RADARBANYUWANGI.ID – Pada malam pergantian tahun Jawa yang dikenal dengan malam 1 Suro biasanya ribuan orang bakal berbondong-bondong menuju Taman Nasional Alas Purwo, Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi.
Mereka datang dari berbagai penjuru daerah bahkan luar negeri untuk menjalani ritual spiritual di hutan yang dikenal paling wingit di Pulau Jawa tersebut.
Sejak sore hari, antrean kendaraan sudah banyak yang berada di jalur menuju Pantai Pancur – salah satu lokasi wisata di kawasan sakral tersebut.
Di titik ini, para peziarah memulai perjalanan spiritual mereka. Ada yang berjalan kaki menuju gua pertapaan, ada pula yang memilih berdoa di situs-situs keramat sekitar pura.
“Malam 1 Suro ini jumlah pengunjung biasanya mencapai ribuan. Tidak hanya warga Banyuwangi, tapi juga dari luar daerah. Bahkan ada yang dari luar negeri,” ujar Hilman, salah satu warga di sekitar lokasi.
Menurut Hilman, keramaian malam 1 Suro di Alas Purwo memang rutin terjadi setiap tahun.
Petugas gabungan dari kepolisian, TNI, dan petugas taman nasional seringkali disiagakan untuk memastikan keamanan selama perayaan berlangsung.
Dia mengimbau agar pengunjung tetap menjaga kesopanan dan norma selama berada di kawasan hutan Alas Purwo.
"Karena situasinya di hutan dan disakralkan," ungkapnya,” katanya.
Lokasi Favorit Tempat Tirakat
Puncak kegiatan berlangsung di dua gua utama: Gua Istana dan Gua Mayangkara.
Lokasinya berjarak sekitar 2 kilometer dari Pantai Pancur. Gua-gua tersebut menjadi tempat semedi dan tirakatan para pelaku spiritual.
Sebelum menuju gua, para pengunjung yang beragama Hindu terlebih dahulu bersembahyang di Situs Kawitan, tepat di samping Pura Agung Giri Salaka.
Situs Kawitan sendiri dipercaya sebagai petilasan Mpu Bharada, guru Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan.
“Setiap petapa harus meminta izin dulu di Situs Kawitan sebelum melakukan laku tapa. Ini sudah menjadi pakem,” ujar Muri, juru kunci situs tersebut.
Menurut Muri, situs tersebut diberi nama kawitan yang berarti ‘awal mula’, karena banyak peristiwa sejarah diyakini bermula dari sana.
“Dulu tempat ini juga digunakan untuk belajar bercocok tanam dan ilmu pengairan oleh Mpu Bharada,” ungkapnya.
Banyak Wisatawan yang Bermalam
Sementara itu, Rudi Hartono, warga Banyuwangi yang rutin datang setiap malam 1 Suro, mengaku selalu merasakan panggilan batin untuk menyepi di Alas Purwo.
“Setiap malam 1 Suro seperti ada yang membisikkan untuk kembali ke gua. Bukan untuk mencari hal gaib, tapi untuk mengasah diri, menyucikan batin,” kata pria yang sudah 10 tahun berturut-turut menjalani ritual tersebut.
Dengan membawa perbekalan secukupnya, Rudi berjalan kaki menuju Gua Istana dan bermalam di sana.
“Besok pagi pulang. Tapi semangatnya tetap sama: mencari ketenangan dan membersihkan diri dari energi negatif,” ujarnya.
Diketahui, ritual malam 1 Suro di Alas Purwo dipercaya sebagai sarana untuk membuang sial dan memperkuat spiritualitas.
Selain itu, suasana hening, gelap, dan penuh mistisnya hutan Alas Purwo diyakini memperkuat koneksi batin para pelaku ritual dengan alam semesta. (*)
Editor : Ali Sodiqin