RADAR BANYUWANGI – Pembangunan Banyuwangi tak lagi cukup sekadar berdiri kokoh dan terlihat megah. Pemkab Banyuwangi kini memperkuat kolaborasi dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur untuk memastikan pembangunan infrastruktur, tata ruang, hingga ruang publik tetap berkualitas, berkelanjutan, sekaligus tidak kehilangan identitas lokal.
Langkah itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tentang Sinergi Pembangunan dan Pengembangan Potensi Daerah antara Pemkab Banyuwangi dan IAI Jatim.
MoU tersebut ditandatangani Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani bersama Ketua IAI Jatim Fafan Tri Afandy di Banyuwangi, Jumat (11/9).
Kerja sama ini menjadi pijakan untuk memperluas keterlibatan arsitek dalam pembangunan daerah. Tidak hanya pada desain bangunan, tetapi juga dalam pengembangan ruang publik, bangunan pemerintahan, fasilitas pelayanan masyarakat, tata ruang, hingga kawasan pariwisata.
Bukan Sekadar Mengejar Kemegahan
Bupati Ipuk mengatakan, pembangunan daerah harus memiliki ukuran yang lebih luas daripada sekadar capaian fisik.
Kenyamanan masyarakat, keberlanjutan lingkungan, serta karakter Banyuwangi menjadi bagian penting yang harus diperhatikan sejak proses perencanaan.
“Arsitektur tidak hanya soal kemegahan, tetapi harus berpihak kepada masyarakat. Dengan kolaborasi bersama IAI, kami ingin terus memastikan ruang publik, taman kota, hingga tata ruang wilayah melibatkan arsitek agar pembangunan lebih nyaman, berkelanjutan, dan menyejahterakan masyarakat,” ujar Ipuk.
Menurut dia, Banyuwangi telah menjalankan konsep pembangunan hijau selama lebih dari 14 tahun. Sejumlah bangunan publik di daerah tersebut juga telah melibatkan tenaga arsitek dalam proses perencanaannya.
Karena itu, Pemkab Banyuwangi ingin pembangunan ke depan tetap memiliki karakter kuat tanpa mengesampingkan standar kualitas dan prinsip keberlanjutan.
“Kita ingin pembangunan daerah tetap berkarakter dan tidak kehilangan jati diri, namun pada saat yang sama memenuhi standar kualitas dan keberlanjutan,” tutur Ipuk.
Arsitektur Banyuwangi Dinilai Melompat Pesat
Ketua IAI Jatim Fafan Tri Afandy menyambut kerja sama tersebut sebagai peluang untuk memperkuat ekosistem arsitektur sekaligus mendorong kualitas pembangunan di Banyuwangi.
Menurut Fafan, hubungan antara IAI dan Pemkab Banyuwangi sebenarnya telah berlangsung cukup intens. Kolaborasi yang semakin diperkuat melalui MoU ini dinilai dapat membuka ruang kerja sama yang lebih luas.
“IAI bersama Pemkab Banyuwangi telah lama menjalin kolaborasi yang cukup intens. Kami melihat loncatan perkembangan bidang arsitektur yang cukup pesat di Banyuwangi hingga menjadikannya barometer arsitektur di Indonesia, khususnya di wilayah timur,” kata Fafan.
Ia menilai perkembangan arsitektur Banyuwangi tidak muncul secara tiba-tiba. Salah satu faktor pentingnya adalah konsistensi daerah dalam mengembangkan desain yang mengangkat identitas lokal sekaligus prinsip keberlanjutan.
Dari Identitas Lokal hingga Penghargaan Dunia
Salah satu tonggak yang memperkuat reputasi arsitektur Banyuwangi adalah keberhasilan Bandara Internasional Banyuwangi meraih Aga Khan Award for Architecture.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu pengakuan bergengsi di dunia arsitektur internasional. Capaian itu sekaligus memperlihatkan bahwa identitas lokal dan pendekatan berkelanjutan dapat berjalan beriringan dengan kualitas desain arsitektur modern.
Bagi Banyuwangi, pengalaman tersebut menjadi modal penting untuk membawa prinsip serupa ke berbagai sektor pembangunan.
Kolaborasi Pemkab Banyuwangi dan IAI Jatim diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan MoU. Kerja sama tersebut diarahkan menjadi bagian dari proses membangun ruang yang lebih manusiawi: nyaman digunakan masyarakat, selaras dengan lingkungan, memiliki karakter daerah, dan mampu menjawab kebutuhan Banyuwangi pada masa depan. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin