Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Potret Unik Tertangkap Kamera Gunung Raung Erupsi, Eyang Semar Sedang Shalat Menghadap Kiblat

Agung Sedana • Sabtu, 21 Juni 2025 | 13:10 WIB
Penampakan siluet mirip Semar di puncak Gunung Raung yang sedang erupsi.
Penampakan siluet mirip Semar di puncak Gunung Raung yang sedang erupsi.

RADARBANYUWANGI.ID - Sebuah penampakan mengejutkan tertangkap kamera saat Gunung Raung tengah erupsi. Siluet yang menyerupai tokoh pewayangan legendaris, Semar, tampak terbentuk dari gumpalan abu vulkanik yang membumbung dari kawah utama.

Sosok yang dikenal sebagai Kiai bijak dan tokoh spiritual dalam cerita pewayangan Jawa ini terlihat samar namun jelas sedang berdiri seolah mengawasi dari balik letusan gunung.

Fenomena ini terjadi bertepatan dengan kunjungan Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto, ke Banyuwangi pada 14 Juni 2025 lalu.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi, Gunung Raung saat itu sedang berada dalam fase erupsi aktif. Kolom abu mencapai ketinggian sekitar 1.500 meter, disertai empat kali gempa letusan.

Siluet yang terbentuk dari kolom abu vulkanik itu sontak menjadi perbincangan warga sekitar, terutama para penganut kejawen yang menyebut penampakan tersebut sebagai Eyang Semar.

Foto tersebut diambil dari Jl. KH. Hasanuddin, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, pada sore hari saat cahaya matahari condong dan kontras siluet tampak lebih dramatis.

Tidak sedikit yang menganggap ini sebagai pertanda, atau sekadar fenomena alam yang kebetulan membentuk figur ikonik dari budaya Jawa.

Dalam budaya Jawa, nama Semar bukan sekadar tokoh wayang. Ia adalah simbol kebijaksanaan, pelayan yang lebih agung dari raja, dan figur spiritual yang menyimpan banyak pesan moral.

Salah satu hal yang sering mengundang rasa penasaran adalah posisi tangannya, satu tangan disembunyikan di belakang, dan satu lagi menunjuk ke depan. Mengapa begitu?

Ternyata, gestur tangan ini bukan asal-asalan. Bagi masyarakat Jawa, setiap bagian dari tubuh Semar menyimpan filosofi.

Tangan kanan Semar yang menunjuk ke depan melambangkan arah tujuan hidup. Bahwa manusia harus punya visi dan cita-cita. Tapi tak cukup hanya itu.

Menariknya, gestur tangan menunjuk ke depan yang dilakukan Semar ternyata memiliki kemiripan dengan simbol dalam ajaran Islam. Yakni isyarat jari telunjuk saat tasyahud dalam shalat.

Kebetulan, dari Banyuwangi, Gunung Raung berada di arah Utara. Potret abu vulkanik Semar itu persis menghadap Barat atau Kiblat.

Dalam Islam, jari telunjuk yang diangkat saat duduk tasyahud bukan sekadar gerakan fisik, tetapi mengandung makna tauhid. Yang berarti kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Jari telunjuk itu menunjuk lurus ke depan, menandakan keesaan, arah yang benar, dan jalan hidup yang tidak boleh melenceng.

Ini selaras dengan filosofi tangan Semar yang menunjuk ke depan sebagai simbol arah kehidupan yang benar, bahwa manusia harus tahu ke mana dia akan melangkah, dan tujuan akhirnya baik dalam makna dunia maupun akhirat.

Dalam konteks spiritual, itu bisa dimaknai sebagai kesadaran akan tanggung jawab manusia terhadap Tuhannya dan terhadap masa depan yang akan dipertanggungjawabkan.

Sementara tangan kirinya yang disembunyikan di belakang, dalam perspektif Islam juga dapat dimaknai sebagai sikap rendah hati, tidak pamer amal, dan menjaga niat agar selalu bersih.

Tentu ini sejalan dengan nilai ikhlas yang sangat dijunjung dalam ajaran Islam.

Masyarakat Jawa juga percaya tangan yang mengepal di belakang punggung punya arti bahwa jangan lupakan asal-usulmu. Sebanyak apapun pencapaian, sehebat apapun masa depan, manusia tidak boleh lupa pada akar dan leluhurnya.

Lebih dari itu, filosofi tersebut juga berbicara tentang kepemimpinan. Semar, meski secara fisik tampak lucu, gendut, dan berwajah rakyat jelata, adalah pengasuh para ksatria.

Tangan menunjuk ke depan berarti pemimpin harus mampu memberikan arah. Tapi tangan di belakang menunjukkan bahwa pemimpin sejati selalu menahan diri, tak serakah, dan siap mengayomi tanpa pamrih.

Sikap Semar inilah yang menjadikannya tokoh favorit lintas generasi. Ia tidak hanya muncul dalam cerita pewayangan, tetapi juga dipercaya sebagai penjelmaan dewa, bahkan dalam beberapa kepercayaan lokal dianggap sebagai penjaga spiritual tanah Jawa.

Dari sinilah terlihat bahwa budaya Jawa, melalui tokoh Semar, bukan hanya mengajarkan nilai luhur yang khas Nusantara, tapi juga selaras dengan prinsip-prinsip keislaman yang universal.

 

Editor : Agung Sedana
#Erupsi #Semar #gunung raung #banyuwangi