RADARBANYUWANGI.ID – Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di perairan Selat Bali menyisakan luka mendalam sekaligus pertanyaan besar soal kelayakan kapal penyeberangan yang masih aktif beroperasi.
Berdasarkan penelusuran Jawa Pos Radar Banyuwangi, kapal ini ternyata sudah berusia 15 tahun dan diduga kuat tidak layak berlayar.
Kapal berbendera Indonesia itu secara resmi tercatat sebagai buatan Balikpapan tahun 2010, namun sumber internal pelayaran menyebutkan bahwa struktur aslinya jauh lebih tua dari dokumen resmi.
Dugaan ini semakin diperkuat oleh kondisi kapal yang disebut sudah tidak prima sejak meninggalkan Pelabuhan Ketapang, Rabu malam (2/7/2025) pukul 22.56 WIB.
Kebocoran Mesin Jadi Titik Awal Tragedi
Sekitar pukul 00.16 WITA, informasi pertama soal kapal yang bermasalah diterima melalui channel radio 17. KMP Tunu Pratama Jaya dilaporkan mengalami kebocoran di ruang mesin.
“Begitu air masuk ruang mesin, kapal langsung blackout. Tidak ada genset cadangan di bagian atas seperti standar kapal baru,” ujar salah satu awak kapal yang selamat, kepada Jawa Pos.
Kronologi singkat dari laporan resmi Dermaga LCM Gilimanuk menunjukkan perkembangan situasi berlangsung sangat cepat:
- 00.16 WITA – Kru kapal mengirim sinyal darurat lewat channel 17, melaporkan kebocoran mesin.
- 00.19 WITA – Kapal mengalami pemadaman total (blackout).
- 00.22 WITA – Laporan dari kapal lain menyebut KMP Tunu Pratama Jaya telah terbalik dan hanyut ke arah selatan pada koordinat -08°09.371', 114°25.1569'.
Kapal yang mengangkut 53 penumpang, 12 kru, dan 22 kendaraan itu kini menjadi salah satu tragedi laut paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir di Selat Bali.
Spesifikasi Teknis yang Sudah Tertinggal Zaman
Data teknis yang dihimpun Jawa Pos Radar Banyuwangi dari otoritas pelayaran menunjukkan kapal ini berada di kelas menengah:
- Panjang keseluruhan: 65,15 meter
- Lebar: 12,20 meter
- Kecepatan maksimum: 10 knot
- Konsumsi BBM: 5 ton/hari
- Tangki BBM: 75 ton
- Kapasitas air bersih: 40 ton
- Mesin utama: 2 x Glahm-STE3 60 HP (Yanmar)
- Auxiliary Engine:
o 2 x Yuchisi Marine 50 KW Type 4108ZC
o 4 x Mitsubishi Type 6D14
- Sistem Navigasi: Radar RDP-141, GPS GP-32, Radio SSB IC-M710
Namun dari sisi keselamatan, sistem kelistrikan dan antisipasi daruratnya disebut jauh dari standar kapal modern, termasuk minimnya sistem cadangan saat blackout.
Peringatan untuk Armada Tua
Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi pengawasan kelayakan armada kapal penyeberangan, khususnya di jalur padat seperti Ketapang–Gilimanuk.
Banyak kapal tua yang masih dipaksa beroperasi karena alasan ekonomi. Tapi keselamatan penumpang seharusnya tidak bisa ditawar,” tegas seorang pengamat transportasi laut nasional kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi, yang enggan disebutkan namanya.
Ia menyarankan agar kapal-kapal berusia di atas 20 tahun harus menjalani uji kelayakan ulang secara berkala dengan audit terbuka.
“Kalau memang sudah tak layak, harus dicabut izinnya. Jangan tunggu tenggelam dulu baru ribut,” ujarnya.
Otoritas pelayaran sendiri berjanji akan menyelidiki tuntas dokumen kapal, termasuk doking terakhir serta dugaan manipulasi tahun pembuatan kapal.
Sementara itu, proses pencarian dan penyelamatan korban masih berlangsung. Sejumlah armada tambahan telah diterjunkan untuk menyisir area jatuhnya kapal.
Tim SAR berharap, cuaca laut bersahabat agar evakuasi berjalan maksimal. (*)
- Ikuti terus berita ter-update Radar Banyuwangi di Google News.