Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Proyek Tol Probolinggo–Banyuwangi Sudah Dua Tahun Mandek, Warga Mulai Tahan Penjualan Tanah

Fredy Rizki Manunggal • Senin, 16 Oktober 2023 | 00:00 WIB
Photo
Photo

Jawa Pos Radar Banyuwangi – Angan-angan masyarakat Banyuwangi untuk bisa mendapat ganti untung lantaran akan dilewati proyek tol Probolinggo–Banyuwangi (Probowangi), tak kunjung terwujud.

Sejak tahun 2021 lalu, tidak ada progres sama sekali dari pelaksana proyek. Terutama untuk kejelasan pasca-appraisal tanah-tanah yang akan dilalui jalur tol.

Di Banyuwangi, total ada 32,26 kilometer (km) jalur yang akan dilalui jalan tol. Dari jumlah itu, wilayah terluas yang masuk dalam tol Probowangi berada di Kecamatan Wongsorejo.

Dari informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Banyuwangi, ada tujuh desa di wilayah Wongsorejo yang nantinya akan dilewati pembangunan jalur bebas hambatan tersebut.

Mantan Camat Wongsorejo Sulistyowati mengatakan, tujuh desa yang masuk jalur tol di antaranya Desa Watukebo, Desa Bajulmati, Desa Wongsorejo, Desa Bangsring, Desa Sidowangi, Desa Bangkak, dan Desa Alasbuluh.

Perempuan yang kini bertugas sebagai Sekdinsos Banyuwangi itu menyebut, proses pengukuran di seluruh desa sudah selesai dilakukan oleh tim penggarap tol Probowangi sejak tahun 2020. Bahkan, khusus untuk Desa Watukebo sudah melalui proses appraisal.

Warga pun menurutnya sudah sepakat dengan pengukuran tersebut. Mereka tinggal menanti pembayaran atas tanah yang sudah di-appraisal.

Sulis menambahkan, dari informasi yang diperolehnya, harga appraisal tanah warga yang dilalui jalur tol dihargai dengan nominal yang cukup bagus. Bahkan, harganya dihitung lebih tinggi dari harga rata-rata.

”Untuk nominal jelasnya yang tahu nanti warga yang bersangkutan. Yang jelas harganya di atas harga umum. Tidak bisa disamakan satu dan lainnya,” ujarnya.

Yang membuat harga tanah warga satu dan lainnya berbeda, imbuh Sulis, adalah pepohonan atau tegakan yang ada di atas tanah.

Tim dari BPN dan Dinas Pertanian yang mengukur tanah juga menghitung keberadaan tanaman di atas tanah warga.

”Warga tinggal menunggu saja pembayarannya. Kemarin katanya masih menunggu setelah pembayaran di Probolinggo dan Situbondo selesai. Sepertinya di sana belum selesai,” imbuhnya.

Sulis mencatat, total ada sekitar 700 warga yang tanahnya terdampak untuk proyek pembuatan tol. Secara umum, semuanya sudah siap karena warga juga sepakat dengan semua proses pengukuran yang dilakukan. ”Yang terluas di Banyuwangi ini di Wongsorejo, dan semuanya sudah siap,” jelasnya.

Selain Wongsorejo, Kecamatan Kalipuro juga menjadi wilayah yang dilewati jalur tol. Ada dua sisi wilayah Desa Ketapang yang dilalui tol. Yang pertama memiliki panjang 0,841 kilometer dan yang kedua 7,783 kilometer.

Kelurahan Bulusan juga menjadi kawasan yang dilewati karena menjadi bagian dari exit tol dengan panjang sekitar 1,572 kilometer.

”Ada dua wilayah, Desa Ketapang dan Bulusan. Kebetulan exit tol juga di Kalipuro,” kata mantan Camat Kalipuro Henry Suhartono yang kini bertugas sebagai Camat Cluring.

Henry menambahkan, kesepakatan untuk pembebasan lahan sendiri dijanjikan secara bertahap. Lahan di Kecamatan Kalipuro baru akan diselesaikan setelah proses di Kecamatan Wongsorejo tuntas.

”Waktu itu kami sampaikan ke Kementerian PUPR saat itu, kalau bisa minimal dicencengi dulu. Kita khawatir nanti warga berubah pikiran dan sebagainya,” kata Henry.

Kades Watukebo Maimun menambahkan, hingga saat ini puluhan warganya masih berharap proyek jalan tol yang sepanjang 2,574 km melalui desanya itu segera digarap. Ada sekitar 80 orang warga Desa Watukebo yang tanahnya kemungkinan akan menjadi jalur tol.

”Sampai saat ini belum ada perubahan, tanah dan pemiliknya masih seperti sebelumnya. Cuma kita tidak tahu bisa bertahan sampai kapan. Karena dari pusat juga tidak ada komunikasi sama sekali,” ucapnya.

Sementara di lapangan, warga masih berharap proyek tersebut segera dikerjakan. Wahyudi, warga Kelurahan Singonegaran yang mengaku memiliki lahan di sekitar Kelurahan Bulusan mengatakan, keluarganya masih menahan diri untuk tidak menjual lahan tersebut.

Sebab, sebelumnya lahan tersebut sudah dipasangi patok sebagai tanda akan dilalui jalur tol.

”Tanah itu milik keluarga besar, kita masih menahan dulu. Ada banyak yang menawar, tapi harga dari proyek katanya lebih bagus,” pungkasnya. (fre/bay/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#jalur tol #Tol Probowangi #tanaman #Proyek #wongsorejo #probolinggo #banyuwangi #bebas hambatan #pembayaran