RADARBANYUWANGI – Pengendara yang hendak menuju Stasiun KA Banyuwangi Kota harus bersabar.
Jalan utama di Kelurahan Bakungan, Kecamatan Banyuwangi, ditutup total untuk sementara waktu.
Penutupan ini dilakukan karena digelarnya ritual adat Seblang Bakungan, bagian dari agenda tahunan Banyuwangi Festival.
Akibatnya, arus kendaraan dari dan menuju stasiun terganggu. Namun, warga masih bisa memanfaatkan jalur alternatif.
Dari arah timur, bisa memutar lewat depan Warung Tempong Mbok Wah, kemudian ke arah barat dan tembus ke Terminal Sasak Perot.
Sedangkan dari arah barat, pengendara bisa berbelok ke utara di depan Masjid Bakungan.
Seorang warga Kebalenan, Mahmud Syaifudin, mengaku sempat kebingungan saat akan mengantar keluarganya ke stasiun.
"Saya kan dari Kebalenan, pas masuk ke Bakungan, ternyata jalan ditutup," ujarnya.
Ia pun memutar arah melalui jalan kecil di depan warung makan Mbok Wah.
Namun, Mahmud mengeluhkan kemacetan karena banyak mobil parkir di depan warung legendaris tersebut.
"Tapi sebaiknya jangan lewat situ. Banyak mobil parkir di depan warung, jadi macet," tambah Mahmud.
Dia menyarankan kepada para pengendara yang hendak ke stasiun Banyuwangi Kota untuk melewati jalur nasional.
Rute yang disarankan adalah dari perempatan Cungking ke arah barat, kemudian mengikuti jalan nasional hingga Sasak Perot, lalu belok ke selatan menuju Stasiun Banyuwangi Kota.
Tarian Mistis yang Menjadi Warisan Leluhur
Penutupan jalan ini bukan tanpa alasan. Warga Bakungan tengah menyelenggarakan ritual adat Seblang, sebuah pertunjukan budaya yang sarat nilai spiritual dan kearifan lokal.
Seblang Bakungan merupakan tradisi sakral yang hanya digelar setahun sekali, tepatnya setelah Hari Raya Idul Adha.
Tidak sembarang orang bisa menjadi penari Seblang. Penarinya adalah perempuan yang sudah menopause.
Saat menari, mereka dipercaya tidak dalam keadaan sadar. Tubuhnya digerakkan oleh kekuatan gaib, diyakini sebagai roh leluhur yang merasuki.
Prosesi dimulai dengan pajang seblang, saat penari mulai tampil dengan pakaian tradisional lengkap, termasuk mahkota dan selendang khas.
Musik pengiringnya pun bukan sembarang musik, melainkan tembang-tembang Jawa kuno yang dibawakan dengan alat musik tradisional seperti kendang dan saron.
Ritual ini bukan sekadar pertunjukan. Masyarakat Bakungan meyakini Seblang sebagai media komunikasi dengan leluhur dan sebagai bentuk tolak bala agar desa dijauhkan dari malapetaka.
Selama prosesi, warga berbondong-bondong datang untuk menyaksikan atau sekadar “nonton” dan meyakini keberkahan dari acara ini.
Bagi warga Banyuwangi, Seblang bukan sekadar tarian. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara dunia nyata dan dunia spiritual.
Maka tak heran jika jalan harus ditutup, demi menjaga kesakralan dan ketertiban ritual. ***
Editor : Ali Sodiqin