RADARBANYUWANGI.ID – Akhir Juli 2025 diprediksi menjadi masa paling krusial bagi kelancaran lalu lintas di Banyuwangi.
Tiga penyebab besar-besaran akan bersinggungan secara bersamaan dan berpotensi melumpuhkan mobilitas warga, wisatawan, hingga distribusi logistik.
Namun sebelum itu, info terbaru hari ini kemacetan menuju Pelabuhan Ketapang kumat lagi. Pagi ini, kemacetan kembali mengular mencapai 10 kilometer hingga kawasan Bajulmati.
Sopir truk dan penumpang travel pun harus menunggu berjam-jam untuk bisa menyeberang ke Bali.
Padahal kemarin sudah sempat mereda. Namun, karena penutupan total jalur Gumitir selama 2 bulan penuh membuat jalur Pantura sibuk total full 24 jam.
"Penutupan dilakukan tadi malam pukul 00:00 WIB. Kami dimintai putar balik lewat Situbondo. Gumitir sudah tidak bisa dilewati," ujar Angga, sopir logistik asal Srono.
Penutupan total Jalur Gumitir dimulai 24 Juli hingga 24 September 2025. Jalur utama penghubung Jember–Banyuwangi ini akan ditutup sepenuhnya tanpa sistem buka-tutup karena adanya proyek perbaikan jalan dan penguatan lereng rawan longsor.
Seluruh kendaraan dialihkan ke jalur alternatif via Situbondo atau Bondowoso, yang dikenal lebih sempit, berliku, dan memakan waktu lebih lama.
Faktor macet kedua masih bersumber dari kapal penyeberangan di Pelabuhan Ketapang. Tidak semua kapal mendapatkan izin layak beroperasi.
Warga diminta untuk mengerti. Demi alasan keamanan dan keselamatan, kapal-kapal tersebut baru akan diizinkan beroperasi setelah dinyatakan layak.
Pemerintah tidak ingin kejadian kapal tenggelam di Selat Bali terjadi lagi, dan lagi akibat kelalaian atau karena kondisi teknis kapal yang tidak memadai.
Sumber kemacetan selanjutnya dari ajang balap sepeda internasional Tour de Banyuwangi Ijen (TDBI) 2025 akan digelar pada 28–31 Juli.
Empat etape balapan akan melintasi jalur strategis mulai dari pesisir selatan, wilayah kota, hingga dataran tinggi.
Kehadiran ratusan pembalap, kru, dan penonton dari dalam dan luar negeri otomatis akan meningkatkan volume kendaraan secara signifikan.
Sejumlah ruas jalan akan ditutup sementara demi keamanan peserta balap. Warga pun harus bersiap menghadapi pengalihan arus yang bisa memicu kepadatan di jalur alternatif.
Kondisi ini berpotensi menciptakan "badai lalu lintas sempurna" yang membuat Banyuwangi nyaris lumpuh.
Puncak kemacetan diperkirakan terjadi pada 28–31 Juli, bersamaan dengan event TDBI.
Mobilitas warga lokal, akses wisatawan, hingga distribusi barang antarprovinsi dipastikan terganggu secara signifikan.
Gunakan moda transportasi alternatif seperti kereta api atau kapal cepat jika memungkinkan.
Warga juga disarankan memantau terus informasi dari Dishub, media lokal, atau posko darurat lalu lintas untuk menghindari antrean panjang yang melelahkan.
Editor : Agung Sedana