RADARBANYUWANGI.ID - Sebuah penampakan mirip tokoh dalam cerita pewayangan, Semar, muncul di puncak Gunung Raung yang sedang erupsi.
Sosok yang disebut sebagai Kiai kondang di cerita pewayangan Jawa ini tersiluet dari gumpalan abu vulkanik.
Penampakan Semar ini bertepatan dengan kunjungan Kapolda Jawa Timur, Irjen Pol Nanang Avianto ke Banyuwangi pada 14 Juni 2025 lalu.
Pantauan Jawa Pos Radar Banyuwangi saat itu, Gunung Raung tercatat sedang erupsi dan melontarkan abu vulkanik setinggi 1.500 meter. Dengan total 4 kali gempa letusan/erupsi saat itu.
Kolom abu yang membubung dari kawah utama terlihat membentuk siluet menyerupai sosok legendaris pewayangan Jawa. Beberapa penganut kejawen menyebutnya Eyang Semar.
Potret Semar itu diambil dari Jl. KH. Hasanuddin, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng. Tepatnya pada sore hari.
Jika diamati, kolom abu erupsi bagian atasnya membulat seperti kepala, tubuh pendek gemuk, dan kesan figur manusia yang sedang duduk menatap ke depan. Lengkap dengan pose tanggan ikoniknya. Yakni pose jari menunjuk.
"Jelas banget itu eyang semar.. semoga diberi kesehatan, keselamatan dan dalam lindungan Allah beserta perangkatnya...Aminn3x ya mujibassailin," tulis akun TikTok @heldhan_xander di kolom komentar.
Sekilas tentang Semar. Ia adalah tokoh spiritual yang sering dianggap sebagai penjaga dan pengayom tanah Jawa.
Semar bukan sekadar tokoh dagelan atau punakawan yang setia mendampingi para ksatria.
Ia dipercaya sebagai sosok spiritual tertinggi, penjelmaan dewa yang memilih hidup sederhana demi membimbing manusia.
Wujudnya yang terkesan ikonik dengan perut buncit, dan kadang dianggap remeh justru mengandung filosofi mendalam. Bahwa kebijaksanaan tidak selalu hadir dalam bentuk gagah, dan bahwa kebenaran sering tersembunyi di balik kesederhanaan.
Baca Juga: 5 Gunung Erupsi Jelang Malam 1 Suro, Alam Seakan Kirim Isyarat!
Bagi sebagian kalangan spiritual Jawa, Semar dianggap sebagai penjaga alam, pelindung masyarakat kecil, dan simbol keseimbangan antara kekuatan langit dan bumi.
Kemunculan bentuk awan erupsi yang menyerupai dirinya pun dianggap bukan sekadar kebetulan belaka, melainkan bisa menjadi sebuah pertanda atau pengingat.
Erupsi Jelang Bulan Suro, Isyarat Alam?
Fenomena ini terjadi menjelang malam 1 Suro. Bulan yang konon sarat makna dan diyakini penuh kekuatan gaib.
Dalam tradisi Jawa, Suro bukan hanya awal tahun baru, tapi juga waktu ketika alam sering "membersihkan diri" dari energi negatif, lewat kejadian-kejadian alam seperti badai, banjir, bahkan letusan gunung.
Tak heran jika muncul spekulasi bahwa erupsi Gunung Raung kali ini bukan hanya peristiwa geologis biasa, tetapi juga bisa dibaca sebagai pesan alam.
Terlebih lagi, munculnya “Semar” di tengah letusan itu menguatkan kepercayaan sebagian orang bahwa ada peran kekuatan tak kasat mata dalam menjaga keseimbangan tanah Jawa.
Meski demikian, secara ilmiah, aktivitas Gunung Raung memang menunjukkan peningkatan sejak awal Juni. Hingga 20 Juni, PVMBG mencatat adanya erupsi ringan berkala dengan ketinggian abu mencapai 2.000 meter.
Status tetap di Level II (Waspada), dan masyarakat diimbau tidak beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah.
Editor : Agung Sedana