Iptu Putu Ardana, Korban Kapal Karam pada Tahun 2000, Sempat Terombang-Ambing di Tengah Laut Hingga 12 Jam
Zamrozi Wahyu• Senin, 7 Juli 2025 | 15:22 WIB
Iptu Putu Ardana
RadarBanyuwangi.id – Tenggelamnya Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tunu Pratama Jaya di Selat Bali pada Rabu (2/6) dini hari, membuka kenangan kelam Kapolsek Cluring, Iptu Ardana. Malahan, sempat membuka trauma mendalam yang pernah dialami.
Maklum, Iptu Putu Ardana pernah mengalami dan menjadi salah satu korban yang selamat dalam kecelakaan kapal ferry yang tenggelam pada 10 Juni 2000, atau 25 tahun yang lalu. “Saya pernah menjadi korban, dan mengerikan sekali,” kata Iptu Putu Ardana.
Saat kapal yang ditumpangi tenggelam, Kapolsek Cluring bertugas sebagai penyidik di Mapolsek Muncar dan masih berumur 30 tahun dengan pangkat Sersan Dua (Serda) atau Brigedir Polisi Dua (Bripda). “Saya akan pulang ke Bali, istri saya masih di Bali,” terangnya seraya menyampaikan satu itu masih pengantin baru.
Saat naik kapal dan posisinya berada di tengah perairan Selat Bali, kapal yang dinaiki tidak bisa bersandar dan karam di tengah laut. “Kapal lama berputar-putar di tengah laut, tidak bisa sandar,” terang warga Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar itu.
Putu menyebut, kapal yang dinaiki tenggelam sekitar pukul 22.00. Kapalnya berangkat dari Pelabuhan Ketapang sekitar pukul 19.00. Saat kapal yang ditumpangi menuju Pelabuhan Gilimanuk atau sekitar satu kilometer dari daratan, tiba-tiba ombak besar datang menerjang kapal yang dinaikinya. “Saya naik Kapal Citra Mandala Pati,” jelasnya.
Ombak besar itu, jelas dia, terus menghantam kapal yang dinaiki dan air laut masuk ke dalam kapal. Karena tidak kuat menahan ombak, kapal oleng dan akhirnya karam. “Saat ombak besar datang, saya berada di kapal bagian atas dan sempat turun,” katanya.
Saat turun di bawah yang dibuat parkir kendaraan, Putu mengaku melihat situasi dan motor Yamaha King kesayangannya. Saat itu, air terus masuk ke kapal. “Melihat situasi sudah tidak aman, Saya kembali naik karena takut, dan semua penumpang panik” jelasnya seraya mengatakan melihat kondisi kapal akan karam langsung melompat membawa tas dan jaket pelampung.
Saat kapal karam, Putu mengaku ada yang menarik kakinya untuk minta pertolongan hingga sepatu yang dipakai copot satu. Namun, kondisi saat itu semua orang panik untuk menyelamatkan dirinya sendiri. “Sempat kayak ada orang yang menarik kaki, tetapi saya juga bingung menyelamatkan diri saya sendiri, tidak diketahui siapa itu, kondisi gelap karena tengah malam,” ujarnya.
Saat terombang-ambing di tengah laut itu, Putu mengaku hanya bisa pasrah. Semua terasa gelap, yang membuatnya bisa semangat dan bertahan senyum seorang bidan yang baru saja dinikahi. “Saat terombang-ambing itu saya menemukan matras yang yang terapung, dan itu yang dapat menyelamatkan saya,” cetusnya dengan kata menerawang ke langit-langit.
Satu matras yang ditemukan itu, sebenarnya dari kapal yang karam. Tapi, yang ditemukan hanya satu dan tidak dipakai sendirian. Tapi digunakan oleh empat orang penumpang kapal lainnya yang selamat. “Awalnya matras itu bertumpuk di dalam kapal, ada seseorang yang memotong dan berhamburan di laut,” jelasnya.
Setelah menemukan matras, Putu bersama empat orang yang lain bergantung hidup dengan mengikuti arus laut. Emat orang lain itu tiga laki-laki dan satu perempuan. Agar aman, yang perempuan di tengah matras, sedangan laki-lakinya berada di pinggir. “Mengikuti arus. Saat itu sekitar pukul 12 malam (24.00), sebelumnya terus dihantam ombak, kira-kira tingginya (ombak) segunung,” ungkapnya.
Tanpa disadari, matras yang dinaiki bersama empat korban lainnya terbawa arus laut hingga ke perairan Negara, Kabupaten Jembrana, Provinsi Bali. Sekitar pukul 10.00, ditengah laut ditemukan nelayan. “Saya dinaikkan perahu nelayan,” cetusnya.
Saat naik perahu nelayan itu, nyaris terjadi kecelakaan. Maklum, perahu kecil mendapat tambahan lima penumpang. Perahu nelayan sempat oleng, tapi akhirnya selamat sampai di pantai. “Jadi terombang ambing di laut sekitar 12 jam, dan dtemukan di perairan negara,” ujarnya.
Sesampai di Pantai Negara, Bali, didatangi oleh petugas untuk dilakukan pendataan. Saat dinyatakan selamat, sepatu tinggal satu dan baju yang dipakai robek karena ditarik orang yang minta pertolongan, namun tidak diketahui identitasnya. “Syukurnya bisa selamat, motor Yamaha King milik saya hilang bersama kapal yang tenggelam,” ungkapnya.
Meski selamat dari maut, Putu mengaku sempat trauma berat. Selama 12 jam terombang-ambing di tengah laut, membuat kejiwaannya sempat tergoncang. “Setiap ada kapal yang tenggelam, saya selalu ingat pengalaman itu, saya mencoba melupan, tapi tetap susah,” ujarnya.(cw3/abi)