RADARBANYUWANGI.ID - Di tengah rimbunnya hutan Taman Nasional Alas Purwo (TNAP), Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, berdiri sebuah gua yang tak pernah sepi dari peziarah. Namanya Gua Istana.
Tempat ini bukan gua biasa. Konon, Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, pernah berkhalwat di tempat sakral ini.
Tak heran, setiap musim politik seperti sekarang, gua ini ramai didatangi mereka yang memiliki hajat besar: mencalonkan diri sebagai kepala desa, anggota dewan, bahkan calon kepala negara.
“Bahkan beberapa capres juga pernah ke sini, tapi ya diam-diam, nggak diumumkan ke publik,” ujar Joko Lelono, salah satu petapa yang rutin bermeditasi di Gua Istana.
Pada malam 1 Suro lalu, ribuan orang dari berbagai daerah berbondong-bondong ke Alas Purwo.
Mereka melakukan beragam ritual. Mulai semedi, tirakatan, sekedar berwisata, dan ragam kegiatan lainnya.
TNAP memiliki sekitar 40 gua yang tersebar di dalam kawasan hutan lindung.
Namun dari jumlah itu, hanya lima yang dikenal dan paling sering dikunjungi.
Di antaranya Gua Padepokan, Gua Mayangkoro, Gua Mangleng, Gua Kucur, dan tentu saja, Gua Istana.
Gua Istana jadi primadona karena aksesnya yang relatif lebih mudah.
Lokasinya sekitar 67 km dari pusat Kota Banyuwangi, atau cukup berjalan kaki 2 km dari Pos Pancur—gerbang kedua di dalam TNAP.
Dibanding gua lain, medan menuju Gua Istana lebih bersahabat, meski di musim hujan seperti sekarang tetap menantang.
“Kalau musim hujan, licin dan becek. Tapi tetap banyak yang datang, apalagi yang sedang lelaku,” kata Joko.
Gua yang memiliki panjang sekitar 30 meter dan lebar 8 meter ini terbentuk akibat pergeseran lempeng bumi.
Karakter dinding gua yang dipenuhi cangkang kerang menjadi saksi bisu bahwa dulunya tempat ini berada di dasar laut.
Di dalamnya, aroma dupa dan kemenyan hampir selalu tercium.
Asap putih pekat memenuhi ruangan sempit, bercampur dengan heningnya malam dan lantunan doa dari para petapa yang tengah tirakat.
Satu-satunya penerangan hanya nyala bara dari dupa yang mereka bakar.
“Kalau di Gua Istana ini enaknya ada sumber air. Jadi lebih nyaman buat mereka yang mau bermalam berhari-hari,” jelas Joko.
Menurutnya, banyak dari para peziarah yang sengaja bermalam hingga mendapatkan wisik atau petunjuk gaib.
Baru setelah itu, mereka meninggalkan gua dengan keyakinan mantap atas jalan hidup yang akan mereka tempuh.
Tak hanya tokoh spiritual atau peminat ilmu kanuragan, pengunjung Gua Istana didominasi mereka yang tengah mencari restu untuk karier politik.
“Dari calon kepala desa sampai DPR sering ke sini. Tapi nggak semua orang tahu siapa saja yang datang, karena biasanya memang tidak mau disorot,” ujarnya.
Gua Istana kini bukan hanya jadi simbol spiritualitas Jawa, tetapi juga magnet bagi mereka yang ingin meraih puncak kekuasaan lewat jalan tirakat.
Di balik sunyinya gua, tersimpan harapan dan ambisi para pencari takhta. (*)
Editor : Ali Sodiqin