Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sejarah Banyuwangi Juni 1994: Bencana Tsunami Dahsyat, Kengerian Laut Selatan yang Tak Terlupakan

Agung Sedana • Selasa, 10 Juni 2025 | 21:20 WIB
Sejarah Banyuwangi bulan Juni, Mega Tsunami yang menghantam pesisir selatan.
Sejarah Banyuwangi bulan Juni, Mega Tsunami yang menghantam pesisir selatan.

RADARBANYUWANGI.ID - Tiga dekade telah berlalu sejak tsunami paling mematikan di pesisir selatan Jawa Timur menghantam wilayah Banyuwangi. Sejarah yang terjadi pada 3 Juni 1994 ini hingga kini tercatat sebagai salah satu bencana laut terdahsyat yang terjadi.

Gelombang dahsyat datang menghantam tanpa tanda-tanda yang jelas, bencana ini kemudian dikenal luas sebagai “silent tsunami” atau tsunami sunyi.

Pada pukul 01.17 WIB, gempa berkekuatan antara magnitudo 7,8 terjadi di lepas pantai selatan Jawa Timur, sekitar 200 km dari garis pantai.

Namun, karena sifat gempanya yang berfrekuensi rendah dan dalam, masyarakat tidak merasakan guncangan besar.

Sekitar 40 menit hingga 2 jam kemudian, gelombang setinggi hingga 14 meter lebih menghantam sejumlah wilayah pesisir seperti Pancer, Rajegwesi, Lampon, dan Pantai Pulau Merah.

Gelombang menyapu daratan sejauh ratusan meter, menghancurkan rumah, perahu, sekolah, dan fasilitas umum.

Ratusan Korban dan Kehancuran Total

Data resmi mencatat korban meninggal dunia antara 229 jiwa. Sementara puluhan lainnya dinyatakan hilang dan ratusan mengalami luka berat.

Di kawasan Pancer, lebih dari 70 persen bangunan hancur total, menjadikan lokasi itu sebagai titik kerusakan paling parah.

Dampak bencana ini tidak hanya menelan korban jiwa dan harta benda, tetapi juga meninggalkan trauma yang mendalam hingga puluhan tahun setelah kejadian.

Banyak keluarga kehilangan seluruh anggota keluarga mereka dalam hitungan menit.

Peristiwa ini memicu perhatian besar dunia ilmiah. Tim gabungan dari Tohoku University, University of Tokyo, ITB, dan BPPT melakukan studi lapangan hanya beberapa hari setelah kejadian.

Mereka mengonfirmasi bahwa gempa yang menyebabkan tsunami ini tergolong "tsunami earthquake". Yakni sebuah fenomena langka di mana gempa berintensitas rendah dapat memicu gelombang besar karena deformasi lambat di dasar laut.

Hasil studi ini diterbitkan di jurnal internasional Pageoph tahun 1995 dan menjadi tonggak penting dalam pengembangan pemahaman tentang risiko tsunami di kawasan Indonesia.

Pasca tragedi 1994, Indonesia memperkuat sistem mitigasi dan peringatan dini tsunami.

Di Banyuwangi, khususnya wilayah selatan, kini telah dipasang Early Warning System (EWS) di delapan titik pantai rawan.

Selain itu, simulasi evakuasi rutin dilakukan oleh BPBD Banyuwangi setiap bulan bersama masyarakat dan pelajar di zona merah.

BMKG pun menetapkan sebagian pesisir Banyuwangi sebagai zona risiko tinggi tsunami (zona I).

Pemerintah daerah telah mengatur batas aman pembangunan pemukiman, maksimal 1 kilometer dari garis pantai, guna mengantisipasi dampak jika bencana serupa terjadi kembali.

Mengingat untuk Bersiap

Tahun 2025 ini, merupakan peringatan 31 tahun tsunami Banyuwangi, masyarakat masih berkumpul di lokasi-lokasi bekas bencana untuk berdoa dan mengenang.

Tidak ada pidato fiktif, tidak ada narasi berlebihan. Hanya jejak nyata sebuah tragedi yang menjadi peringatan bahwa bencana bisa datang kapan saja, bahkan tanpa suara.

Tsunami 1994 telah mengubah cara Indonesia memandang laut selatan, dan menjadi pengingat abadi bahwa keselamatan dimulai dari kesiapan.

 

Editor : Agung Sedana
#sejarah #Juni #banyuwangi #tsunami