RadarBanyuwangi.id – Perjuangan Eliswatin, 22, ibu hamil (bumil) asal Dusun Sukamade, Desa Sarongan, Kecamatan Pesanggaran yang akan melahirkan, tampaknya luar biasa. Keterbatasan sarana kesehatan di kampungnya, harus dirujuk ke RSUD Genteng pada Sabtu (11/1).
Untuk bisa keluar dari kampungnya yang terpencil dan berada di tengah hutan, ibu muda itu harus diangkut dengan truk. Maklum, di daerahnya belum ada angkutan yang memadai, apalagi jalannya juga rusak. “Diangkut truk sampai Sungai Sukamade,” terang Kepala Dusun Sukamade, Desa Sarongan, Feri Nafaro.
Sampai di Sungai Sukamade yang kebetulan airnya tidak terlalu besar, terang Feri, bumil itu oleh warga digotong menyeberangi sungai dengan naik Gethek. “Mbak Elis digotong bareng-bareng menyeberangi sungai, lalu diangkut pakai mobil trooper,” ungkapnya.
Menurut Feri, Elis sebenarnya melahirkan di rumahnya dengan bantuan bidan. Bayi lahir sekitar pukul 07.00 dengan berat empat kilogram. Hanya saja, placenta atau ari-ari bayi tertinggal di dalam perut, sehingga harus dilakukan penanganan medis yang lebih intensif. “Ibu dan bayinya harus dibawa ke faskes terdekat, kami bawa ke Puskesmas Sumberagung (Kecamatan Pesanggaran),” katanya.
Untuk membawa ke Puskesmas Sumberagung, terang dia, tentu tidak mudah. Sebab, jalan di kampungnya berupa bebatuan dan harus melintasi sungai. “Puluhan warga membantu mengevakuasi, Mbak Elis ditidurkan di papan dengan kasur busa tipis dan dibopong warga,” terangnya.
Upaya warga untuk membantu bumil berjalan lancar, sekitar pukul 10.00, sampai di Puskesmas Sumberagung. Berkat bantuan tenaga kesehatan (nakes) di Puskesmas Sumberagung, masalah dalam proses persalinan bisa diatasi. Ari-ari bayinya bisa dikeluarkan dari dalam perut. “Ari-ari bisa dikeluarkan, tapi masih direkomendasikan dibawa ke RSUD Genteng untuk proses observasi dan pemulihan,” kata Camat Pesanggaran, Andik Basuki.
Andik yang langsung mendatangi rumah sakit plat merah untuk menjenguk warganya itu, memastikan kondisi Elis stabil. Bahkan, bayinya sudah boleh dibawa pulang pada Sabtu malam. “Kalau ibunya masih harus diobservasi sehari lagi, mungkin Minggu bisa pulang,” katanya.
Andik menyampaikan kunjungannya itu untuk memastikan Elis mendapat pelayanan kesehatan yang paling optimal. “Kami pastikan ibu dan bayi mendapat pelayanan terbaik, alhamdulillah ibunya juga punya BPJS sehingga bisa dicover biaya pengobatannya,” jelasnya.
Menurut Andik, Elis sebenarnya sudah disarankan untuk dibawa ke Pustu Sarongan beberapa hari sebelumnya. Tapi karena dianggap masih jauh dari hari perkiraan lahir (HPL) pada 14 Januari, keluarganya menolak. “Sebenarnya sudah ada rumah siaga, H-2 lahir biasanya dibawa ke situ (Pustu Sarongan). Tapi yang bersangkutan menolak,” pungkasnya.(sas/abi)
Editor : Agus Baihaqi