RADARBANYUWANGI.ID – Fenomena alam kembali menyita perhatian publik. Menjelang malam 1 Suro dalam penanggalan Jawa, lima gunung berapi di Indonesia tercatat mengalami erupsi dalam waktu berdekatan.
Kondisi ini memantik kekhawatiran, sekaligus memunculkan beragam spekulasi dari masyarakat.
Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores menjadi yang paling mencolok.
Sejak 17 Juni lalu, gunung ini menyemburkan kolom abu setinggi lebih dari 10 kilometer, bahkan sempat mengganggu lalu lintas udara hingga ke wilayah Bali dan Nusa Tenggara.
Statusnya dinaikkan ke Level IV (Awas), peringatan tertinggi dalam skala aktivitas vulkanik.
Tak lama berselang, Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, juga melontarkan abu vulkanik setinggi 700 meter pada Kamis pagi (20/6/2025).
Meski statusnya masih Level II (Waspada), PVMBG mencatat peningkatan signifikan pada gempa letusan dan guguran lava.
Sementara itu di Maluku Utara, Gunung Dukono kembali erupsi aktif. Letusan terakhir menyemburkan abu setinggi 1.000 meter.
Dalam seminggu terakhir, gunung ini telah mengalami lebih dari dua puluh kali erupsi kecil.
Tak ketinggalan, Gunung Raung di perbatasan Banyuwangi dan Bondowoso juga terpantau mengeluarkan aktivitas vulkanik.
PVMBG melaporkan getaran tremor menerus dan hembusan abu meski intensitasnya masih terkontrol.
Gunung kelima, Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, juga memperlihatkan gejala erupsi berulang.
Meski belum sebesar Lewotobi, aktivitasnya sudah berlangsung sejak Mei 2025 dan terus menunjukkan dinamika magma yang aktif.
PVMBG, dalam keterangannya, mengingatkan masyarakat untuk tetap tenang namun waspada.
Fenomena Erupsi bersamaan ini bukanlah kejadian langka, ini sangat memungkinkan karena Indonesia berada di zona cincin api Pasifik.
Namun demikian, api intensitasnya kali ini tergolong cukup tinggi di beberapa titik sekaligus.
Dibalik peringatan ilmiah tersebut, banyak masyarakat terutama di Jawa menafsirkan ini sebagai “isyarat alam” jelang malam 1 Suro, malam yang dikenal sakral dalam tradisi kejawen.
Tidak sedikit yang mengaitkannya dengan pertanda besar, termasuk datangnya perubahan energi, bencana, atau peristiwa spiritual besar.
Meski demikian, para ahli tetap menekankan pentingnya mengedepankan data ilmiah dibanding spekulasi berlebihan.
"Kesiapsiagaan lebih penting daripada kekhawatiran yang tidak berdasar,” ucap M. Roisul, salah satu pengamat kebencanaan di Jawa Timur.
Editor : Agung Sedana