RadarBanyuwangi.id – Umat Hindu di Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, merayakan Galungan kemarin (2/8). Perayaan berlangsung sederhana, namun khidmat.
Pria-wanita, anak-anak dan orang dewasa berbondong-bondong menuju Pura Puseh Vidya Bhuana yang berlokasi di desa setempat.
Secara harfiah, Galungan berasal dari kata galung yang berarti menang dan ngegalung yang artinya merayakan kemenangan. Galungan dimaknai sebagai hari kemenangan. Umat Hindu Patoman merayakan Galungan dengan penuh suka cita.
Sejumlah ornamen, seperti penjor dengan hiasan daun kelapa berdiri megah di sepanjang tepi jalan depan kediaman umat Hindu maupun di beberapa sudut pura.
Ada pula ornamen dari tanaman seperti buah-buahan, beras, jagung, kelapa, dan daun. Acara sembahyangan di Pura Puseh dipimpin oleh pinandita (pemangku) Gede Suwanto dan diikuti ratusan umat Hindu setempat.
Ketua Parisadha Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Made Artho mengatakan, Hari Raya Galungan merupakan hari kemenangan dharma (kebenaran) yang berjuang melawan adharma (ketidakbenaran).
Umat Hindu melakukan persembahyangan dengan penuh khidmat bersama saudara-saudara mereka.
Perayaan Galungan kali ini digelar dengan sederhana dan penuh khidmat. Sanak keluarga yang merantau di luar daerah juga menyempatkan pulang untuk melakukan sembahyang di kampung halaman bersama dengan keluarga besarnya.
Made Artho mengatakan, perayaan Galungan dilaksanakan di pura karena lebih bermanfaat daripada sendiri-sendiri di rumah.
”Supaya bisa bertatap muka sesama saudara dan lebih khusyuk menghadap Sang Pencipta,” jelasnya.
Setelah perayaan Galungan, umat Hindu juga akan merayakan Kuningan pada Sabtu (5/8). ”Kalau Kuningan kemungkinan bisa lebih ramai daripada Galungan ini,” tandas Sri Devi, salah seorang warga Hindu Patoman. (ddy/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin