RadarBanyuwangi.id – Kabar duka datang dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) Banyuwangi. Salah satu pahlawan devisa asal Dusun Persen, Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo, Sri Wahyuni, 35, jadi korban tewas kebakaran di salah satu hotel di Istanbul, Turki, pada Sabtu (18/1) lalu.
Jenazah perempuan yang sudah dua kali bolak-balik kerja di luar negeri untuk bekerja itu, akhirnya dipulangkan ke rumahnya, Rabu (5/2) sekitar pukul 11.00. “Almarhumah ini bekerja di Istanbul, Turkey bersih-bersih hotel dan mess-nya juga di hotel tersebut,” kata Koordinator Advokasi Garda BMI Banyuwangi, Topan Hadi Sucipto.
Menurut Topan, Sri menjadi satu dari dua korban meninggal akibat kebakaran tersebut. Menurutnya, dalam kebakaran itu ada tiga yang meninggal, dua korban lainnya berasal dari Afrika. “Korban jiwanya ada tiga, satu dari Banyuwangi dan dua dari Afrika,” ungkapnya.
Jenazah Sri dipulangkan setelah lebih dari dua pekan meninggal karena kebakaran. Lamanya pemulangan, karena istri Imam itu berangkat secara nonprosedural. “Biaya (pemulangan) dibebankan ke keluarga. Kami sudah beberapa kali mengajukan ke KJRI Turki tapi mental, karena unprocedural,” ucapnya
Nahasnya, setelah pernah bekerja di Yunani, Sri rupanya baru di Turki. Menurut penuturan Topan, almarhumah baru lima bulan berada di negara tersebut. “Ada di Turki baru lima bulan, kalau kerjanya baru seminggu di hotel tesebut,” tandasnya.
Topan menyebut, kelularga korban dibebani biaya pemulangan sebesar Rp 57 juta. Itu juga murni dari keluarga, bukan dari open donasi atau semacamnya. Jenazah dipulangkan dari Turki dan tiba di Bandara Soekarno-Hatta pukul 18.00. “Kemudian, difasilitasi oleh ambulans BP3MI Banten untuk dibawa ke Banyuwangi,” katanbya seraya menyebut agen keberangkatan Sri orang dari luar Banyuwangi.
Informasi meninggalnya Sri ini kali pertama diketahui oleh adik kandungnya yang bekerja di Taiwan saat hotel terbakar. Saat itu, sang adik mendapat kabar dari seseorang yang mengaku berasal dari KJRI Istambul. “Adik korban sempat diperlihatkan jenazah Sri Wahyuni oleh pihak KJRI melalui panggilan video, itu untuk memastikan kebenaran identitas korban,” terangnya.(sas/abi)
Editor : Agus Baihaqi