan keras mengejutkan telinganya.
“Saya nyebrang jalan mau nyampek ke rumahnya customer, tiba-tiba ada ledakan dari arah belakang,” tutur Malik kepada Jawa Pos Radar Jember melalui pesan WhatsApp.
Ketika menoleh, pemandangan horor langsung menyergapnya.
Baca Juga: Tragedi Mancing di Kolam Walet, Bocah SD di Banyuwangi Tewas Tersengat Listrik
Sebuah bus pariwisata berstiker Black Mamba melaju kencang tanpa kendali, menyasak plengsengan dan pembatas jalan. Debu mengepul, puing-puing trotoar beterbangan.
Refleks, Malik melompat dari motornya. “Otomatis saya kaget, langsung loncat dari sepeda takutnya nabrak saya dari belakang,” kisahnya.
Detik itu menentukan segalanya. Bus maut berpelat P 7221 UG terus melaju, menghantam pagar rumah warga.
Motor Malik beserta paket-paket kiriman hancur terlindas. Sebuah puing trotoar sempat menghantam kaki kirinya.
“Pas saya lihat ada ledakan nabrak trotoar itu jaraknya sekitar 20 meter. Saya loncat cuma sampai marka putih, bersamaan bus nabrak sepeda saya,” ungkapnya.
Syok, Malik hanya bisa berdiri mematung di tengah jalan. Di depan matanya, tubuh manusia beterbangan dari dalam bus.
“Saya sempat lihat orang yang terlempar ke depan bus itu. Sekitar 4 sampai 5 orang,” katanya dengan suara bergetar.
Bus rombongan RS Bina Sehat Jember itu akhirnya berhenti setelah menabrak jalan cor. Delapan orang meninggal di tempat. Puluhan lainnya luka-luka.
Baca Juga: Bayern Munich vs Chelsea: Sejarah Panas, Rekor Pertemuan, dan Kisah Ikonik Jelang Liga Champions
Kini, tragedi yang menelan banyak korban jiwa itu sudah lewat. Bus nahas telah dievakuasi, para korban dimakamkan, pejabat berdatangan.
Namun, Malik masih terjebak dalam kebingungan. Motor yang menjadi satu-satunya alat mencari nafkah kini jadi barang bukti polisi.
Belum ada pihak yang menghubunginya soal ganti rugi. “Harapannya motor bisa cepat kembali, biar saya bisa kerja lagi,” ucapnya lirih.
Di lereng Pegunungan Tengger, Malik mencoba menata hidup. Selamat dari maut adalah anugerah, tapi kehilangan penghidupan adalah luka yang belum tertutup. (*)
Editor : Ali Sodiqin