RADARBANYUWANGI.ID - Insiden tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, Rabu malam (2/7), memunculkan fakta baru.
Kapal penyeberangan yang menempuh rute Ketapang–Gilimanuk itu ternyata sudah beberapa kali direncanakan untuk dijual.
Salah satu sumber internal yang enggan disebutkan namanya membenarkan bahwa kapal buatan tahun 2010 itu sempat tiga kali akan dilepas ke pembeli.
Akhir negosiasi untuk mencapai kesepakatan dijadwalkan pada Kamis (3/7) pagi. Owner KMP Tunu Pratama Jaya berencana menemui pembeli di Batam.
"Ini kali ketiganya kapal tersebut akan dijual. Pembeli adalah orang Batam, kapal mau dioperasikan di mana, belum tahu," ujar sumber Jawa Pos Radar Banyuwangi yang wanti-wanti namanya tidak disebutkan.
Namun, rencana itu batal setelah kapal karam di perairan yang dikenal berarus deras tersebut.
Sumber tadi menyebut, harga pasar KMP Tunu Pratama Jaya berkisar Rp 85 miliar, sementara jika kondisi baru bisa tembus Rp 115 miliar.
Selain itu, sumber tersebut dengan tegas menampik bahwa insiden kapal tenggelam bukan sabotase. Menurutnya, kapal tersebut masih sangat layak beroperasi.
“Ini bukan sabotase. Kapal masih layak operasi, ketebalan pelat baja masih sangat bagus. Maintenance juga rutin dilakukan. Jadi, kondisi teknisnya tidak ada masalah,” kata sumber tersebut.
Berdasarkan sumber internal yang ia peroleh, titik tenggelam kapal sudah dipastikan di sekitar koordinat terakhir, meski bangkai kapal diperkirakan bisa bergeser karena kuatnya arus bawah air.
Sementara untuk kerugian total yang bakal ditanggung perusahaan, diestimasi mencapai Rp 5 miliar lebih.
Jumlah tersebut sudah mencakup biaya ganti rugi, hingga santunan terhadap korban meninggal.
"Santunan, biaya pengembalian unit, barang muatan dan lainnya jika dihitung ada di angka miliaran. Belum lagi proses lain-lain hingga ke mahkamah pelayaran," jelasnya.
Sumber internal tadi juga menyoroti dugaan penyebab tenggelamnya kapal. Ia meragukan kebocoran ruang mesin sebagai faktor utama.
“Kalau hanya bocor kecil, air tidak akan langsung membuat kapal tenggelam dalam hitungan menit. Biasanya butuh waktu satu sampai satu setengah jam untuk genangan air naik," katanya.
Dia menduga, pintu belakang (buritan) sempat dibuka untuk buang asap supaya tidak pengap.
Sayangnya, pintu itu diduga tidak kedap air. Beban muatan kapal juga mendukung percepatan tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya tersebut.
"Selat Bali ini kan tidak punya ombak, adanya gelombang yang mengayun. Jadi naik turun. Sehingga air masuk melalui pintu tersebut dan dengan cepat memenuhi area dalam kapal," katanya. (cw4/aif)
Editor : Ali Sodiqin