Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Warga Bedewang Kecamatan Songgon Protes Jalan Rusak Akibat Banyaknya Dump Truck yang Melintas

Salis Ali Muhyidin • Rabu, 9 Juli 2025 | 16:04 WIB
PERTEMUAN: Salah satu warga Desa Bedewang, Kecamatan Songgon menyampaikan protes jalan rusak di desanya yang sudah tahunan akibat banyaknya dump truck yang melintas Selasa (8/7)
PERTEMUAN: Salah satu warga Desa Bedewang, Kecamatan Songgon menyampaikan protes jalan rusak di desanya yang sudah tahunan akibat banyaknya dump truck yang melintas Selasa (8/7)

RadarBanyuwangi.id – Sejumlah warga Desa Bedewang, Kecamatan Songgon mengeluhkan jalan di desanya yang rusak parah alibat banyaknya dump truck yang mengangkut pasir, Selasa (8/7). Uneg-uneg yang sudah tahunan itu, ditumpahkan dalam pertemuan bersama dengan pihak penambang pasir, kelompok armada dump truck, dan aparat penegak hukum (APH).

Dalam pertemuan yang digelar di Kantor Desa Bedewang tersebut, dimulai sekitar pukul 13.00. Hadir Pj Kepala Desa (Kades) Bedewang, Lima U Hadi, Kapolsek Songgon AKP Pudji Wahyono, dan Danramil Kapten Inf Totok Yulianto. “Ada beberapa poin yang ingin kami sampaikan, ini berkaitan sejumlah masalah yang disebabkan aktivitas penambangan pasir,” kata perwakilan warga, Slamet Pujiono.

Slamet merinci, masalah pertama jalan banyaknya titik-titik jalan rusak yang ditingarai karena beban muatan dump truck yang mengangkut pasir dan melintas di jalanan desa. “Jalan yang rusak ini banyak, selain menyulitkan mobilitas, juga jadi penyebab pengguna jalan jatuh,” kata pria yang juga Kepala Dusun (Kadus) Wiyayu Barat, Desa Bedewang ini.

Slamet mengungkap, selain menimbulkan korban karena warga mengalami kecelakaan saat menghindari jalan berlubang, puluhan dump truck yang setiap hari berseliweran itu kerap membuat warga kesal, karena masih beroperasi hingga malam. “Jam kerjanya terkadang hingga malam hari, sampai jam delapan atau sembilan masih melintas. Ini kan mengganggu warga istirahat,” katanya.

Tidak hanya itu, Slamet menyebut para owner galian C yang ada di wilayahnya itu, kerap tidak peka dengan lingkungan. Tanggung jawab sosial yang harusnya diberikan kepada warga, kerap tidak diberikan. “Saya juga meneruskan dari warga, sumbangan kepada masjid dari tambang terkadang juga dipersoalkan. Semua orang tahu saat Jumatan disebut, masa memberi hanya segitu,” katanya seraya mengungkap setiap Jumat penambang diwajibkan memberi sumbangan kepada masjid setempat.

Slamet meminta pihak penambang untuk melibatkan anak-anak muda yang ada di sekitar wilayah untuk diserap sebagai tenaga kerja. Juga meminta para pekerja tidak berasal dari luar wilayah desa. “Ini juga ada banyak anak muda agar diperhatikan dan dilibatkan, entah dijadikan apa di situ, kami harap ada kontribusi,” pintanya.

Salah satu perwakilan penambang, Sampir, 55, dari CV Tirto Mumbul Berkah mengatakan, selama ini sudah melaksanakan tanggungjawabnya kepada masyarakat. Ia mengaku setiap Jumat menyumbang Rp 10 ribu per dump truck yang melintas dan disalurkan ke masjid-masjid. “Itu sudah kami atur, jalan yang rusak, ada bedah rumah juga kami bantu materialnya,” katanya.

Sampir akan memastikan masyarakat sekitar tambang tidak akan jadi penonton dan akan diberi pekerjaan. Meski dianggap warga hanya membual, ia menjanjikan pemuda yang belum bekerja untuk diberi posisi di tambang. “Entah itu posisi tim jalan, atau posisi lain, kami akan berikan agar manfaat,” janjinya.

PJ Kades Bedewang, Lima U. Hadi menjelaskan, rapat yang digelar ini untuk memfasilitasi para pemegang kewenangan, mencari jalan keluar masalah jalan rusak akibat tambang ini. “Jujur saya sangat capek, nyaris setiap hari ada laporan dan keluhan soal masalah tambang. Karena itu, kami atur rapat ini agar semua bisa menyampaikan apa masalah dan keinginan masing-masing,” tandasnya.(sas/abi)

Editor : Agus Baihaqi
#galian c #jalan rusak #dump truck #penambangan pasir #protes