RADARBANYUWANGI.ID - Warga asal Kabupaten Jember yang belanja bahan bakar minyak (BBM) jenis pertalite dan pertamax di sejumlah SPBU yang ada di Kecamatan Kalibaru, Glenmore, dan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, tampaknya semakin banyak, kemarin (29/7).
Para pembeli BBM itu bukan hanya warga dari Kabupaten Jember yang tinggal di daerah pinggiran Gunung Gumitir, tetapi juga banyak berasal dari wilayah Kecamatan Pakusari hingga Kecamatan Ajung, Jember.
Dengan membawa jeriken kosong, mereka rela menempuh jarak puluhan kilometer untuk mendapatkan BBM dan menjualnya kembali.
Untuk mendapatkan BBM di SPBU Curahketangi, Desa Setail, Kecamatan Genteng, ada yang mengisi tangki sepeda motor Suzuki Thunder.
Selanjutnya, secara terang-terangan menyedot BBM dari tangki sepeda motor ke jeriken menggunakan selang di halaman SPBU.
“Perjalanan dari rumah sekitar dua setengah jam,” kata Muhammad Ridho (39) yang mengaku berasal dari sebuah desa di Kecamatan Pakusari.
Pria tersebut secara terang-terangan mengatakan bahwa BBM jenis pertalite dan pertamax yang didapat akan dijual kembali secara eceran di rumahnya.
Ia terpaksa belanja BBM ke Banyuwangi karena antrean di Jember sudah sangat parah.
“Di sana (Jember) antreannya bisa tiga hingga empat jam. Kadang sudah antre lama, bensinnya habis,” terangnya saat ditemui di SPBU Curahketangi, Desa Setail.
Ridho menyampaikan, antrean panjang nyaris terjadi di setiap SPBU di wilayah Jember.
Hal itu membuat Bupati Jember, Muhammad Fawait, mengeluarkan surat edaran (SE) agar proses belajar mengajar sekolah di Jember bisa dilakukan secara daring.
“Kosong semua di sana (SPBU di Jember), sekalinya ada, antreannya luar biasa. Jadi, bagi kami mending beli di sini,” dalihnya.
Padahal, kata dia, belanja BBM ke Banyuwangi dengan kondisi Jalur Gumitir tutup sama dengan bertaruh nyawa.
Bagaimana tidak, jalur alternatif yang hanya boleh dilalui roda dua memiliki kontur tanah bergelombang dengan perpaduan bebatuan.
“Jalur alternatif sulit, batunya tajam-tajam. Saya ini harus bertaruh nyawa,” cetusnya seraya menyebut telah menghabiskan uang Rp 3,5 juta untuk belanja BBM.
Pembeli BBM lain, Iskandar, 41, asal Kecamatan Ajung, Jember, mengungkapkan perburuan BBM ke wilayah Banyuwangi sudah dilakukan sejak tiga hari lalu.
Sebelumnya, ia membeli di SPBU Kalibaru, tetapi sekarang sedang kosong. “Di Kalibaru dan Glenmore sedang kosong, makanya saya beli di sini (SPBU Curahketangi),” tandasnya.
Semua pembeli BBM dari Jember yang datang ke Banyuwangi, terang dia, melintasi jalur alternatif di tengah perkebunan kopi Mrawan. Jalur itu satu-satunya akses yang tersedia saat ini.
“Kalau dilihat di situ, banyak sekali orang bawa tobos untuk beli BBM ke sini,” terangnya.
Banyaknya tengkulak BBM yang membeli untuk dijual kembali itu berbanding terbalik dengan pernyataan Pengawas SPBU Setail, Ismail, 65.
Saat dikonfirmasi pada Senin (28/7) lalu, ia mengaku melarang karyawannya menjual BBM ke tengkulak.
“Itu melanggar aturan. Tidak apa-apa kondisinya (SPBU) sepi, yang penting tidak menabrak aturan,” katanya.
Editor : Agung Sedana