Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gelaran Pencak Sumping Warnai Perayaan Idul Adha 1445 H di Mondoluko Banyuwangi

Fredy Rizki Manunggal • Selasa, 18 Juni 2024 | 08:55 WIB

 

Gelaran Pencak Sumping Warnai Peringatan Idul Adha 1445 H di Mondoluko Banyuwangi

 

PELESTARI TRADISI: Salah satu pendekar memeragakan jurus di hadapan penonton tradisi Pencak Sumping di Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Senin (17/6).
PELESTARI TRADISI: Salah satu pendekar memeragakan jurus di hadapan penonton tradisi Pencak Sumping di Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Senin (17/6).
Radarbanyuwangi.id - Suasana Idul Adha di Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, diwarnai tradisi Pencak Sumping Senin (17/6). Puluhan pendekar dari berbagai wilayah di Banyuwangi datang untuk berpartisipasi pada ajang tersebut.

Pencak Sumping saat ini lebih diwujudkan sebagai ajang silaturahmi para pelaku pencak silat di Bumi Blambangan.

Sejak pagi, tepatnya usai salat Idul Adha, para pendekar dari kalangan anak-anak hingga orang dewasa mulai berkumpul di arena Pencak Sumping. Mereka lantas menunjukkan kelincahan dan ketangguhan dalam memeragakan jurus-jurus silat diiringi alunan musik tradisional yang rancak.

Tradisi ini sudah berjalan turun-temurun. Bagi masyarakat Dusun Mondoluko, Pencak Sumping bukan hanya tradisi, melainkan juga sarana untuk menumbuhkan rasa persaudaraan dan gotong royong.

Seluruh warga bahu-membahu dalam mempersiapkan acara, mulai dari latihan para pendekar, dekorasi, hingga penyajian hidangan tradisional.

Ketua Adat Dusun Mondoluko Rahayis mengatakan, munculnya tradisi Pencak Sumping tidak lepas dari cerita turun-temurun tentang asal mula kisah berdirinya dusun tersebut.

Pada zaman penjajahan Belanda, Buyut Ido yang merupakan pemimpin cikal bakal Mondoluko, yakni Dusun Tegal Alas, terluka dan tewas saat berduel dengan tentara Belanda.

Sejak saat itu, rakyat Tegal Alas berinisiatif belajar pencak silat untuk membela diri. Kala itu Buyut Ido terluka (luko) sampai tubuhnya terkoyak (modol-modol) hingga melatarbelakangi penamaan Dusun Mondoluko.

”Sejak saat itu rakyat rutin belajar silat. Mulai anak-anak sampai dewasa, baik laki-laki maupun perempuan. Sampai sekarang warga Mondoluko tetap melestarikan pencak silat sebagai bela diri yang dipelajari oleh warga,” kata Rahayis.

Rahayis mengaku senang ketika akhirnya upaya pelestarian Pencak Sumping tak hanya dilakukan oleh masyarakat Dusun Mondoluko, tetapi juga mendapat dukungan dari berbagai pihak.

Pemkab Banyuwangi, komunitas budaya, dan budayawan turut ambil bagian dalam menjaga tradisi ini agar tetap hidup dan lestari.

Bahkan, tradisi kali ini juga dihadiri Paguyuban Kampung Pencak Silat Kecamatan Glagah. Mereka berasal dari sejumlah organisasi seperti Persaudaraan Setia Hati Terate, Persaudaraan Setia Hati Winongo, Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia Kera Sakti, dan masih banyak perguruan yang lain.

”Istilah ’sumping’ ini diambil dari suguhan yang disajikan yang mengiringi para pendekar saat berlatih pada masa itu. Biasanya pendekar yang menang akan menyumpal mulut lawan yang kalah dengan kue sumping (nagasari),” tandas Rahayis. (fre/sgt/c1)

 

Editor : Niklaas Andries
#Pencak Sumping #idul adha #kera sakti #pemkab banyuwangi #Persaudaraan Setia Hati Teratai #pendekar #pencak silat #winongo #penjajahan belanda #gotong royong #banyuwangi