RadarBanyuwangi.id – Setelah tutup akibat menjadi lokasi penusukan hingga meninggal dengan korban Wiryadinanto, 20, asal Dusun Karangrejo, Desa/Kecamatan Cluring dan diberi garis polisi, warung es teler dan warung lainnya kembali buka, Senin (9/6).
Sejak ada kasus penusukan hingga meninggal itu, warung es teler itu tutup selama delapan hari. Mereka tidak bisa jualan karena dipasang garis polisi. “Karena masih dilakukan olah TKP,” kata pemilik warung es teler, Naviah, 33.
Selama delapan hari itu, kata dia, terpaksa tidak berjualan. Padahal jualan es teler itu satu-satunya pekerjaannya. Karena tutup, maka uang yang digunakan untuk modal habis digunakan belanja kebutuhan sehari-hari. “Ini buka lagi modalnya pinjam orang,” kata pedagang asal Dusun Gembolo, Desa Purwodadi, Kecamatan Gambiran.
Sebelum ada peristiwa tersebut, lanjut dia, biasanya jualan es teler mulai pukul 09.00 hingga pukul 16.00. Yang dijual es teler, es buah, dan jus buah. “Alhamdulillah, hari ini (kemarin) bisa buka lagi,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Di hari pertama buka, menurut dia, sempat menjadi perhatian pengendara yang melintas di jalan raya. Padahal, bunga, batu nisan, beserta garis polisi sudah dibersihkan. “Jadi tontonan warga, tak jarang lewat sambil merekam video,” tuturnya.
Pemilik warung lain yang berjualan rujak dan mie ayam, Yanti, 34, asal Dusun Gembolo, Desa Purwodadi, mengaku bersyukur bisa membuka kembali warungnya. Meski jadi tontonan warga, pembeli di warung tetap seperti biasanya. "Alhamdulillah bisa buka lagi, kalau yang lihat ramai, tapi tidak mampir,” terangnya.(cw3/abi)
Editor : Agus Baihaqi