RADARBANYUWANGI.ID - Hari itu Jumat Pon, 3 Juni 1994. Waktu menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Saat sebagian besar warga Banyuwangi tengah terlelap dalam sunyi, laut tiba-tiba mengamuk.
Gelombang raksasa setinggi 14 meter lebih muncul dari kegelapan Samudra Hindia dan menghantam pesisir selatan Banyuwangi tanpa ampun.
Pantai Rajegwesi, Pancer, Pulau Merah, Lampon, dan Grajagan tak lagi tampak seperti permukiman. Yang tersisa hanyalah puing-puing kayu, kapal pecah, dan jeritan duka.
BMKG mencatat, bencana ini dipicu oleh gempa berkekuatan 7,8 magnitudo di kedalaman 18 kilometer bawah laut. Gempa yang nyaris tak terasa di darat, tapi cukup kuat untuk menciptakan mimpi buruk nyata bagi ribuan orang.
Salah satu yang selamat dari kejadian itu adalah Atim, pada tahun 2022 lalu pria 70 tahun itu bercerita. Malam itu, ia bukan sekadar saksi mata, ia adalah penyintas yang tubuhnya sendiri pernah tertimbun reruntuhan rumahnya.
Malam Penuh Gelisah
Beberapa jam sebelum gelombang maut datang, Atim bersama anak-anaknya hendak beristirahat malam. Istrinya kala itu sedang berada di Surabaya. Ia menyadari bahwa malam itu terasa berbeda. Sunyi mencekam, dan mata tak bisa terpejam.
Anak sulungnya mendengar suara aneh dari kejauhan, mirip deru truk militer atau baling-baling helikopter. Maklum, kawasan Lampon kala itu memang kerap dilalui kendaraan patroli. Tapi malam itu tidak biasa.
“Saya pikir itu helikopter marinir latihan malam. Tapi masa latihan tengah malam? Saya sempat keluar rumah, cari sumber suara. Tapi tak ada apa-apa,” kenang Atim, suaranya bergetar.
Ia kembali ke rumah. Baru saja rebah, suara bergemuruh menggelegar dari arah laut, dan detik berikutnya rumahnya runtuh dihantam gelombang besar. Dinding rumah runtuh menimpa tubuh Atim. Air masuk dari segala arah. Dalam gelap dan panik, ia hanya sempat berpikir mungkin ini kiamat.
“Saya tak mendengar suara anak-anak saya lagi. Saya pasrah. Saya pikir, ini akhir hidup saya,” katanya.
Namun takdir berkata lain. Dalam kondisi tubuh terhimpit, ia menghirup napas panjang dan berusaha membebaskan diri. Ia merangkak keluar dari reruntuhan, dan saat kakinya menginjak lumpur yang mulai surut, ia berlari menuju masjid terdekat.
Di sana, ia menangis. Masjid itu masih berdiri tegak. Sementara di sekelilingnya, rumah-rumah rata dengan tanah.
Mayat Bergelimpangan dan Jerit Tak Henti
Saat fajar mulai menembus langit yang kelabu, Atim menyaksikan neraka di tanahnya sendiri. Mayat-mayat tergeletak di jalan kampung, beberapa masih dalam pelukan kerabatnya. Jerit tangis memecah pagi. Ada yang mengguncang tubuh suami, anak, atau saudara, berharap mereka masih bernapas.
“Banyak tubuh berserakan. Banyak yang menjerit, berdoa, dan menangis. Saya tidak tahu siapa yang masih hidup. Saya takut. Takut luar biasa,” kisah Atim, matanya basah.
Duka Atim belum selesai. Ibu mertuanya sempat ditemukan selamat dengan pecahan kaca menancap di pelipis. Saat itu, semua mengira ia akan bertahan. Namun, saat pecahan kaca itu dicabut, ibu mertuanya justru langsung menghembuskan napas terakhir.
“Sebenarnya selamat. Tapi saat kaca itu dicabut sendiri, beliau langsung meninggal. Di depan kami,” ujar Atim, menahan air mata.
Dalam sekejap, ratusan nyawa di Pancer hilang. Tak ada waktu mengemasi barang, tak ada aba-aba untuk lari. Hanya alam yang berbicara, dan manusia yang akhirnya mengerti betapa kecilnya mereka di hadapan gelombang.
Tsunami 1994 di Banyuwangi bukan hanya tragedi geologis. Ia adalah pengingat bahwa kematian bisa datang bahkan sebelum kita sempat menyadari sedang hidup.
Firasat dan Insting Seorang Nelayan
Dari sudut cerita lainnya, Mulyono, yang kala itu masih berumur 43. Ia baru saja pulang membeli solar untuk cadangan perahunya. Di tengah jalan, ia bertemu anaknya, Rahmat, yang pamit nongkrong bersama teman-temannya.
Setelah mengisi BBM perahu, Mulyono pulang ke rumah. Duduk di kursi bambu, ia menyalakan rokok dan menyetel radio, menanti waktu melaut. Tanpa terasa, ia tertidur.
Menjelang tengah malam, ia terbangun. Ada keanehan yang ia rasakan di udara. Laut tenang luar biasa, tak ada ombak, angin pun tak terasa. Anehnya, burung-burung beterbangan di atas laut, sesuatu yang tidak lazim di malam hari.
"Apa ya, senyap pokoknya. Angin juga nggak ada. Anehnya banyak burung-burung itu terbang, biasanya kan kalau malam nggak ada ya. Lha itu banyak," ungkapnya.
Melihat air laut mulai surut, Mulyono merinding. Ia pun mengurungkan niatnya melaut. Pulang ke rumah, ia kembali menyetel radio dan mendengarkan kisah rakyat berjudul "Trinil."
Di sela-sela itu, ia sempat makan dan keluar rumah untuk buang air kecil. Saat itulah ia mendengar gemuruh.
"Ada gemuruh mirip hujan, ada angin kencang juga. Kok lama kelamaan suaranya mirip air, ternyata benar ombak laut menuju daratan," katanya.
Ia lari menyelamatkan diri, tapi air lebih cepat. Tubuhnya terseret arus, hingga menghantam sebuah pohon kelapa. Namun justru pohon itulah yang menjadi penyelamatnya. Ia memeluk batang pohon itu, tubuhnya penuh luka-luka terkena puing.
Pemerintah dan Warisan Ingatan
Bencana ini mengguncang nasional. Presiden Soeharto dan Menteri Penerangan Harmoko datang langsung ke lokasi, membawa bantuan dan empati. Lima anak yatim korban tsunami diadopsi negara.
Kini, masyarakat Pancer dan sekitarnya menetapkan Jumat Pon sebagai hari doa dan hari libur nelayan. Tugu peringatan tsunami berdiri tegak di Dusun Pancer, menjadi pengingat bahwa alam bisa berubah murka kapan saja.
Tsunami Banyuwangi 1994 bukan sekadar catatan duka, tapi juga kisah tentang firasat, insting, dan mukjizat. Tentang manusia-manusia yang nyaris dihancurkan gelombang, namun tetap berdiri hari ini untuk bercerita.
Editor : Agung Sedana