Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

PCNU Makin Solid, 300 Orang Hadiri Halalbihalal: Kiai Athoillah Ajak Pengurus PC, MWC, hingga Ranting, Satu Komando dengan PBNU

Syaifuddin Mahmud • Senin, 13 Mei 2024 | 16:53 WIB

 

 

PCNU Makin Solid, 300 Orang Hadiri Halalbihalal
PCNU Makin Solid, 300 Orang Hadiri Halalbihalal

RadarBanyuwangi.id - Kepengurusan karteker PCNU Banyuwangi semakin solid. Hal ini terlihat dari acara halalbihalal yang digelar pengurus PCNU di Hotel Kokoon, Sabtu (11/5).

Sekitar 300 undangan hadir memenuhi ballroom Hotel Kokoon.

Pengurus dari 25 Majelis Wilayah Cabang (MWC) turut hadir. Mulai rais, katib, ketua, dan sekretaris.

Ada pula pengurus badan otonom (banom) NU dan lembaga. Tak ketinggalan juga para kiai yang ikut hadir dalam halalbihalal yang berakhir pukul 12.00 tersebut.

”Halalbihalal kami gelar sebagai ajang silaturahmi sekaligus konsolidasi organisasi karteker dengan segenap keluarga besar nahdliyin Banyuwangi,” ujar Ketua Panitia Halalbihalal Abdul Aziz.

Kegiatan ini tergolong istimewa karena dihadiri Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir, Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi KH Athoillah Sholahuddin Anwar, Ketua Tanfidz  PCNU Banyuwangi KH Choirul Sholeh Rasyid, dan Wakil Sekretaris PCNU Banyuwangi KH Ahsanul Haq.

Hadir pula puluhan kiai sepuh. Di antaranya KH Hisyam Syafaat, KH Hasan Thoha, KH Ali Hasan Kafrawi, KH Masykur Ali, KH Achmad Wahyudi, KH Achmad Shiddiq, KH Damanhuri, KH Hasan Shonhaji, KH Abdul Gofar, dan puluhan kiai lainnya.

Halalbihalal semakin meriah karena dihadiri langsung Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

Ketua Tanfidz PCNU Banyuwangi KH Choirul Sholeh Rasyid mengatakan, halalbihalal digelar untuk konsolidasi organisasi agar sejalan, seirama, koheren, dan satu komando dengan PBNU.

”Semua pengurus PCNU di mana pun berada, harus tegak lurus dengan PBNU. Termasuk badan otonom. PBNU siap mengawal program-program pemerintah agar tepat sasaran, dari cabang sampai ranting. PBNU telah menarik diri dari keterlibatan politik praktis. NU bukan bagian dari kontestasi atau rivalitas pilkada,” tegasnya. 

Choirul menegaskan, kepengurusan karteker semata-mata merupakan mekanisme organisasi. Tidak berkaitan dengan kepentingan apa pun, apalagi kepentingan politik praktis.

”Karena tidak terpenuhinya aturan yang ditetapkan dalam AD/ART dan Peraturan Perkumpulan NU, maka harus dikarteker sebagai upaya penerbitan organisasi,” tegasnya.

Rais PCNU Banyuwangi KH Athoillah Sholahuddin Anwar mengatakan, kepengurusan karteker adalah upaya penegakan organisasi.

Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadi’in Putra Lirboyo Kota Kediri itu mengajak semua pihak agar tidak terus-terusan berdebat tentang kebenaran.

”Mari kita tidak usah terus-terusan berdebat. Aturannya sudah jelas, ada Anggaran Dasar, ada Anggaran Rumah Tangga, dan juga Perkum (Peraturan Perkumpulan),” tegasnya. 

Kiai yang juga salah satu Katib Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu mengajak seluruh pengurus NU untuk memahami aturan organisasi.

Dengan mengacu pada aturan itulah, maka akan terbentuk kepengurusan yang koheren dari tingkat pusat hingga paling bawah.

”Dalam Perkum sudah jelas, pengurus NU yang dikarteker tidak boleh mencalonkan lagi dalam konferensi,” tegasnya.

Kiai Athoillah juga mengajak warga nahdliyin tetap kompak dan satu komando dengan PBNU. Sebab, kebijakan yang dilaksanakan PBNU berdasarkan Perkum.

Karena itu, NU Banyuwangi harus tetap bersinergi dengan pemkab.

”Jangan suuzon kalau ada pengurus NU dengan umara (pemerintah) karena sebagai jembatan untuk masyarakat. Kedekatan ulama dan umara banyak nilai positifnya,” tegasnya.   

 Baca Juga: PBNU Anulir SK Karteker PCNU Banyuwangi, Terbit SK Baru, 4 Orang Lama Tidak Masuk, Ini Gantinya

Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir diberi kesempatan untuk memberikan tausiah. Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, itu berpesan pentingnya menjaga marwah NU.

Warga nahdliyin harus menjadi benteng ahlusunah waljamaah akibat serangan paham salafi. Di sini orang NU harus menjadi pengawal moral.

”Orang tidak bermoral tidak mungkin membuat orang lain bermoral. Karena itu, moralitas warga nahdliyin harus diawali dari PBNU sampai tingkatan ranting. Kalau bukan kita sendiri siapa yang akan memperbaiki moralitas,” paparnya.  

Kiai Afifuddin juga berharap PCNU Banyuwangi yang sebentar lagi akan melaksanakan konferensi bisa menjadi contoh di daerah lain.

NU sebagai penyangga NKRI harus ikut berperan penting untuk bangsa dan negara.

”Selama masih ada NU, ada harapan besar untuk mempertahankan NKRI. Mudah-mudahan NU bisa tetap memainkan peran,” tandasnya. (aif/c1)

 

Editor : Salis Ali Muhyidin
#pcnu #Ipuk Fiestiandani #kiai #banyuwangi #pbnu #karteker #solid