RADARBANYUWANGI.ID – Warga Dusun Jalen 1, Desa Setail, Kecamatan Genteng, protes. Tempat Pembuangan Sampah yang seharusnya menjadi solusi, justru menebar bau busuk dan lalat ke permukiman, membuat warga lebih sering mengeluh daripada menarik napas lega.
Setiap hari, lokasi TPS yang bertengger tak jauh dari rumah mereka kini menjadi sumber aroma menyengat yang “menyapa” hidung warga dari pagi hingga malam.
Keluhan warga sudah bukan barang baru. Slamet Mukhib, salah satu warga, bahkan menyebutkan bahwa keresahan soal TPS ini bukan cerita semalam.
“Sudah lama warga mengeluh, terutama warga yang rumahnya berdekatan dengan TPS itu. Ada yang mengeluh, kami bahas di musala,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng.
Lokasi TPS ini memang terlihat aktif. Aktif menumpuk sampah, aktif menebar aroma, dan aktif menarik lalat-lalat berdatangan.
Slamet, yang ditemui di sekitar TPS, menyebut bahwa bukan cuma baunya yang menyiksa, tapi cara petugas menangani sampah.
“Terkadang diletakkan begitu saja di pinggir jalan, di pinggir sungai,” terangnya.
Warga lain juga mengeluhkan rumah mereka seringkali dipenuhi tamu tak diundang, lalat.
Di tengah usaha budidaya maggot dari lalat BSF (Black Soldier Fly) yang katanya sedang dikembangkan di lokasi itu, justru lalat hijau yang merajai rumah warga.
“Banyak lalat juga, terkadang juga lalat hijau,” tandas Slamet.
Namun, warga Setail bukan tipikal warga manja yang menuntut TPS ditutup.
Mereka cukup tahu diri. Slamet bahkan menyampaikan bahwa warga tak meminta TPS-nya dibasmi, hanya pengelolaan yang lebih beradab.
“Keinginan kami mungkin agar pengelolaannya bisa sedikit teratur, mungkin dikelola dengan baik seperti apa agar baunya hilang,” katanya.
Radar Genteng pun menyambangi lokasi. Meman gada dua pegawai di sana, sementara sampah terlihat berserakan dengan formasi bebas.
Sungai pun turut kebagian, menjadi tempat transit dadakan bagi tumpukan yang tak muat lagi di TPS.
“Iya, itu ditaruh situ (sepadan), karena lokasi penampungan penuh,” ujar Kepala Tempat Pengelolaan Sampah, Nanang Fatkhurohman, dengan santai.
Nanang menjelaskan, pengelolaan TPS ini berada di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Setail.
Meski menyandang status “pengelolaan”, ia mengakui sejumlah SOP belum dijalankan.
Bahkan, penyemprotan cairan EM4 untuk penghilang bau andalan itu, pun jarang dilakukan.
“Biasanya disemprot, tapi ini memang tidak, kami mengakui,” katanya.
Lebih lanjut, Nanang juga menyebut operasionalnya masih “dalam proses bertata”.
Sampah dari sekitar 200 rumah belum juga dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) milik DLH Banyuwangi. Sudah tiga minggu lamanya.
“Ini sekitar tiga minggu belum diangkut karena kami baru perbaikan juga,” cetusnya.
Soal budidaya maggot? Ternyata tak semanis harapan. Menurut Nanang, budidaya umum itu belum berhasil dan saat ini mangkrak, disebabkan musim hujan yang membuat maggot ogah bertelur.
“Maggotnya ini tidak jalan, gagal bertelur karena musim hujan ini. Untuk kompos masih akan diproduksi,” katanya seraya menunjuk beberapa timba berisi kompos belum jadi.
Kini, warga hanya bisa berharap tempat penampungan sampah itu tak berubah jadi “taman bermain lalat”.
Mereka tak minta banyak, cuma sedikit pengelolaan yang wajar agar bisa menghirup udara tanpa harus menebak “ini aroma TPS atau aroma bencana?”
Editor : Agung Sedana