RADARBANYUWANGI.ID – Deru mesin kendaraan yang biasanya mendominasi udara Jalur Gumitir kini berganti dengan suara tawa, obrolan hangat, bahkan lantunan lagu anak-anak.
Jalan nasional yang menghubungkan Banyuwangi dan Jember itu berubah wajah sejak ditutup untuk perbaikan. Tak ada lagi antrean truk maupun deru bus malam.
Yang ada justru warga yang memanfaatkan lengangnya jalan untuk berolahraga, bersantai, hingga makan bersama.
Di tengah jalan beraspal mulus, tepat di Km 36.800 yang dikenal sebagai tikungan maut Mbah Singo, sekelompok anak berseragam sekolah terlihat riang.
Mereka bukan sedang menyeberang jalan, melainkan duduk lesehan dengan bekal makanan. Mereka adalah guru dan siswa SLB Bhakti Pertiwi, Dusun Tegalpakis, Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru.
“Mumpung jalan masih ditutup, kami ajak anak-anak belajar di alam. Supaya mereka tidak jenuh, sekaligus memberi pengalaman berbeda,” kata Nana, salah satu guru yang mendampingi.
Selesai belajar, anak-anak membuka bekal yang mereka bawa. Nasi kotak sederhana terasa istimewa ketika disantap di tengah jalan nasional yang biasanya tak pernah sepi.
Baca Juga: Menjelajah Seribu Patung Penari di Taman Gandrung Terakota Banyuwangi
Gelak tawa mereka membahana, sesekali diselingi sorakan ketika kendaraan proyek lewat.
“Sekali-sekali makan bersama di jalan nasional, kan tidak semua sekolah bisa merasakannya,” ujar Nana tersenyum.
Dari Jalan Rawat hingga Jalan Rakyat
Penutupan Jalur Gumitir sejak 24 Juli 2025 sejatinya untuk alasan serius. Dua titik rawan longsor, yakni Km 36.800 dan Km 37.600 (sekitar Warung Khokap), mengalami retakan parah sejak tahun lalu.
Jalan miring, bahu longsor, dan aspal bergelombang membuat kawasan itu berbahaya, terutama di tikungan Mbah Singo yang reputasinya sebagai “jalur maut” sudah dikenal luas.
Baca Juga: Pendaftaran PPPK Paruh Waktu 2025 Dibuka: Honorer Kini Bisa Jadi ASN dengan Jam Kerja Fleksibel!
Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jatim–Bali lantas turun tangan.
Proyek besar-besaran digelar. Bore pile dipasang untuk menahan longsoran. Pengecoran, pengaspalan, hingga pemasangan capping beam dilakukan sejak awal Agustus.
Perlahan, wajah Gumitir berubah. Tikungan maut yang dulu menyeramkan kini mulai mulus dengan marka jalan baru.
“Kami sudah masuk tahap pengaspalan terakhir. Tapi masih ada pekerjaan finishing,” terang Andre Pandora, pelaksana proyek.
Meski begitu, penutupan jalur ternyata membuka sisi lain Gumitir. Jalan yang biasanya hanya dilalui kendaraan kini justru menjadi ruang sosial.
Baca Juga: RSU Bhakti Husada Krikilan Sembuhkan Kaki Pengkor dengan Penanganan Ampuh
Warga memanfaatkannya untuk jalan santai, olahraga pagi, hingga sekadar duduk menikmati sejuknya udara pegunungan.
Antara Harapan dan Kenangan
Bagi pemilik warung di jalur ini, penutupan jalan menjadi pukulan berat. Pelanggan sepi, dagangan menumpuk, dan pemasukan menurun drastis.
Namun harapan tetap mereka gantungkan pada segera dibukanya jalur.
“Kalau jalan dibuka, warung pasti ramai lagi. Kami rindu suasana Gumitir seperti dulu,” kata Shanty, pemilik warung di dekat Warung Khokap.
Baca Juga: RSUD Buka Layanan Vaksin Internasional
Kabar baik pun akhirnya datang. Hasil rapat koordinasi BBPJN dengan Pemkab Banyuwangi dan Jember, serta kepolisian, memastikan jalur Gumitir akan kembali dibuka mulai Kamis, 4 September 2025, pukul 00.00 WIB.
“Jalur Gumitir sangat vital bagi mobilitas dua kabupaten. Pembukaan ini meski fungsional, diharapkan mampu menggerakkan kembali roda ekonomi,” terang I Komang Sudira Atmaja, Kepala Dinas Perhubungan Banyuwangi.
Jalan yang Menyimpan Cerita
Namun pembukaan jalur nanti bukan berarti pekerjaan selesai. Kepala BBPJN Jatim-Bali, Javid Hurriyanto, menegaskan masih ada pekerjaan minor hingga akhir kontrak, 31 Desember 2025.
“Untuk keselamatan, akan ada inspeksi tambahan, termasuk penerangan jalan,” katanya.
Gumitir memang bukan sekadar jalan penghubung dua kabupaten. Ia menyimpan cerita panjang tentang kecelakaan, perjuangan warga, hingga momen unik seperti piknik anak-anak SLB Bhakti Pertiwi.
Sebuah jalan yang dulunya dianggap rawan maut, kini seolah menjadi ruang publik dadakan, menghadirkan kebersamaan di antara debu proyek dan sisa aspal panas.
Ketika arus lalu lintas kembali melintas pada 4 September nanti, semua itu akan tinggal kenangan. Anak-anak tak lagi bisa duduk lesehan di tengah jalan.
Warga tak lagi bisa jogging bebas di atas aspal mulus. Namun Gumitir akan tetap menyimpan kisah, bahwa di balik penutupan jalan, ada ruang-ruang kecil yang menghadirkan keceriaan dan harapan. (*)
Editor : Ali Sodiqin