Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Hasil Klarifikasi, Sepakat Coret Kata Dukun dan Santet

Ali Sodiqin • Rabu, 10 Februari 2021 | 00:00 WIB
hasil-klarifikasi-sepakat-coret-kata-dukun-dan-santet
hasil-klarifikasi-sepakat-coret-kata-dukun-dan-santet

JawaPos.com – Polemik terkait deklarasi Persatuan Dukun Nusantara (Perdunu) mulai menunjukkan titik terang. Setelah mendengar masukan banyak pihak, para pengurus perkumpulan dukun tersebut mengaku siap mengganti nama organisasinya.

Selain itu, mereka juga sepakat mengubah istilah Festival Santet yang rencananya digelar pada bulan Sura mendatang dengan branding lain. Hanya saja, mereka belum memutuskan nama baru organisasi tersebut. Mereka juga belum memutuskan brand pengganti Festival Santet. Rencananya, para anggota Perdunu akan melakukan rapat internal untuk memutuskan beberapa hal mendasar tersebut.

Hal itu terungkap pada forum klarifikasi yang digelar di aula belakang kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi kemarin (8/2). Selain pengurus Perdunu, forum itu juga dihadiri Kepala Disbudpar M. Yanuarto Bramuda, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi KH M. Yamin, serta Kepala Bidang (Kabid) Budaya Politik dan Hak Asasi Manusia (HAM) Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Adnan Kohar. Forum klarifikasi itu juga dihadiri Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri serta Dewan Pengarah DKB Samsudin Adlawi serta sejumlah elemen masyarakat dan organisasi keagamaan di Bumi Blambangan.

Ketua MUI Muhamad Yamin mengatakan, klarifikasi ini dilakukan sebagai bentuk tabayun adanya deklarasi Perdunu yang digelar di Desa Sumberarum, Kecamatan Songgon beberapa hari yang lalu. ”Tentu saat ini masyarakat bertanya apa itu Perdunu? Apa itu Festival Santet. Karena lain antara santet dan sihir. Namun, secara nasional mereka tidak bisa membedakan santet dan sihir. Ini juga mewakili keterkejutan kami,” ujarnya.

Menurut Yamin, image positif Banyuwangi yang sudah susah payah dibangun selama beberapa tahun terakhir dipertaruhkan dengan adanya deklarasi Perdunu yang menimbulkan polemik di masyarakat tersebut. ”Apalagi pada tahun 1998 ada isu nasional masalah santet. Isu santet sudah menjadi konsumsi internasional. Image-nya jelek,” kata dia.

Karena itu, Yamin mengajak pihak Perdunu untuk berpikir ulang dan kembali membangun image positif Banyuwangi. ”Ayo kita bangun image Banyuwangi yang baik. Komentar yang ada terkait Perdunu liar. Kok sampai ke sana. Apalagi kondisi saat ini sedang prihatin akibat pandemi Covid-19,” kata dia.

Sementara itu, Ketua Umum Perdunu Gus Abdullah Fatah Hasan membeber tujuan pembentukan dan deklarasi wadah para dukun tersebut. Menurut dia, deklarasi Perdunu didasari dengan banyaknya masyarakat yang tertipu oleh dukun palsu. Karena itu, Perdunu hadir untuk memberikan konsultasi dan mengedukasi masyarakat agar tidak terjerumus dengan tipu muslihat dukun palsu.

”Ini dilandasi keprihatinan kami terhadap aktivitas dukun dan perdukunan yang menyebar di media sosial. Ini berpotensi terjadinya praktik penipuan. Oleh sebab itu, kami dirikan organisasi yang harapan kami bisa mengedukasi masyarakat dan mewadahi dukun atau supranatural,” jelas Gus Fatah.

Menurut Fatah, dukun tidak sepenuhnya negatif dan mendekati musyrik. Dia lantas menyebut adanya dukun bayi, dukun pijat, dan lain-lain. ”Teman-teman yang berinteraksi dengan kami dari banyak aliran. Paling banyak muslim, kita adakan pengajian zikir dan lain sebagainya, kita berharap anak-anak mereka menjadi penerus yang lebih baik” ungkapnya.

Fatah menambahkan, pihaknya akan melakukan verifikasi para dukun sesuai kemampuan spesifik masing-masing. ”Ketika kita publikasikan ke masyarakat, mereka benar-benar orang yang memiliki kemampuan,” kata dia.

Penasihat Perdunu Fahrurrozi alias Gus Fahru menambahkan, dirinyalah yang mengusulkan Perdunu menggelar Festival Santet. Dia mengaku belum lama ini berkunjung ke Batam dan Riau. Dia juga telah berkunjung ke beberapa kota di tanah air. ”Ternyata image Banyuwangi Kota Santet sampai sekarang masih ada. Banyak yang bertanya pada saya, bagaimana itu santet Banyuwangi. Hal yang sama juga kerap ditanyakan oleh pengunjung Alas Purwo,” ujar pemilik padepokan di Alas Purwo tersebut.

Menurut Fahru, santet sejenis mahabah dan pengobatan. Berbeda dengan sihir. ”Itu sering saya jelaskan. Dari keprihatinan image Banyuwangi Kota Santet yang belum hilang tersebut, saya mengusulkan Festival Santet agar masyarakat mengerti bahwa santet berbeda dengan sihir yang bertujuan menyakiti seseorang. Kenapa saya mengusulkan Festival Santet? Awalnya saya tidak mengira ini tidak akan menjadi gonjang-ganjing Nusantara. Justru tujuan kami untuk meluruskan akidah,” bebernya.

Sementara itu, Ketua DKB Hasan Basri mengatakan, pihaknya menghargai niat baik Perdunu. Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa kata dukun dan santet mengalami pergeseran makna. ”Kita tidak dapat menghindari image negatif kata tersebut dari orang luar Banyuwangi,” ujarnya.

Di sisi lain, kata Hasan, selama sekitar sepuluh tahun terakhir pemerintah dan masyarakat berjuang keras membangun image positif Banyuwangi. ”Maka, dengan kerendahan hati, saya mengusulkan barangkali (Perdunu dan Festival Santet) bisa diganti dengan istilah yang lain,” ujarnya.

Kepala Disbudpar M. Yanuarto Bramuda menuturkan, pertemuan kemarin digelar untuk mendengar secara langsung penjelasan dari pihak Perdunu. Dia lantas menceritakan bahwa sekitar dua tahun yang lalu, pihaknya berhasil melakukan branding pengobatan alternatif Jagat Satria. ”Ternyata di Dinas Kesehatan ada izin praktik pengobatan masyarakat,” kata dia.

Karena itu, Bramuda berharap Perdunu berkoordinasi dengan Disbudpar terkait branding yang akan dilakukan. Misalnya Festival Santet diganti dengan Festival Sehat, sedangkan wisata mistis di-branding dengan wisata religi.

Menanggapi hal itu, Penasihat Perdunu Gus Fahru mengatakan siap melakukan rapat internal terkait pergantian nama organisasi para dukun tersebut. ”Kami tidak bisa memutuskan sendiri. Kami akan menggelar rapat terkait hal ini,” ujarnya.

Selain itu, Fahru juga sepakat dengan branding wisata religi menggantikan istilah wisata mistis. Dia mengatakan, sekitar 70 sampai 80 persen warga yang datang ke Alas Purwo untuk melakukan wisata religi. ”Saya sendiri pun melakukan branding wisata religi di kawasan Sumber Gedang. Jadi, soal wisata mistis, monggo di-branding dengan istilah lain. Misalnya wisata religi,” kata dia. (sgt/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#banyuwangi