RADARBANYUWANGI.ID – Sejarah Gunung Gumitir tak hanya soal rel tua dan kebun kopi peninggalan Belanda.
Gunung yang membentang di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Jember ini menyimpan kisah panjang, mulai dari legenda pengkhianatan Damar Wulan hingga cerita mistis yang masih diyakini masyarakat setempat.
Gunung yang juga dikenal dengan sebutan Gunung Mrawan ini membelah dua wilayah—Kecamatan Kalibaru di Banyuwangi dan Kecamatan Silo di Jember.
Sejak masa kolonial, kawasan ini jadi titik strategis Hindia Belanda dalam mengembangkan jaringan transportasi hasil bumi dari timur Jawa.
Tercatat, pada 10 September 1902, Staatsspoorwegen (SS), perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial, membangun jalur kereta api melintasi Gumitir. Jalur ini menjadi nadi utama pengangkutan kopi dan kayu.
Tak berhenti di situ, pada 13 Agustus 1934, berdiri Pabrik Kopi Goenoeng Goemitir di kaki gunung. Hingga kini, warisan industri perkebunan tersebut dikelola oleh PTPN XII dan Perum Perhutani.
Namun, di balik geliat ekonomi dan kekayaan alamnya, Gumitir juga dikenal angker. Cerita mistis berkembang turun-temurun, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari citra gunung ini.
Damar Wulan dan Asal-Usul Nama Gumitir
Cerita rakyat Jawa menyebut Gunung Gumitir sebagai tempat terjadinya pengkhianatan terhadap tokoh legendaris Damar Wulan.
Setelah berhasil menaklukkan Menak Jinggo, Damar Wulan dikhianati oleh dua putra patih Logender, Layang Seta dan Layang Kumitir, yang merampas kepala musuhnya. Peristiwa itu diyakini terjadi di kawasan gunung ini.
Nama “Gumitir” sendiri diyakini berasal dari Layang Kumitir, sebagai simbol pengkhianatan.
Tak hanya itu, nama Gumitir juga memiliki makna spiritual. Dalam budaya Bali dan Jawa Kuno, bunga gumitir (Tagetes erecta) sering digunakan dalam ritual persembahan, dipercaya membawa energi spiritual yang kuat.
Pasar Setan hingga Tangisan Pekerja Paksa
Cerita horor yang berkembang dari mulut ke mulut makin menguatkan aura angker Gunung Gumitir. Salah satu yang paling sering terdengar adalah legenda "Pasar Setan."
Konon, pengendara yang melintasi jalanan Gumitir saat malam hari kerap melihat keramaian pasar di tengah hutan—lengkap dengan penjual dan pembeli.
Namun, saat mereka sadar, pasar itu sudah lenyap tak berbekas. Masyarakat menyebutnya sebagai ilusi gaib yang tak bisa dijelaskan secara logika.
Selain itu, kisah arwah pekerja paksa juga menghantui kawasan ini. Pada masa kolonial, banyak pekerja yang meninggal akibat kelaparan dan kerja berat saat membangun terowongan Mrawan.
Hingga kini, suara tangisan dan bayangan sosok berpakaian compang-camping sering dilaporkan terdengar, terutama di kawasan Watu Gudang—titik tertinggi Gumitir.
Penjaga rel kereta di sekitar terowongan mengaku kerap mendengar suara langkah, alat berat, hingga teriakan minta tolong. Sebagian meyakini, itu adalah arwah yang belum tenang.
Jalur Strategis, Sejarah Kental, Mistis Tak Terelakkan
Gunung Gumitir bukan sekadar penghubung antarwilayah. Ia adalah saksi bisu dari sejarah panjang kolonialisme, pertarungan kekuasaan, hingga cerita gaib yang mengakar kuat di benak masyarakat.
Hari ini, jalur Gumitir tetap menjadi penghubung utama Jember–Banyuwangi. Tapi bagi sebagian orang, setiap melintas di sana, selalu ada rasa waswas yang ikut menyelinap.
Sebab di balik hijaunya pepohonan dan sejuknya kabut, mungkin saja ada kisah lama yang masih ingin didengar. (*)
Editor : Ali Sodiqin