RADARBANYUWANGI.ID - Tangis haru pecah di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Kamis (3/7) pagi.
Setelah sempat dinyatakan hilang dalam tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, yakni Riko Krafsanjani, putra Kepala Desa (Kades) Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, Sutoyo SH, akhirnya ditemukan dalam kondisi selamat.
Sekitar pukul 07.00 WIB, Riko yang merupakan salah satu kru kapal berhasil dievakuasi ke Pelabuhan Gilimanuk, Bali.
Dalam suasana penuh haru, ia langsung melakukan video call dengan keluarganya yang sejak dini hari berjaga di Pelabuhan Ketapang.
“Alhamdulillah, Riko selamat. Tadi sempat video call. Kami semua lega,” ujar seorang kerabat Riko, yang tak kuasa menahan air mata.
Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan nelayan lokal terus menyisir wilayah laut dan garis pantai Selat Bali.
Pantauan wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi menunjukkan suasana Pelabuhan Ketapang masih tegang dan emosional hingga sore kemarin.
Setiap kabar dari Gilimanuk langsung menjadi sorotan keluarga korban yang berharap ada keajaiban lain menyusul.
“Kami sudah tambah kapal untuk penyisiran laut. Fokus kami adalah menemukan korban secepat mungkin,” ujar Kapolresta Banyuwangi Rama Samtama Putra.
Sementara itu, di Bangsring, kabar selamatnya Riko langsung disambut syukur oleh warga setempat.
Sejumlah warga dan tokoh desa dikabarkan menggelar doa bersama sebagai bentuk rasa syukur atas keselamatan putra kades setempat.
“Ini mukjizat. Kami berdoa semoga korban lainnya juga ditemukan selamat,” ujar seorang tokoh masyarakat Bangsring.
Sementara itu, Jumadi, warga Desa Bayu, Kecamatan Songgon mengaku kehilangan enam anggota keluarganya dalam insiden tersebut. Dia tampak tak kuasa menahan haru saat memberikan keterangan kepada wartawan.
“Hingga pukul 16.00 tadi (kemarin) belum ada kabar. Saya sudah lapor ke posko. Istri saya, mertua, menantu, dan tiga cucu saya ikut dalam kapal itu. Ada tiga anak kecil, yang satu masih umur 3 tahun, satu TK, satu lagi kelas 6 SD,” ungkap Jumadi.
Jumadi mengaku baru mengetahui kejadian itu setelah dihubungi keluarganya di Bali yang merasa khawatir karena rombongan yang ditunggu tak kunjung tiba. Biasanya, kata dia, travel tersebut sudah sampai sejak pagi.
“Jam 8 pagi saya langsung berangkat dari rumah ke Pelabuhan Ketapang setelah cek berita dan menghubungi travel yang ditumpangi istri saya. Ternyata benar, kapalnya tenggelam,” ucapnya lirih. (cw6-M Ksatria Raya/sgt)
Editor : Ali Sodiqin