RADARBANYUWANGI.ID - Perjuangan berat harus dilakoni para tengkulak bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite dan pertamax asal Jember yang berburu hingga ke Kecamatan Kalibaru, Glenmore, dan Genteng, Banyuwangi.
Mereka berharap mendapatkan hasil besar, meski harus melintasi jalur sulit alternatif Gumitir.
Dari harga normal Rp 10 ribu per liter untuk pertalite dan Rp 12.500 per liter untuk pertamax, mereka bisa meraup untung belasan ribu rupiah per liternya.
“Saat ini harga BBM di Jember sudah mahal,” terang salah satu tengkulak asal Kecamatan Pakusari, Jember, M. Ridho (39).
Kepada Jawa Pos Radar Genteng yang menemuinya di SPBU Curahketangi, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Ridho menyampaikan bahwa di daerahnya sangat sulit mendapatkan BBM.
“Sulit didapat, harganya mahal. Saya menjual pertalite ini Rp 15 ribu per liter,” katanya.
Ridho mengaku, harga jual sebesar Rp 15 ribu per liter untuk pertalite sepadan dengan jerih payahnya membeli BBM hingga ke Banyuwangi.
Warga di sekitar tokonya, kata dia, tetap bersedia membeli BBM dengan harga tersebut karena kebutuhan.
“Kalau tidak ada BBM, mereka tidak bisa kerja. Saya sendiri juga pusing kalau tidak ada bensin,” ucapnya.
Tengkulak BBM lainnya, Sholihin (40), asal Kecamatan Mayang, menyampaikan bahwa di wilayah Kabupaten Jember harga BBM eceran sudah tidak masuk akal.
Menurutnya, ada pengecer yang menjual hingga Rp 25 ribu per liter, meski ada juga yang masih di kisaran Rp 15 ribu.
“Setahu saya, ada yang sudah Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu per liter,” tandasnya.
Harga tersebut, kata dia, rupanya masih tetap laku. Banyak mahasiswa atau pekerja yang harus bepergian terpaksa membeli BBM seharga sebungkus rokok Dji Sam Soe itu.
“Masih laku saja. Kalau tidak laku, saya tidak mungkin ke sini untuk kulakan. Tidak ada pilihan, makanya tetap laku,” jelasnya.
Sholihin mengaku datang ke Banyuwangi untuk belanja BBM jenis pertalite dan pertamax bersama kerabatnya, dengan membawa tujuh jeriken. Jumlah itu nantinya akan dibagi dengan saudaranya.
“Sekalian modal banyak, saya tadi membawa uang Rp 4 juta,” pungkasnya.
Editor : Agung Sedana