RADARBANYUWANGI.ID – Di tengah rencana megah perbaikan Jalur Gunung Gumitir, penghubung utama Jember dan Banyuwangi, ada suara lirih yang nyaris tak terdengar.
Suara itu datang dari gubuk-gubuk kecil di setiap tikungan, tempat di mana puluhan tukang awe-awe mangkal.
Salah satunya dari seorang lelaki tua bernama Purwadi (65), saban hari ia berdiri menyambut debu, klakson, dan deru truk besar yang melintas.
Bagi sebagian orang, penutupan total Jalur Gumitir selama dua bulan ke depan mungkin hanya sekadar informasi lalu lintas.
Tapi bagi Purwadi, ini adalah peristiwa yang mengguncang pundi-pundi penghasilannya.
"Keberatan kalau tutup, apalagi dua bulan," ucapnya pelan, menatap jalanan yang sebentar lagi akan sepi dari kehidupan.
"Kalau ditutup total, saya libur. Mau kerja apa? Nggak ada kendaraan lewat," ia menambahkan.
Sejak lebih dari satu dekade lalu, lelaki asal Kecamatan Silo, Jember, ini menjalani profesi sebagai tukang awe-awe, pengarah kendaraan di tanjakan dan tikungan ekstrem Gumitir.
Tidak ada gaji, tidak ada jaminan. Hanya mengandalkan sekeping saweran harapan dari sopir-sopir yang berbaik hati menyisihkan receh.
Di usianya yang tak lagi muda, mencari pekerjaan lain bukan pilihan mudah.
Tangannya mulai gemetar, pendengarannya tak setajam dulu, tapi matanya masih jeli menangkap arah kendaraan, itulah satu-satunya aset hidupnya.
"Saya nggak bisa apa-apa lagi. Ini satu-satunya cara saya bisa makan," katanya lirih.
Rencana penutupan total jalur vital yang menghubungkan Banyuwangi dan Jember itu memang beralasan.
Kondisi jalan yang rawan longsor dan rusak parah mengancam keselamatan. Pemerintah berencana melakukan perbaikan besar-besaran mulai awal Juli hingga akhir Agustus 2025.
Namun, di balik tujuan mulia itu, ada realitas getir yang terabaikan. Ada kehidupan-kehidupan kecil yang terikat erat pada setiap kendaraan yang lewat.
Ada Purwadi, dan banyak lainnya, yang hidupnya berdenyut seiring irama truk yang mendaki.
Ia hanya meminta satu hal. Bukan uang, bukan ganti rugi. Hanya kesempatan untuk tetap bertahan.
"Kalau bisa jangan tutup total. Buka-tutup saja cukup. Biar kami masih bisa napas," pinta dia.
Editor : Agung Sedana