RADARBANYUWANGI.ID - Ribuan pengunjung merayakan malam 1 Suro atau 1 Muharram 1447 H yang jatuh pada Kamis (26/6) malam di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) di Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo. Mereka kebanyakan datang untuk melakukan ritual.
Di hutan lindung itu, dipercaya banyak tempat wingit yang dulunya menjadi tempat bersemedi atau petilasan raja-raja Jawa, sehingga doanya dipercaya akan terkabulkan.
“Setiap malam 1 Suro saya tirakatan di sini,” terang salah satu warga yang mengaku dari Jogjakarta.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Genteng saat berkunjung ke Alas Purwo pada malam 1 Suro, memasuki pintu masuk di Resort Rowobendo langsung disambut dengan wewangian kemenyan dan dupa. Dua benda itu dibakar oleh para pengunjung yang hendak melakukan ritual.
Yang datang pada malam itu bukan hanya masyarakat biasa, bahkan ada para pejabat yang memiliki urusan khusus juga banyak yang datang.
Selain memiliki keperluan khusus, di antara mereka juga ada yang hanya ingin menikmati keramaian di Alas Purwo pada malam 1 Suro.
“Setiap 1 Suro sangat ramai,” terang Sarbini, warga Desa Kalipait, Kecamatan Tegaldlimo.
Meski turun hujan deras, pengunjung yang ingin melakukan ritual tetap banyak berdatangan.
Di antara mereka ada yang mendirikan tenda di sekitar Pantai Pancur dan Pantai Triangulasi. Setelah melakukan ritual, mereka beristirahat di tenda yang didirikan.
“Yang banyak didatangi untuk ritual itu Goa Istana, Parang Ireng, dan Goa Mayangkara. Mereka istirahat (melekan) di tendanya masing-masing,” kata Kasi Pengelolaan TNAP, Noviari Utami.
Ada ribuan pengunjung yang hadir di TNAP pada malam 1 Suro. Semakin malam, warga yang datang juga semakin banyak. Karena banyaknya pengunjung, parkiran di Pantai Pancur sampai penuh.
“Pengunjung yang hadir sekitar 2.000 orang. Mereka menunggu pergantian tahun, setelah pukul 00.00 banyak yang pulang,” terangnya.
Menurut Novi, pengunjung yang hadir memiliki berbagai kepentingan ritual. Ritual itu dilakukan berdasarkan kepercayaan masing-masing.
“Ada yang berendam di Parang Ireng, ada yang mandi di Pancur, ada yang berdoa sesuai kepercayaan, dan ada yang melakukan selametan dengan membawa bekal dari rumah,” jelasnya seraya mengatakan setelah ritual kebanyakan membawa air sumber dari Goa Istana atau tempat ritual lainnya.
Meski menggelar kegiatan malam hari di tengah hutan, keamanan dijaga penuh oleh anggota kepolisian, TNI, dan petugas TNAP. Sedangkan untuk kesehatan, dikerahkan petugas medis dari Puskesmas Tegaldlimo.
“Anggota kami kerahkan ke beberapa titik mulai pukul 18.00. Yang utama di Pancur dan Triangulasi, itu pusat keramaian pengunjung,” kata Kapolsek Tegaldlimo, Iptu Sadimun.
Salah satu pengunjung, Iswanto (53), asal Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, berangkat dari rumahnya menggunakan sepeda onthel. Iswanto nekat berangkat dengan tujuan ritual meminta keselamatan dalam hidupnya.
“Setiap tahun hadir ke Alas Purwo pada malam 1 Suro untuk melakukan ritual,” katanya.
Jauh dari rumah berkendara sepeda onthel, kata dia, bermodal keyakinan dan tekad. Ketika lapar, ia menunggu belas kasih dari orang yang dermawan.
“Makannya nunggu ada yang ngasih, tapi setiap perjalanan pasti ada orang yang memberi makan atau uang,” ujarnya.
Iswanto mengatakan, telah menelateni berkunjung ke berbagai tempat di Indonesia menggunakan sepeda onthel. Ia mengaku telah berkunjung ke Sabang sampai Merauke.
“Insya Allah, setelah dari sini (Alas Purwo), bulan September 2025 saya akan berkunjung ke Makkah menggunakan sepeda onthel,” katanya sembari menunjukkan sertifikat kunjungan ke 0 Kilometer menggunakan sepeda onthel.
Editor : Agung Sedana