RADARBANYUWANGI.ID - Bulan Juli 2025 akan jadi salah satu bulan yang dinanti para pengamat langit. Pasalnya, beberapa hujan meteor diprediksi akan menghiasi langit malam Indonesia.
Tidak hanya satu, ada setidaknya tiga hujan meteor utama yang akan mencapai puncaknya di akhir bulan.
Momen ini sayang dilewatkan, apalagi cuaca kemarau biasanya mendukung langit cerah.
Southern Delta Aquariids
Salah satu hujan meteor yang paling ditunggu adalah Southern Delta Aquariids. Hujan meteor ini dikenal cukup aktif dengan intensitas 10–20 meteor per jam pada malam puncaknya.
Asalnya dari sisa debu komet 96P/Machholz, yang meninggalkan jejak partikel di orbit Bumi.
Saat Bumi melintasi jalur tersebut, partikel debu akan terbakar di atmosfer dan terlihat sebagai garis-garis cahaya di langit.
Southern Delta Aquariids aktif sejak 18 Juli hingga 12 Agustus, dengan puncak aktivitas diprediksi terjadi pada malam 29–30 Juli.
Waktu terbaik untuk mengamati adalah setelah tengah malam, terutama menjelang subuh, ketika radian (titik asal meteor) sudah cukup tinggi di langit selatan.
Kabar baiknya, bulan hanya akan terang sekitar 27 persen, sehingga cahayanya tidak akan terlalu mengganggu.
Alpha Capricornids
Selain itu, ada juga Alpha Capricornids, hujan meteor yang relatif lebih kecil tetapi punya daya tarik tersendiri.
Alpha Capricornids hanya menghasilkan sekitar 5 meteor per jam, namun beberapa di antaranya bisa muncul sebagai bola api terang (fireballs) yang lebih besar dan spektakuler dibanding meteor biasa.
Hujan meteor ini berasal dari sisa komet 169P/NEAT, dan aktif mulai 12 Juli hingga 12 Agustus, dengan puncak pada 29–30 Juli, berbarengan dengan Southern Delta Aquariids.
Piscis Austrinids
Sebagai pelengkap, hujan meteor Piscis Austrinids juga akan meramaikan langit malam pada 28 Juli, dengan intensitas sekitar 5 meteor per jam.
Meskipun terbilang minor, hujan meteor ini bisa menjadi bonus bagi yang sedang berburu Southern Delta Aquariids dan Alpha Capricornids.
Piscis Austrinids punya radian di rasi bintang Piscis Austrinus, letaknya cukup rendah di langit selatan.
Tak hanya itu, Juli juga masih dihiasi beberapa hujan meteor kecil seperti July Pegasids, Zeta Cassiopeiids, dan July chi Arietids.
Namun intensitasnya sangat rendah, rata-rata di bawah 1 meteor per jam, sehingga kurang ideal untuk diamati tanpa peralatan pendukung.
Lalu, bagaimana cara terbaik menikmati hujan meteor? Pada dasarnya, tidak perlu teleskop atau binokular karena meteor melintas cepat.
Cukup berbekal mata telanjang, alas duduk atau matras, dan posisi pengamatan yang nyaman. Pilih lokasi minim polusi cahaya seperti pegunungan, pantai, atau area pedesaan.
Waktu paling ideal adalah pukul 22.00 hingga menjelang subuh, ketika langit sudah cukup gelap dan radian hujan meteor berada di posisi tertinggi.
Sebaiknya biarkan mata beradaptasi sekitar 20–30 menit dalam kegelapan untuk meningkatkan sensitivitas menangkap kilatan meteor.
Jangan lupa, bawa jaket atau selimut tipis agar tetap hangat, serta minuman atau camilan untuk menemani begadang. Usahakan juga cek prakiraan cuaca sebelumnya. Langit cerah adalah kunci agar perburuan bintang jatuh tak sia-sia.
Bagi yang ingin mencoba, malam 28–30 Juli akan menjadi malam terbaik untuk menyaksikan kombinasi Southern Delta Aquariids, Alpha Capricornids, dan Piscis Austrinids.
Jika beruntung, kamu bisa melihat puluhan meteor melesat melintasi angkasa dalam satu malam. Jadi, siapkan agenda, ajak keluarga atau teman, dan nikmati pertunjukan alam gratis yang sayang dilewatkan!
Editor : Agung Sedana