RADARBANYUWANGI.ID - Gunung Raung merupakan gunung berapi aktif di perbatasan Kabupaten Banyuwangi, Jember, dan Bondowoso.
Sejak Kamis (5/6), gunung dengan ketinggian 3.332 mdpl itu terus menunjukkan aktivitas vulkanik.
Berikut wawancara Jawa Pos Radar Genteng dengan dengan Kepala Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Raung Agung Tri Subekti.
Seperti apa kondisi Gunung Raung saat ini?
Selama 10 hari, mulai Kamis (5/6) sampai Sabtu (14/6), Gunung Raung sudah erupsi sebanyak 49 kali. Kondisinya hingga sekarang masih didominasi tremor menerus seismiknya.
Gempa vulkanik seperti apa?
Untuk (gempa) vulkaniknya masih belum ada. Erupsinya terkadang menerus, terkadang tidak, sementara itu, pantauan abu juga asap terkadang putih, namun juga kerap terlihat kelabu. Semakin banyak abu, akan semakin gelap.
Dari erupsi-erupsi tersebut, material apa yang keluar dari kaldera? Seperti apa ancaman bahayanya?
Hingga saat ini yang terpantau keluar dari kaldera Raung adalah gas dan abu. Untuk lava pijar sepertinya belum ada, karena dari foto-foto satelit dan CCTV, belum ditemukan adanya lava pijar. Ancaman bahayanya sekarang ini berupa lontaran kerikil atau batu-batu, dan juga gas beracun di radius 3 kilometer dari dalam kawah. Sedangkan ancaman abu tergantung dari tinggi lontaran dan arah anginnya. Jika lontarannya semakin jauh dan anginnya semakin kencang, itu akan memengaruhi sehingga tidak bisa diprediksi. Sejauh ini di Banyuwangi belum ada informasi dampak abu ini.
Ada pengakuan dari beberapa warga, yang mendengar suara gemuruh dari arah kaki gunung, apakah itu berkaitan dengan aktivitas vulkanik Raung?
Biasanya kalau muncul gemuruh itu saat sudah muncul lava flow atau magma yang sudah keluar dari titik erupsi. Itu nanti akan terjadi letupan-letupan sehingga menimbulkan suara gemuruh. Sementara ini belum terpantau ada lava flow yang terdeteksi. Insya Allah, gemuruh yang didengar itu bukan karena Raung, mungkin itu karena badai petir yang terjadi di balik gunung tersebut.
Sudah berulang kali erupsi, kenapa status Gunung Raung tidak naik? Apa indikator status bencana sebuah gunung meningkat?
Status gunung itu berdasarkan ancaman bahayanya. Terkadang ada yang mengira saat gunung tidak terjadi apa-apa, itu statusnya normal. Ketika akan erupsi jadi waspada, dan ada kenaikan lagi jadi siaga dan awas, itu pemahaman yang keliru. Sekarang sudah tidak seperti itu lagi. Status gunung api itu berdasarkan ancaman bahayanya. Jadi, seberapa jauh jangkauan bahaya yang dihasilkan erupsi tersebut. Di Gunung Raung sendiri saat ini masih waspada, yakni dari area bahaya 3 kilometer. Nanti ketika tingkat bahayanya melebihi bisa dinaikkan statusnya.
Apakah ada potensi Gunung Raung mengalami kondisi peningkatan status tersebut?
Melihat dari kegempaan, seismik, GPS, dan pantauan visual, belum ada potensi naik jadi siaga (level III). Karena untuk siaga itu berarti sudah ada lontaran lava pijar melebihi 3 kilometer. Atau ketika ada kegempaan yang besar dan tremor menerusnya semakin besar, mungkin bisa dinaikkan ke siaga. Pada 2015, gunung ini pernah mengalami erupsi besar sampai ada lontaran lava pijar hingga menyebabkan kebakaran hutan, saat itu naik siaga.
Tanggapan Anda soal jalur pendakian yang sempat buka meski sedang terjadi erupsi?
Kalau kami konsisten, rekomendasi kami tidak masuk melebihi radius aman 3 kilometer. Tapi untuk terkait pembukaan atau penutupan itu bukan wewenang kami. Kalau status waspada di luar tiga kilometer, insya Allah tidak (bahaya) kalau status waspada.
Saat kondisi Raung seperti ini, PPGA perlu menjalin sinergi dengan berbagai pihak, termasuk dari pemerintah. Bagaimana PPGA Raung membangun hal tersebut?
Komunikasi dengan stakeholder selalu kami lakukan, baik saat normal atau tidak erupsi maupun terjadi erupsi seperti ini. Setiap pagi setelah pembuatan laporan, kami selalu teruskan ke BPBD Banyuwangi, Jember, Bondowoso atau bahkan Jatim. Kemudian kami sebarkan ke kepolisian dan TNI, juga pihak-pihak lain seperti Bandara Banyuwangi. Selain itu kami juga sering membuat laporan khusus, kalau dulu mungkin sebutannya press release.
Kendala apa saja saat melakukan pengamatan Gunung Raung, apa solusinya?
Halangan saat ini jika kondisi kabut, maka pengamatan visual ke arah puncak sering tidak dapat dilakukan dengan baik. Namun demikian, dari PVMBG akan melakukan pemasangan CCTV tambahan sebagai solusi dari kendala ini. Itu rencananya dipasang di puncak terowongan Gunung Ijen dan di Kecamatan Sumberwringin, Bondowoso.
Apa tantangan dan tugas terberat menjadi anggota PPGA?
Jam kerja kami 24 jam, setiap hari tidak ada hari libur, itu dengan jumlah personel yang hanya empat orang. Karena itu, kami melakukan pembagian piket untuk menjaga agar pemantauan tetap berlangsung dengan optimal. Tantangannya, salah satunya lokasi kami ini berada di pinggiran yang bisa dikatakan hutan. Dengan kondisi gedung yang sepi, saat malam kami hanya piket sendiri dengan dituntut harus tetap fokus dan maksimal.
Anggota PPGA harus tetap berada di pos meskipun hari besar seperti hari raya atau yang lain. Bagaimana cara mengatasi hal itu?
Ini sudah risiko pekerjaan, tapi ketika Lebaran kami biasanya giliran. Jadi dari empat orang, dua orang mudik, dua orang tidak mudik. Kebetulan dari kami semuanya dari Jogjakarta dan hanya saya yang dari Tulungagung. Jadi ketika kebagian piket, ya keluarga diajak Lebaran di sini. (sas/abi/c1)
Editor : Ali Sodiqin