Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Asal Usul Nama Desa Bajulmati Berawal dari Kisah Temuan Bangkai Buaya

Lugas Rumpakaadi • Kamis, 5 Desember 2024 | 02:30 WIB
Petugas Damkar di depan gapura pasar baru Desa Bajulmati, Wongsorejo, Banyuwangi, beberapa waktu lalu. Nama Bajulmati berasal dari bangkai buaya.
Petugas Damkar di depan gapura pasar baru Desa Bajulmati, Wongsorejo, Banyuwangi, beberapa waktu lalu. Nama Bajulmati berasal dari bangkai buaya.

RadarBanyuwangi.id - Desa Bajulmati dikenal sebagai gerbang utara Kabupaten Banyuwangi. Posisinya berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Situbondo.

Desa Bajulmati ini berjarak sekitar 35 kilometer arah utara dari pusat kota Banyuwangi. Berdasarkan catatan tertulis, dahulu wilayah Bajulmati masih berupa hutan belantara yang lebat.

Pada masa itu, kawasan ini dihuni berbagai satwa liar. Termasuk banteng yang mendominasi kawasan ini dan sungai yang menjadi habitat buaya, salah satunya buaya putih yang dipercaya sebagai pemimpin.

Dari cerita rakyat, pada suatu masa, ada sekelompok orang datang dan singgah di tepi hutan tersebut.

Kemudian populasi itu menetap di sana. Proses pembukaan lahan tidaklah mudah, karena daerah ini diyakini sangat angker.

Tanda-tanda keangkeran tersebut terlihat dari dua pohon besar yang dianggap keramat yakni pohon beringin putih di bagian timur (sekarang Dusun Krajan Timur, Desa Bajulmati) dan pohon karet hutan merah.

Menurut cerita masyarakat, pohon besar itu dihuni oleh roh halus bernama Karyonggolo dan Sriyanti.

Seiring berjalannya waktu, penduduk yang menetap mulai hidup berkelompok, dipimpin oleh ketua kelompok yang berganti hingga tiga kali.

Pada tahun 1911, pemerintahan kolonial Belanda mulai mengatur wilayah ini, termasuk membentuk struktur pemerintahan desa.

Atas persetujuan pemerintah Belanda, desa ini resmi memiliki kepala desa pertama dengan gelar Wonojoyo I.

Ketika menentukan nama desa, pemerintah Belanda menyerahkan keputusan kepada masyarakat.

Nama "Boyo Mati" dipilih karena di kawasan tersebut ditemukan buaya mati, dan terdapat kisah tentang pertarungan sengit antara buaya putih dan banteng yang berakhir dengan kematian keduanya.

Konon, buaya putih yang mati berubah menjadi sebuah arca batu besar.

Arca tersebut dahulu berada di dekat hulu sungai, tepat di utara Masjid Jami’ Bajulmati yang ada saat ini.

Seiring perkembangan zaman, nama "Boyo Mati" berubah menjadi "Bajulmati," yang menjadi nama resmi desa hingga kini.

Sesuai dengan catatan tersebut, penelitian yang dilakukan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mendeskripsikan penamaan desa ini berasal dari aspek sejarahnya. (gas/bay)

Editor : Ali Sodiqin
#bangkai #asal usul #buaya #wongsorejo #Nama desa #banyuwangi #bajulmati